PERSAHABATAN KALA PERBEDAAN
Karya: Zaidan Althaf Jauhari
Berita Terkait
- PETUALANGAN IMAM KIMPUL DAN MISTERI PULAU 80
- DENDAM YANG TAK PERNAH PADAM0
- DUA SISI SENJA0
- DI BAWAH PANJI VOCA0
- JANJI DI BAWAH RINTIK HUJAN 0
- HARI BARU, KEBERANIAN BARU0
- BUKAN SEKADAR PUNCAK0
- BUKAN SEKADAR TEMAN0
- JEJAK KENANGAN DI BAWAH BAYANG ARJUNO0
- PERSAHABATAN DI TENGAH BISINGNYA JAKARTA 0
Berita Populer
- Persiapan Asesmen Nasional Berbasis Komputer, Santri SPARTA Serius Menghadapi Simulasi ANBK
- Keberangkatan Kontingen Tapak Suci Sparta Menuju Kejurnas Airlangga National Open 2025
- Upacara HUT RI ke-80 di LPI Ar Rohmah Hidayatullah Malang
- SMP Ar Rohmah Gelar Lomba HUT RI ke-80 dengan Semangat Kebersamaan dan Prestasi
- Siap Terbang Tinggi, Tiga Santri Berjuang di Final Round KSN-R 7
- Raih Juara 3, Tim Futsal SPARTA Berjaya di Hidayatullah Festival Olahraga(HiFO) 2024 se Jatim
- SMP AR ROHMAH RAIH PRESTASI GEMILANG DI KEJURNAS TAPAK SUCI 2025
- Dua Santri Sparta Raih Juara KSNR di Tangerang Selatan
- Santri SMP Ar Rohmah Raih Medali Emas dan Perak di Ajang KSNR Tangerang Selatan
- Pawai Maulid Nabi dan Festival Cinta Rasul 2025 Semarak di Ar Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang
PERSAHABATAN KALA PERBEDAAN
Karya: Zaidan Althaf Jauhari
Hari ini, waktu menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Matahari sudah menyingsing dari ufuk timur, memancarkan sinarnya yang hangat menembus celah gorden jendela kamar seorang gadis remaja. Namun, sang pemilik kamar ternyata masih terlelap nyaman di balik selimut tebalnya. Gadis itu bernama Tsukasa. Semalam suntuk ia begadang untuk menyelesaikan proposal kegiatan bakti sosial sekolahnya, yang kini lembaran kertasnya berserakan kocar-kacir di atas lantai karpet berbulunya.
Tiba-tiba, sebuah seruan nyaring terdengar dari arah dapur di lantai bawah. "Tsukasa! Ayo bangun, Sayang! Katanya kamu harus kumpul untuk berangkat ke desa jam delapan pagi?!"
Suara melengking sang ibu sontak membuat Tsukasa terperanjat. Ia terbangun dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul. Dengan langkah linglung, ia meninggalkan kasur mewahnya yang berukuran king-size. Matanya yang masih menyipit melirik ke arah jam dinding antik di atas pintu. Jarum jam tepat menunjuk angka 07.30! "Astaga! Mama kok tidak bangunin aku dari tadi sih?!" jerit Tsukasa panik.
Dengan gerakan terburu-buru, ia menyambar handuk di gantungan dan berlari menuju kamar mandi. Selesai mandi kilat dan berganti dengan pakaian kasual yang rapi, Tsukasa setengah berlari menuruni tangga pualam di rumahnya menuju ruang makan.
Setibanya di sana, ia disambut oleh senyuman hangat seorang wanita cantik yang mengenakan celemek berbahan sutra mahal. Kulit ibunya begitu putih bersih, nyaris senada dengan warna celemek yang dikenakannya. Di seberang meja, duduk sesosok pria paruh baya yang sedang asyik membaca koran pagi. Pria itu mengenakan setelan jas hitam rapi, tampak sangat berwibawa layaknya seorang bos besar di sebuah perusahaan industri pakaian ternama.
