MALING!!!!!!!
Karya: Arkan Ghifari Imansyah
Berita Terkait
- AWAN DI ATAS PUNCAK 0
- DI ANTARA SENJA YANG BELAJAR BERTAHAN 0
- NARA0
- AMBISI DI UJUNG PENA0
- ES TEH TERAKHIR PAK SOMAD0
- ASRAMA NOMOR 99 0
- SAHABAT BARU DI DESA SUNYI 0
- JEJAK KABUT DI UJUNG PETA0
- Pembekalan Tugas Dakwah Liburanku Dakwah Liburanku Ibadah0
- SPARTA apresiasi peraih tugas dakwah terbaik!0
Berita Populer
- Persiapan Asesmen Nasional Berbasis Komputer, Santri SPARTA Serius Menghadapi Simulasi ANBK
- Keberangkatan Kontingen Tapak Suci Sparta Menuju Kejurnas Airlangga National Open 2025
- Upacara HUT RI ke-80 di LPI Ar Rohmah Hidayatullah Malang
- SMP Ar Rohmah Gelar Lomba HUT RI ke-80 dengan Semangat Kebersamaan dan Prestasi
- Siap Terbang Tinggi, Tiga Santri Berjuang di Final Round KSN-R 7
- Raih Juara 3, Tim Futsal SPARTA Berjaya di Hidayatullah Festival Olahraga(HiFO) 2024 se Jatim
- SMP AR ROHMAH RAIH PRESTASI GEMILANG DI KEJURNAS TAPAK SUCI 2025
- Dua Santri Sparta Raih Juara KSNR di Tangerang Selatan
- Santri SMP Ar Rohmah Raih Medali Emas dan Perak di Ajang KSNR Tangerang Selatan
- Pawai Maulid Nabi dan Festival Cinta Rasul 2025 Semarak di Ar Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang
MALING!!!!!!!
Karya: Arkan Ghifari Imansyah
Senja perlahan turun menyelimuti langit, melukiskan gradasi warna oranye kekuningan yang begitu memanjakan mata. Burung-burung pipit beterbangan ke sana kemari, seolah berlomba kembali ke sarangnya sebelum petang benar-benar tiba. Dari balkon lantai paling atas Asrama Darul Syuhada, aku berdiri bersandar pada pagar pembatas, memandangi hiruk-pikuk kehidupan pondok pesantren yang tak pernah sepi.
Di bawah sana, puluhan santri sedang melakukan jogging sore, memutari kompleks Asrama Darul Jihad dan Gaza. Punggung-punggung mereka tampak basah kuyup, sementara tetesan keringat sesekali jatuh dari wajah mereka yang tampak kelelahan namun tetap bersemangat. Di sebelahku, berdiri sahabat karibku, Azri. Namun, alih-alih menikmati panorama senja, kedua mata Azri justru terpaku pada sesuatu yang jauh lebih materialistis: sepatu yang dikenakan oleh anak-anak yang sedang berlari itu.
"Eh, Kan, coba delok en a (lihatlah), ada yang pakai sepatu Ortus Supersonic yang kolaborasi sama Marvel!" seru Azri tiba-tiba, menunjuk ke arah seorang santri bertubuh jangkung yang berlari mendahului rombongannya.
Aku menyipitkan mata, mencoba mengenali sepatu yang dimaksud.
"Oooh, eroh eroh (tahu, tahu). Itu kan yang versi Groot, kan? Harganya sekitar satu koma dua jutaan kalau aku tidak salah ingat," balasku dengan nada sok tahu.
Belum sempat aku mengalihkan pandangan, Azri kembali berteriak heboh sambil menepuk pundakku keras-keras. "Woi, Kaan! Lihat yang itu! Ada yang pakai Nike ZoomX Vaporfly!"
Mataku terbelalak sempurna melihat sepatu lari berwarna neon mencolok itu. "Wah, oiyoo. Itu kan sepatu sultan yang harganya lima juta lebih itu, kan? Fix, yang punya pasti anak orkay (orang kaya) pol-polan!" sahutku geleng-geleng kepala.
Kami terus melanjutkan rutinitas kurang kerjaan itu hingga mungkin sudah tiga puluh menit berlalu. Kami asyik mengabsen satu per satu sepatu branded milik anak-anak pondok, mulai dari yang harganya masuk akal hingga yang membuat dompet kami menangis meronta-ronta hanya dengan melihatnya.
