ES TEH TERAKHIR PAK SOMAD
Karya: Rizky Raffandi Ahmad
Berita Terkait
- ASRAMA NOMOR 99 0
- SAHABAT BARU DI DESA SUNYI 0
- JEJAK KABUT DI UJUNG PETA0
- Pembekalan Tugas Dakwah Liburanku Dakwah Liburanku Ibadah0
- SPARTA apresiasi peraih tugas dakwah terbaik!0
- Superflu sudah masuk Indonesia! memangnya bahaya?0
- Workshop dan Coaching Pembelajaran Mendalam Guru SPARTA 0
- Libur Telah Usai, Asatidz SPARTA Evaluasi Kegiatan Semester Ganjil0
- Digital Detox dan Spiritual Charging: Strategi Liburan Santri SPARTA Membangun Al-Qudwah Al-Hasanah 0
- Navigasi Badai SAS Ganjil 2025/2026: Sparta Boarding School Tegaskan Iman dan Akhlak Sebagai Kompas 0
Berita Populer
- Persiapan Asesmen Nasional Berbasis Komputer, Santri SPARTA Serius Menghadapi Simulasi ANBK
- Keberangkatan Kontingen Tapak Suci Sparta Menuju Kejurnas Airlangga National Open 2025
- Upacara HUT RI ke-80 di LPI Ar Rohmah Hidayatullah Malang
- SMP Ar Rohmah Gelar Lomba HUT RI ke-80 dengan Semangat Kebersamaan dan Prestasi
- Siap Terbang Tinggi, Tiga Santri Berjuang di Final Round KSN-R 7
- Raih Juara 3, Tim Futsal SPARTA Berjaya di Hidayatullah Festival Olahraga(HiFO) 2024 se Jatim
- SMP AR ROHMAH RAIH PRESTASI GEMILANG DI KEJURNAS TAPAK SUCI 2025
- Dua Santri Sparta Raih Juara KSNR di Tangerang Selatan
- Santri SMP Ar Rohmah Raih Medali Emas dan Perak di Ajang KSNR Tangerang Selatan
- Pawai Maulid Nabi dan Festival Cinta Rasul 2025 Semarak di Ar Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang
Siang itu, matahari seakan turun sejengkal di atas ubun-ubun kota Surabaya. Udara panas yang menggenang membuat aspal jalanan tampak bergelombang seperti fatamorgana di tengah padang pasir. Di dalam sebuah kamar yang pengap, terbaringlah seorang pemuda bernama Adi. Waktu menunjukkan pukul 12.38 siang, titik kulminasi di mana neraka dunia terasa paling nyata.
Adi berbaring telentang di atas lantai keramik yang tak lagi terasa dingin. Di sekelilingnya, lima buah kipas angin menyala dalam kecepatan maksimal, memutar udara panas dari satu sudut ke sudut lainnya. Tidak hanya itu, tiga buah Air Conditioner (AC) menyemburkan angin bertenaga penuh dari dinding kamarnya. Namun, segala teknologi pendingin ruangan itu terasa sia-sia belaka. Keringat sebesar biji jagung terus mengucur deras dari pelipis pemuda itu.
"Argh! Sialan! Kenapa rasanya seperti dipanggang hidup-hidup di dalam oven raksasa?!" erang Adi dengan suara parau, menatap langit-langit kamarnya yang seolah ikut memancarkan hawa panas.
"Begini amat rasanya hidup di Surabaya saat musim kemarau!"
Di saat Adi sedang meratapi nasibnya yang kepanasan, sebuah ledakan dahsyat tiba-tiba mengguncang rumahnya.
DUAAARRR!
Pintu ruang tamu rumah Adi meledak dan hancur berkeping-keping, menyebarkan debu dan serpihan kayu ke segala arah. Dari balik kepulan asap hitam pekat itu, terdengar suara derap langkah kaki yang berat dan terburu-buru. Sesosok bayangan muncul, perlahan menampakkan wujud aslinya. Ia adalah Hadi, sahabat karib Adi sejak mereka masih mengenakan seragam merah putih.
Adi terbatuk-batuk mengusap debu dari matanya. Ia menatap sahabatnya itu dengan pandangan tak percaya. "Hadi?! Apa-apaan yang baru saja kau lakukan, Hah?! Kenapa kau datang kemari dan meledakkan pintu rumahku dengan bom rakitanmu?!" teriak Adi setengah frustrasi.