Sang ayah melipat korannya perlahan saat melihat putri semata wayangnya muncul dengan napas tersengal. Senyum ramah menghiasi wajahnya, memancarkan kehangatan seorang ayah.
"Selamat pagi, Tuan Putri. Kau bangun terlambat lagi hari ini. Bila kau terus meneruskan kebiasaan burukmu itu, kau tidak akan bisa tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri," tegur ayahnya dengan nada lembut namun penuh makna.
Sang ibu yang sedang mengambilkan sepiring nasi ikut menimpali. "Sudah, jangan goda anakmu terus, Pa. Ayo, Tsukasa, cepat sarapan. Sopir sudah memanaskan mobil di depan."
Tsukasa mengunyah sarapannya secepat kilat. Ia langsung berpamitan, mencium punggung tangan kedua orang tuanya, dan melesat masuk ke dalam mobil. Perjalanan menuju titik kumpul rombongan sekolahnya memakan waktu singkat berkat kepiawaian sang sopir menerobos kemacetan kota. Tsukasa berhasil tiba tepat waktu dan bergabung dengan teman-temannya di dalam bus pariwisata.
Rombongan bakti sosial itu dipimpin oleh Kak Hitoshi, seorang senior yang sangat disiplin. Tujuan mereka adalah Desa Sukamaju, sebuah desa terpencil yang terletak di kaki gunung, jauh dari hiruk-pikuk dan kemewahan kota metropolitan.
Setelah menempuh perjalanan selama empat jam melewati jalanan yang berkelok-kelok dan menanjak, bus akhirnya berhenti di pelataran balai desa. Udara sejuk dan aroma tanah basah langsung menyambut kedatangan mereka. Namun, bagi Tsukasa yang terbiasa dengan fasilitas serba mewah, kondisi desa ini cukup membuatnya canggung. Tidak ada sinyal internet, jalanan masih berupa tanah berbatu, dan fasilitas sanitasi sangat minim.
Siang itu, rombongan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan observasi dan pendataan warga. Tsukasa mendapatkan tugas untuk menyusuri area pinggiran hutan desa. Karena terlalu asyik memotret sebuah bunga anggrek liar yang sangat indah dengan kamera ponselnya demi konten media sosial, Tsukasa tidak menyadari bahwa ia telah berjalan terlalu jauh memisahkan diri dari kelompoknya.
Ketika ia berbalik, pemandangan di sekelilingnya hanyalah pepohonan pinus yang menjulang tinggi. Teman-temannya sudah tidak terlihat di mana pun. "Kak Hitoshi? Teman-teman? Kalian di mana?!" teriak Tsukasa.
Hanya gema suaranya sendiri yang memantul di antara pepohonan. Kepanikan mulai merayapi hati gadis kota itu. Ia mencoba mencari jalan kembali, namun setiap persimpangan hutan terlihat sama persis. Buruknya lagi, awan mendung pekat yang sejak tadi menggantung di atas gunung tiba-tiba menumpahkan hujan yang teramat sangat lebat. Petir menyambar dengan suara menggelegar, membuat Tsukasa menjerit ketakutan.
Dalam usahanya mencari tempat berteduh, Tsukasa berlari tanpa arah hingga ia tergelincir di sebuah lereng berlumpur yang licin. Pakaian mahalnya kotor dipenuhi tanah cokelat. Lututnya tergores akar pohon hingga berdarah. Saat ia meringis menahan sakit dan mencoba bangkit, sebuah ancaman yang jauh lebih menakutkan muncul di depan mata.
Dari balik semak belukar, seekor anjing liar berukuran besar dengan bulu kusut masai dan taring menyeringai tajam melangkah perlahan ke arahnya. Anjing itu menggeram rendah, bersiap untuk menerkam gadis malang yang sedang ketakutan itu.
"Tolong! Siapa saja, tolong aku!" jerit Tsukasa, menutup matanya rapat-rapat, pasrah pada nasibnya.
