SAHABAT BARU DI DESA SUNYI
Karya: Alvaro Harits Athaya
Berita Terkait
- JEJAK KABUT DI UJUNG PETA0
- Pembekalan Tugas Dakwah Liburanku Dakwah Liburanku Ibadah0
- SPARTA apresiasi peraih tugas dakwah terbaik!0
- Superflu sudah masuk Indonesia! memangnya bahaya?0
- Workshop dan Coaching Pembelajaran Mendalam Guru SPARTA 0
- Libur Telah Usai, Asatidz SPARTA Evaluasi Kegiatan Semester Ganjil0
- Digital Detox dan Spiritual Charging: Strategi Liburan Santri SPARTA Membangun Al-Qudwah Al-Hasanah 0
- Navigasi Badai SAS Ganjil 2025/2026: Sparta Boarding School Tegaskan Iman dan Akhlak Sebagai Kompas 0
- Menjelang Liburan, Santri SPARTA dapat Bekal Tugas Dakwah0
- Menguatkan Fondasi Agama dan Akhlak: Siswa Sparta Malang Ikuti Kajian Kitab Turats dan Pemantapan 0
Berita Populer
- Persiapan Asesmen Nasional Berbasis Komputer, Santri SPARTA Serius Menghadapi Simulasi ANBK
- Keberangkatan Kontingen Tapak Suci Sparta Menuju Kejurnas Airlangga National Open 2025
- Upacara HUT RI ke-80 di LPI Ar Rohmah Hidayatullah Malang
- SMP Ar Rohmah Gelar Lomba HUT RI ke-80 dengan Semangat Kebersamaan dan Prestasi
- Siap Terbang Tinggi, Tiga Santri Berjuang di Final Round KSN-R 7
- Raih Juara 3, Tim Futsal SPARTA Berjaya di Hidayatullah Festival Olahraga(HiFO) 2024 se Jatim
- SMP AR ROHMAH RAIH PRESTASI GEMILANG DI KEJURNAS TAPAK SUCI 2025
- Dua Santri Sparta Raih Juara KSNR di Tangerang Selatan
- Santri SMP Ar Rohmah Raih Medali Emas dan Perak di Ajang KSNR Tangerang Selatan
- Pawai Maulid Nabi dan Festival Cinta Rasul 2025 Semarak di Ar Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang
Udara sejuk di pagi hari yang cerah menyapa hiruk-pikuk ibu kota. Burung-burung pipit berkicauan dengan merdu, bertengger di dahan pohon mangga yang menaungi jendela kamar. Tepat pada pukul 06.02 WIB, bangunlah seorang gadis cantik bernama Marsha. Ia adalah gadis yang selalu dipenuhi dengan kebahagiaan dan keceriaan di setiap harinya. Di kampusnya, Universitas Angkasa Bolokotono (UAB), Marsha dikenal sebagai salah satu mahasiswi berprestasi sekaligus primadona yang sangat populer.
Marsha beranjak dari kasur empuknya, menggeliat pelan, lalu merapikan seprai dan membersihkan area kamarnya. Setelah semuanya rapi, ia bergegas mandi dan bersiap-siap. Ia mengenakan kemeja modis dan celana kulot yang elegan, menyiapkan tas kuliahnya, lalu turun ke ruang makan. Di meja makan, sarapan hangat sudah disiapkan oleh sang mama.
"Makan yang banyak, Sayang, biar fokus kuliahnya," ucap mamanya lembut.
"Iya, Ma," jawab Marsha sambil mengunyah roti selai stroberinya. Setelah menghabiskan sarapan, Marsha mencium punggung tangan ibunya dan berpamitan.
"Ma, Marsha berangkat dulu, ya!" "Hati-hati di jalan, Nak!" balas mamanya.
Sesampainya di kampus, suasana ramai langsung menyambutnya. Marsha melangkah menyusuri koridor dengan penuh percaya diri.
"Hai, Marsha!"
"Pagi, Marsha!"
Sapaan demi sapaan terdengar dari teman-temannya. Selayaknya mahasiswi populer, Marsha membalas mereka dengan senyuman manis dan lambaian tangan. Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi nyaring hingga ke penjuru kampus.