Hadi berdiri tegak, membusungkan dadanya sejenak sebelum raut wajahnya berubah menjadi kebingungan. "Kau heran mengapa aku datang kemari? Kau bertanya-tanya apa tujuanku menghancurkan pintumu? Jawabannya adalah karena... karena... eh, tunggu sebentar. Kok aku lupa, ya?" gumam Hadi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sukses merusak momen dramatis yang baru saja ia ciptakan.
Adi menepuk jidatnya dengan keras, nyaris pingsan menghadapi kelakuan absurd sahabatnya itu. "Terserah kau sajalah! Otakmu memang sudah menguap karena kepanasan! Intinya, kau bawa uang tidak? Tenggorokanku sudah kering kerontang. Aku mau beli es teh segar di warung depan!"
Mendengar kata 'es teh', mata Hadi seketika terbelalak lebar. Ingatannya kembali seperti kilatan petir. "Oh iya! Aku baru ingat tujuan utamaku kemari! Adi, gawat! Semua toko, warung, hingga swalayan yang menjual es teh di seluruh penjuru Surabaya sudah diborong habis!"
"A... APA?!" pekik Adi tak percaya. Ia melompat dari lantai dan langsung mencengkeram kerah baju Hadi.
"Diborong habis katamu?! Siapa orang gila yang berani memborong semua sumber kehidupan kita di cuaca sepanas ini?!"
"Itulah masalahnya!" sahut sebuah suara bariton yang berat dan serak dari arah ambang pintu yang hancur.
Adi dan Hadi serentak menoleh. Di sana, berdirilah seorang pria paruh baya yang mengenakan caping bambu dan kemeja batik usang. Wajahnya dipenuhi keriput yang memancarkan kebijaksanaan, namun matanya menatap tajam penuh dengan peringatan bahaya.
"Siapa Bapak?" tanya Adi kebingungan, perlahan melepaskan cengkeramannya dari kerah Hadi.
"Namaku Somad. Orang-orang biasa memanggilku Pak Somad," jawab pria misterius itu seraya melangkah masuk.
"Aku adalah peracik es teh legendaris dari dimensi lain. Aku datang ke sini karena keseimbangan alam semesta sedang terancam."
Pak Somad kemudian berjalan menuju jendela yang pecah, menatap langit Surabaya yang terik dengan pandangan sendu. "Kalian harus tahu, es teh bukanlah sekadar racikan air, daun teh, dan gula. Selain menyegarkan, es teh memiliki nilai budaya dan spiritual yang sangat kuat bagi kelangsungan hidup umat manusia. Minuman ini adalah pelengkap wajib penawar dahaga yang mampu meredam hawa panas dan emosi jiwa. Daun teh mengandung antioksidan polifenol yang menangkal radikal bebas, memberikan ketenangan, dan menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Fleksibilitasnya saat dikreasikan dengan perasan jeruk nipis, madu, atau daun mint adalah simbol dari keharmonisan dunia ini."
"Lalu, apa hubungannya dengan es teh yang habis diborong di Surabaya, Pak?" potong Hadi yang mulai tidak sabar dengan kuliah singkat mengenai teh tersebut.
"Pelakunya adalah Anomali 67," jawab Pak Somad dengan nada kelam.
"Ia adalah entitas monster iblis yang tercipta dari kebencian dan hawa panas ekstrem. Anomali 67 telah memborong dan menyerap semua es teh di kota ini untuk memonopoli kesegaran dunia. Jika ia tidak segera dihentikan, seluruh umat manusia akan mati kehausan dalam kekeringan abadi."
Pak Somad lalu mengeluarkan sebuah botol kaca berkilauan dari balik bajunya. Di dalamnya, terdapat cairan berwarna cokelat keemasan yang memancarkan hawa dingin luar biasa. Embun beku menetes perlahan dari dinding luar botol tersebut.
"Ini adalah Es Teh Pak Somad Terakhir di Dunia. Minuman ini adalah satu-satunya senjata pamungkas yang bisa mendinginkan inti api Anomali 67. Namun, aku sudah terlalu tua dan lemah untuk bertarung. Aku butuh kalian berdua, para pemuda pemberani, untuk menghancurkan monster itu!"
"Baiklah, Pak Somad! Demi es teh dan kesejukan dunia, kami akan melakukannya!" seru Adi dengan semangat membara. Namun, saat mereka berkedip, wujud Pak Somad sudah menghilang tak berbekas dari hadapan mereka.
"Eh... lah? Bapaknya hilang ke mana?" gumam Adi menggaruk kepalanya yang kebingungan.
"Sudahlah, Adi! Jangan pedulikan itu! Gas, kita hancurkan Anomali 67 sekarang juga!" teriak Hadi tak kalah bersemangat.