Namun, alih-alih merasakan gigitan taring, Tsukasa justru mendengar suara lemparan batu yang sangat keras diikuti oleh lengkingan anjing tersebut. "Hei! Pergi kau! Hus, hus!" teriak sebuah suara anak laki-laki.
Tsukasa membuka matanya perlahan. Di depannya, berdiri seorang pemuda desa sebayanya yang memegang sebatang ranting kayu tebal. Dengan gerakan berani dan taktis, pemuda itu terus menggertak dan berhasil mengusir anjing liar tersebut hingga lari terbirit-birit ke dalam hutan. Pemuda itu kemudian berbalik, membuang rantingnya, dan mengulurkan tangannya yang kasar kepada Tsukasa.
"Kamu tidak apa-apa? Ayo cepat bangun, hujannya semakin deras. Kita harus segera mencari tempat berteduh!" ucapnya dengan raut wajah khawatir. Tsukasa yang masih syok hanya bisa mengangguk dan menerima uluran tangan itu. Pemuda itu memapahnya berjalan menembus hujan lebat menuju sebuah gubuk kayu kecil yang terletak tak jauh dari pinggiran hutan.
Sesampainya di dalam gubuk sederhana itu, pemuda tersebut menyodorkan sebuah handuk bersih namun usang kepada Tsukasa. "Namaku Nasa. Aku tinggal sendirian di sini. Bersihkan dan keringkan dirimu dulu, aku akan membuatkan teh hangat," katanya dengan sangat ramah.
Sambil mengeringkan rambutnya, Tsukasa memperhatikan sekeliling ruangan. Gubuk itu sangat kecil, atapnya terbuat dari anyaman daun rumbia, dan perabotannya sangat minim. Namun, tempat itu sangat bersih dan tertata rapi.
"Kamu bilang kamu tinggal sendirian? Di mana orang tuamu?" tanya Tsukasa pelan setelah Nasa memberinya secangkir teh panas.
Nasa tersenyum getir. "Orang tuaku sudah meninggal dunia sejak aku masih kecil. Sejak saat itu, aku hidup sebatang kara, bekerja serabutan membantu warga desa untuk bertahan hidup."
Mendengar hal itu, hati Tsukasa mencelos. Selama ini ia sering mengeluh tentang hal-hal sepele di rumah mewahnya, sementara di hadapannya ada seorang pemuda tangguh yang harus berjuang mati-matian hanya untuk bisa makan keesokan harinya.
Namun, ujian malam itu ternyata belum berakhir. Hujan di luar bukannya mereda, melainkan berubah menjadi badai angin yang dahsyat. Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh yang sangat mengerikan dari arah bukit di belakang gubuk.
"Tanah longsor!" teriak Nasa panik.
Lumpur cair dan bebatuan mulai menghantam bagian belakang gubuk, membuat dinding kayunya berderit retak dan air kotor merembes masuk dengan deras. Kepanikan seketika melanda.
"Tsukasa, bantu aku menahan pintu belakang dengan lemari meja itu! Kalau dinding kayunya sampai jebol, gubuk ini bisa tersapu lumpur seutuhnya!" perintah Nasa sambil mengerahkan seluruh tenaganya mendorong sebuah meja kayu tebal.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Tsukasa menyingkirkan segala sifat manja dan gengsinya. Dengan gaun kotor dan tangan yang gemetar hebat, ia ikut mendorong meja tersebut sekuat tenaga bersama Nasa. Mereka berjuang mati-matian melawan amukan alam yang brutal. Lumpur membasahi kaki mereka, hawa dingin menusuk tulang, namun tekad mereka berdua menyatu menjadi satu kekuatan.
"Tahan, Tsukasa! Sedikit lagi!" teriak Nasa memberikan semangat.