"Udah bel tuh, Guys. Masuk kelas yuk!" ajak Marsha kepada teman-teman satu gengnya.
Di dalam kelas, suasana terasa sedikit berisik. Marsha dan teman-teman sekelasnya sibuk memperbincangkan rumor yang sedang hangat-hangatnya beredar.
"Eh, Guys, katanya nggak lama lagi angkatan kita bakal dikasih tugas KKN loh," bisik salah satu teman Marsha.
"Apa?! KKN? Kuliah Kerja Nyata yang ke desa-desa itu?" keluh Marsha dengan raut wajah tidak suka. Baginya, KKN terdengar seperti tugas yang sangat membosankan, melelahkan, dan jauh dari kata glamor. Berada di desa tanpa sinyal internet dan fasilitas mewah adalah mimpi buruk bagi anak kota sepertinya.
Di tengah riuhnya obrolan, dosen pembimbing mereka, Pak Karel, melangkah masuk ke dalam kelas dengan membawa setumpuk dokumen. Suasana kelas seketika hening. "Selamat pagi, Mahasiswa sekalian. Hari ini Bapak akan mengumumkan pembagian kelompok dan lokasi untuk program KKN kalian yang akan dimulai minggu depan," ucap Pak Karel tegas.
Jantung Marsha berdegup cepat. Saat namanya dipanggil, ia ditempatkan di Kelompok Tujuh bersama Andre sahabat laki-lakinya yang cukup bisa diandalkan serta tiga teman lainnya. Namun, yang membuat Marsha lemas adalah lokasi penempatan mereka yakni Desa Karanganyar. Itu adalah sebuah desa terpencil yang letaknya di kaki gunung, sangat jauh dari hiruk-pikuk peradaban kota.
Satu minggu berlalu, hari keberangkatan pun tiba. Perjalanan menuju Desa Karanganyar memakan waktu lebih dari delapan jam menggunakan bus kecil yang terus berguncang melewati jalanan berbatu. Marsha terus menggerutu di sepanjang jalan, mengeluhkan udara yang berdebu dan perutnya yang mulai mual.
Menjelang sore, bus akhirnya menurunkan mereka di depan gapura desa yang tampak usang. Suasana di sana sangat sepi. Angin berhembus membawa udara dingin yang menusuk tulang. Anehnya, ketika mereka menyusuri jalanan desa, tidak ada satu pun warga yang terlihat. Jendela-jendela rumah kayu tertutup rapat. Desa itu terasa sangat kosong, seolah tak berpenghuni.
"Kok sepi banget sih, Ndre? Jangan-jangan ini desa mati lagi," bisik Marsha merapatkan jaketnya, merasa sedikit merinding.
"Hush, jangan ngomong sembarangan, Sha," tegur Andre, berusaha tetap tenang meskipun ia sendiri merasa ada yang janggal.
Saat mereka hendak melangkah lebih jauh menuju balai desa, langkah mereka terhenti oleh kemunculan sesosok pemuda dari balik rimbunnya pohon bambu. Pemuda itu memiliki tinggi sekitar 177 sentimeter, berkulit bersih namun tampak kecokelatan karena paparan sinar matahari, dan berambut cokelat gelap. Tatapannya tajam menyelidik.
"Kenging punapa sampeyan-sampeyan dugi mriki? (Ada keperluan apa kalian datang ke sini?)" tegur pemuda itu dengan suara bariton yang cukup mengintimidasi.
Marsha dan teman-temannya saling berpandangan dengan bingung karena sama sekali tidak memahami bahasa Jawa halus (krama) tersebut. Untungnya, Andre yang memiliki garis keturunan Jawa segera maju ke depan.
"Kita ajeng KKN ing ngriki, Mas. (Kita mau KKN di sini, Mas)," jawab Andre dengan sopan.
Pemuda itu mengernyitkan dahi. "Oalah, Mas... Saking laladan pundi puniki, Mas? (Dari daerah mana ini, Mas?)"
"Dari UAB, Mas. Universitas Angkasa Bolokotono," jawab Andre, sedikit ragu apakah pemuda desa ini mengetahui nama kampusnya. Pemuda itu mengangguk pelan, raut wajahnya sedikit melunak.