Berbekal petunjuk telepati terakhir yang ditinggalkan oleh Pak Somad, Adi dan Hadi meluncur menuju pusat kota. Mereka menemukan sarang Anomali 67 di dalam sebuah pabrik es yang telah terbengkalai. Saat mereka mendobrak masuk, hawa panas yang setara dengan kawah gunung berapi langsung menyapu wajah mereka berdua.
Di tengah ruangan raksasa itu, berdirilah Anomali 67. Makhluk itu berbentuk seperti raksasa magma yang tubuhnya terus mendidih dan menyala merah. Di sekelilingnya, ribuan galon es teh curian sedang dipanaskan hingga menguap menjadi asap uap panas.
"Kalian pikir kalian bisa menghentikanku, manusia fana?!" raung Anomali 67, suaranya terdengar seperti air yang mendesis di atas besi panas. Makhluk itu mengayunkan lengan raksasanya, menembakkan bola-bola api yang mematikan ke arah Adi dan Hadi.
"Hadi, sekarang!" teriak Adi memberi komando. Hadi yang memang sudah menyiapkan tas ransel berisi sisa bom rakitannya, langsung berlari zig-zag menghindari bola api tersebut.
"Rasakan ini, Monster Haus!" teriak Hadi sambil melemparkan tiga buah bom secara berturut-turut ke arah kaki sang raksasa magma.
BLAARRR!
Ledakan hebat itu sukses menghancurkan pijakan Anomali 67, membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut hingga menimbulkan gempa kecil.
Melihat celah emas tersebut, Adi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia memegang botol 'Es Teh Terakhir' pemberian Pak Somad erat-erat di tangan kanannya. Ia memusatkan seluruh sisa tenaganya, melawan hawa panas yang nyaris membakar kulit wajahnya, lalu berlari dan melompat tinggi ke udara.
Sesuai dengan tata cara rahasia yang sempat dijelaskan oleh Pak Somad, Adi membuka tutup botol tersebut dan mengayunkannya tepat ke arah rongga dada magma sang monster.
"Ini untuk dahaga seluruh warga Surabaya! TERIMALAH KESEGARAN HAKIKI INI!" teriak Adi menggelegar ke seantero pabrik.
Begitu tetesan pertama dari Es Teh Pak Somad menyentuh inti magma Anomali 67, sebuah reaksi berantai yang luar biasa terjadi. Suara mendesis yang sangat memekakkan telinga bergema. Cahaya biru es meledak terang dari dalam tubuh sang monster. Anomali 67 menjerit kesakitan saat tubuh magmanya dibekukan secara paksa dengan sangat cepat, berubah wujud menjadi bongkahan es batu raksasa beraroma teh yang kemudian hancur berkeping-keping menjadi serpihan salju manis yang berjatuhan ke lantai.
Pertarungan pun berakhir. Hawa panas yang mencekik di dalam pabrik itu seketika sirna, digantikan oleh hembusan udara yang sangat sejuk dan aroma wangi melati yang menyegarkan dahaga. Ribuan galon es teh yang sebelumnya mendidih kini kembali menjadi dingin membeku, siap untuk dikembalikan kepada warga kota yang sedang kehausan.
Adi dan Hadi jatuh terduduk di lantai pabrik dengan napas tersengal-sengal. Mereka saling berpandangan, lalu tertawa lepas kegirangan. Dari sisa tetesan di botol legendaris milik Pak Somad itu, mereka membaginya berdua. Saat cairan es teh itu membasahi tenggorokan mereka, sensasi dingin luar biasa yang sangat menenangkan langsung menyebar ke seluruh aliran darah, menghapus segala dahaga, kepanasan, dan kelelahan mereka seketika. Misi menyelamatkan dunia telah berhasil diselesaikan dengan sempurna.
Namun, kedamaian di alam semesta ini hanyalah sebuah ilusi yang bersifat sementara. Jauh dari bumi, di sudut sebuah galaksi yang amat gelap dan mencekam, sepasang mata merah menyala terang di dalam kehampaan tata surya. Sesosok anomali baru yang jauh lebih kuno, lebih kuat, dan teramat sangat mengerikan, perlahan bangkit dari tidur panjangnya. Entitas kosmik raksasa itu mulai mengarahkan pandangannya yang mengancam ke arah planet Bumi. Ia adalah... MAS RUSDI.
Perjuangan Adi dan Hadi mungkin telah usai di Surabaya, namun sebuah badai petualangan yang sesungguhnya baru saja bersiap untuk menghantam umat manusia.