Setelah perjuangan panjang selama hampir dua jam yang terasa seperti selamanya, hujan akhirnya mulai mereda. Aliran lumpur dari bukit pun berhenti total. Tsukasa dan Nasa jatuh terduduk di atas lantai yang basah, napas mereka terengah-engah memburu udara. Mereka saling memandang, lalu tawa lega meledak dari bibir keduanya.
Malam itu, di tengah dinginnya sisa badai, Tsukasa menemukan arti persahabatan sejati. Mereka menghabiskan waktu bertukar cerita, tertawa bersama, dan bahkan merencanakan cara konyol untuk mengagetkan balik anjing liar yang tadi mengejar Tsukasa, andai saja mereka bertemu anjing itu lagi esok hari.
Keesokan paginya, sinar mentari menyusup masuk melalui celah dinding gubuk. Tsukasa terbangun seperti biasa, namun kali ini Nasa membangunkannya dengan ekspresi lega bercampur sedih di wajahnya.
"Hei, Tsukasa, ayo bangun! Sepertinya rombonganmu kembali ke sini untuk mencarimu," ucap Nasa. "Hah? Benarkah?!" Tsukasa segera bangkit dan berlari ke luar beranda gubuk.
Benar saja, dari kejauhan ia langsung disambut oleh teman-temannya dengan pelukan hangat. Kak Hitoshi yang memimpin pencarian berlari menghampirinya dengan wajah penuh kepanikan yang mereda.
"Hei! Tsukasa! Bisa-bisanya kamu tertinggal dan tersesat di sini! Orang tuamu di kota sudah sangat khawatir, tahu!" omel Kak Hitoshi yang langsung memeluk Tsukasa dengan erat begitu tiba di depannya.
"Maafkan aku, Kak. Aku tersesat semalam. Untung saja Nasa menyelamatkanku dari anjing liar dan badai longsor," jelas Tsukasa menunjuk pemuda di belakangnya. Kak Hitoshi segera menghampiri Nasa dan menjabat tangannya erat-erat untuk mengucapkan terima kasih.
Setelah drama pertemuan yang penuh haru itu selesai, Tsukasa mulai mengemas barang-barangnya untuk kembali naik ke bus. Namun, saat kakinya hendak melangkah, hatinya terasa sangat berat. Ia teringat pada Nasa. Pemuda yang luar biasa itu akan kembali hidup sebatang kara, berjuang melawan kerasnya dunia sendirian di gubuk reot ini jika Tsukasa kembali ke kota.
Tsukasa pun berpikir keras, hingga sebuah ide brilian muncul di kepalanya. Ia berbalik dan berlari menghampiri Nasa.
"Oh ya! Hei, Nasa! Kamu mau tidak ikut aku ke kota?" tawar Tsukasa dengan senyum yang sangat lebar.
"Tenang saja! Orang tuaku itu sangat baik, kok! Mereka pasti mau menerima kamu tinggal di rumahku. Apalagi kamu itu orang yang sangat baik dan jago melakukan apa pun!"
Mendengar pertanyaan yang sama sekali tak terduga itu, Nasa terbelalak kaget. Ia terdiam selama beberapa saat, menimbang-nimbang keputusan terbesarnya. Harapan akan masa depan yang lebih cerah dan keluarga baru seolah terbuka lebar di depan matanya.
Perlahan, senyum tulus mengembang di wajah pemuda itu. Ia membalas tatapan Tsukasa dengan mata berbinar.
"Oke. Aku mau," jawab Nasa mantap.
"Tapi tunggu sebentar ya, aku harus mengemas barang-barang berhargaku dulu."
Nasa pun bergegas pergi ke dalam rumah. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa barang bawaan yang cukup banyak peninggalan orang tuanya. Tsukasa menyambutnya dengan tawa riang. Mereka berdua pun berjalan beriringan, lalu masuk ke dalam bus bersama-sama.
Kisah persahabatan mereka yang hidup dan bertahan di kerasnya alam desa pun selesai, dan kini siap diganti dengan lembaran petualangan baru di tengah gemerlapnya kota.
~ TAMAT ~