"Ooo... dulu juga dari sana udah ada yang pernah KKN di sini juga. Oh iya, Mas namanya siapa, ya?" Andre menghela napas lega karena pemuda itu ternyata fasih berbahasa Indonesia.
"Saya Andre. Kalau Masnya?"
"Saya Ryan. Saya perwakilan Karang Taruna yang biasanya menyambut orang-orang KKN di desa ini," jawab Ryan.
Perkenalan awal itu membawa mereka menuju penginapan sederhana yang telah disediakan. Sebuah rumah kayu kosong milik mantan kepala desa. Namun, di sinilah konflik sesungguhnya baru dimulai.
Sejak hari pertama KKN, Marsha menunjukkan sikap yang kurang bersahabat. Ia sering mengeluh tentang air sumur yang sedingin es, kasur yang keras, dan tidak adanya sinyal internet. Sikap arogan Marsha membuat warga desa yang awalnya sudah apatis menjadi semakin enggan berinteraksi dengan kelompok mereka. Ternyata, menurut cerita Ryan, warga Desa Karanganyar memiliki trauma dengan kelompok KKN dari kampus lain beberapa tahun lalu yang bersikap tidak sopan dan pernah merusak fasilitas desa.
Puncaknya terjadi pada minggu kedua. Kelompok Andre dan Marsha telah merancang sebuah program kerja utama: membangun fasilitas perpustakaan mini dan ruang belajar di balai desa untuk anak-anak setempat. Mereka sudah menyebarkan undangan ke seluruh penjuru desa agar warga bersedia datang bergotong royong pada hari Minggu pagi.
Namun, saat hari yang ditentukan tiba, tak ada satu pun warga yang datang. Di sana hanya ada Ryan yang berdiri bersandar santai di tiang balai desa.
"Ke mana semua orang, Ryan?! Kami sudah menyiapkan semua bahan bangunannya!" protes Marsha dengan nada tinggi, keringat membasahi dahinya. Ryan menatap Marsha dengan dingin.
"Warga tidak akan mau membantu orang-orang yang bahkan tidak mau repot-repot tersenyum dan menyapa mereka saat berpapasan di jalan. Kalian pikir karena kalian orang kota berpendidikan, kalian bisa datang ke sini dan bertingkah seperti bos? Di desa ini, sopan santun dan adab jauh lebih dihargai daripada gelar sarjana."
Kata-kata tajam Ryan menusuk tepat di ulu hati Marsha. Ego gadis kota itu terluka parah. "Kalau mereka nggak mau bantu, ya sudah! Aku juga capek berada di desa antah-berantah ini. Aku mau pulang saja!" teriak Marsha sembari berbalik dan berlari sambil menangis menuju rumah penginapan.
Andre segera menyusul Marsha, mencoba menenangkannya. Di teras belakang rumah kayu itu, Marsha menangis tersedu-sedu.
"Kamu salah, Sha," ucap Andre lembut namun tegas.
"Ryan benar. Kita datang ke sini untuk mengabdi, bukan untuk dilayani. Kita harus melebur dengan mereka, bukan malah membangun tembok pembatas. Turunkan egomu, Sha. Kamu pemimpin yang pintar di kampus, buktikan kalau kamu juga bisa menggunakan kepintaranmu itu untuk merangkul orang lain."
Nasihat Andre membuat Marsha merenung semalaman penuh. Ia perlahan menyadari betapa egois dan kekanak-kanakannya sikapnya selama ini.
Keesokan harinya, langit mendung pekat menggelayuti Desa Karanganyar. Menjelang siang, badai hujan yang sangat lebat turun mengguyur desa. Angin kencang menerjang, membuat atap balai desa yang sudah lapuk tiba-tiba bocor parah. Padahal, di dalam balai desa tersebut tersimpan puluhan kardus berisi buku-buku pelajaran sekolah yang baru saja didonasikan untuk anak-anak desa.
Melihat kepanikan dari jendela penginapannya, Marsha tidak berpikir dua kali. Ia membuang jauh-jauh rasa jijiknya pada lumpur dan kotoran. Tanpa memakai jas hujan, Marsha berlari menembus badai menuju balai desa. Di sana, Ryan dan beberapa bapak-bapak sedang kewalahan menutupi kardus-kardus buku dengan terpal seadanya.
"Ryan! Biar aku bantu pindahkan kardus-kardusnya ke area yang kering!" teriak Marsha melawan deru angin dan hujan.
Ryan terbelalak kaget melihat gadis kota yang biasanya takut kotor itu kini basah kuyup, mengangkat kardus-kardus berat yang penuh debu dan air. Andre dan teman-teman sekelompoknya pun ikut berlari menyusul dan turut membantu.
Marsha bekerja keras tanpa henti, kakinya berlumuran lumpur, pakaiannya sangat kotor, dan rambutnya lepek. Ia bahkan tak sengaja terpeleset dan jatuh terduduk di genangan air lumpur, namun ia langsung bangkit sambil tertawa lepas, membuat warga yang melihatnya ikut tersenyum.
Melihat kegigihan dan ketulusan Marsha beserta teman-temannya yang rela berkorban di tengah badai demi menyelamatkan buku-buku milik anak desa, hati warga akhirnya luluh. Dinding pembatas yang selama ini berdiri kokoh itu runtuh seketika.
Sejak insiden badai tersebut, segalanya berubah total. Marsha mulai merendahkan hatinya. Setiap pagi, ia bangun lebih awal untuk ikut ibu-ibu desa memetik sayur di kebun. Ia menyapa setiap warga dengan senyuman tulus, belajar beberapa kosakata bahasa Jawa dari Ryan, dan mengajar anak-anak mengaji di musala. Warga desa pun menyambut kelompok mahasiswa itu dengan tangan terbuka.
Program pembangunan perpustakaan mini yang sempat gagal akhirnya kembali dilanjutkan. Kali ini, puluhan warga desa datang berbondong-bondong membawa perkakas, makanan ringan, dan kopi hangat. Marsha, Andre, Ryan, dan seluruh warga bergotong royong diiringi canda tawa. Suasana yang tadinya sepi dan canggung berubah menjadi sangat hangat dan penuh kekeluargaan.
Empat minggu masa KKN berlalu tanpa terasa. Seluruh program kerja mulai dari riset, perancangan, pelaksanaan, hingga evaluasi dan pelaporan telah berhasil diselesaikan dengan hasil yang sangat memuaskan.
Kini tibalah saat yang paling berat: perpisahan. Bus kecil yang akan membawa kelompok KKN kembali ke kota sudah terparkir di depan gapura desa. Seluruh warga Karanganyar berkumpul untuk melepas kepergian mereka. Banyak ibu-ibu yang menangis terisak sambil memeluk Marsha erat-erat.
"Sering-sering main ke sini ya, Nduk Marsha," ucap salah seorang ibu sambil memberikan bingkisan berisi pisang dan hasil panen kebun lainnya.
"Pasti, Bu. Marsha pasti bakal kangen banget sama kebaikan warga di sini," jawab Marsha dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Ryan berjalan menghampiri Marsha, tersenyum simpul dengan tatapan yang jauh lebih hangat dari pertemuan pertama mereka. "Maaf kalau dulu aku sempat meragukanmu, Sha. Ternyata kamu gadis yang sangat hebat dan tangguh. Terima kasih atas semua bantuan kalian untuk desa ini."
Marsha membalas senyuman Ryan sambil mengusap air matanya. "Aku yang berterima kasih, Ryan. Kamu dan warga desa ini sudah mengajariku arti kehidupan yang sesungguhnya. Terima kasih sudah menjadi sahabat baruku."
Mereka pun berpamitan dan naik ke dalam bus. Seiring berputarnya roda kendaraan itu meninggalkan kawasan desa, Marsha menatap hamparan sawah dari balik kaca jendela. Tangan melambai, mengiringi sebuah perpisahan yang sangat manis.
Kembali ke ibu kota, Marsha bukanlah lagi primadona kampus yang manja dan hanya mementingkan ego serta penampilannya semata. Ia pulang sebagai seorang mahasiswi sejati yang memiliki empati, kedewasaan, dan segudang pengalaman berharga. Tugas KKN yang awalnya ia anggap sebagai sebuah mimpi buruk, ternyata justru menjadi hadiah terindah yang memberikannya keluarga baru dan sahabat-sahabat sejati yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
~ TAMAT ~