Kesenangan kami terhenti ketika suara lonceng pertama berbunyi nyaring ke seantero pondok.
Teng! Teng! Teng!
Itu adalah bel peringatan untuk segera mandi dan bersiap menuju masjid.
"Sudah bel, nih. Aku mandi dulu, ya!" seruku pada Azri. Aku bergegas menuju kamar mandi asrama untuk membersihkan diri dari keringat.
Setelah selesai mandi dan mengenakan baju koko yang rapi beserta sarung kebanggaanku, aku melangkah keluar kamar dan mulai meneriaki teman-temanku yang masih asyik bersantai.
"Rek! Ayo budal (berangkat) Rek! Sebentar lagi hitungan masuk masjid. Yang jaga gerbang hari ini Asyam Tsaqif, lho. Kalian telat sedikit saja, bisa dijewer mampus sama dia!" peringatku dengan nada mengancam. Nama Asyam memang cukup disegani karena tingkat kedisiplinannya yang sangat tinggi saat mendapat jadwal piket keamanan pondok.
Mendengar nama Asyam disebut, Radith dan Abdul yang sedari tadi masih rebahan langsung melompat dari kasur seakan baru saja tersengat aliran listrik. Akhirnya, aku, Radith, dan Abdul berangkat bersama-sama menuruni tangga asrama.
Rute pertama yang kami tuju sebelum ke masjid tentu saja adalah dapur umum. Kami sangat kelaparan setelah seharian mengikuti kegiatan pondok yang sangat padat. Kebetulan sekali, menu sore ini adalah tumis cecek (kikil) pedas makanan favoritku dan Abdul yang tidak pernah gagal membangkitkan selera.
"Alhamdulillah, rezeki anak saleh. Cecek pedas!" seru Abdul kegirangan sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya. Kami menyantap hidangan itu dengan sangat lahap, seakan esok hari tidak ada makanan lagi di dunia ini. Sensasi kenyal kikil yang berpadu dengan bumbu pedas manis benar-benar membangkitkan energi kami yang sempat terkuras habis.
Selesai makan, kami bergegas menuju masjid untuk melaksanakan salat Magrib berjemaah, dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur'an hingga waktu Isya tiba. Malam itu, rutinitas kami terasa sedikit berbeda. Pihak keamanan pondok memberikan jadwal ronda malam tambahan untuk asramaku. Aku, Asyam Tsaqif, Ahmad, dan beberapa anak lainnya ditugaskan untuk berpatroli mengelilingi kompleks asrama Arrohmah, sebuah area yang agak sepi dan berbatasan langsung dengan bangunan DIGILIB (Digital Library) milik sekolah.
Sekitar pukul sebelas malam, angin berhembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Suasana pondok sudah sangat sepi karena seluruh santri diwajibkan untuk tidur. Hanya suara jangkrik yang menemani langkah kaki kami memecah kesunyian malam.
"Kalian merasa ada yang aneh, tidak?" bisik Asyam memecah keheningan saat kami berjalan melewati lorong gelap di belakang gedung DIGILIB.
"Aneh bagaimana maksudmu, Syam?" tanyaku balik dengan suara tertahan.
Asyam menunjuk ke arah jendela lantai dasar perpustakaan digital tersebut. "Lihat jendela itu. Seingatku, tadi sore jendelanya tertutup rapat. Tapi sekarang kacanya pecah berantakan dan sedikit terbuka. Padahal di dalam sana ada puluhan unit komputer baru milik sekolah."
Mendengar penuturan Asyam, firasat buruk langsung menyergap perasaanku. Ahmad, yang bertubuh paling gempal di antara kami, langsung mengepalkan tangannya dengan raut wajah waspada.
"Jangan-jangan ada maling yang menyusup masuk. Area sini kan dekat dengan tembok pembatas yang berbatasan langsung dengan jalan kampung."
"Kita harus cek ke dalam. Tapi hati-hati, jangan sampai kita yang celaka," instruksi Asyam dengan nada serius. Kami bertiga, aku, Asyam, dan Ahmad mengendap-endap mendekati jendela tersebut. Teman-teman yang lain kami suruh untuk berjaga di luar dan bersiap mencari bantuan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Dengan sangat hati-hati, Asyam memanjat masuk melalui jendela yang telah dijebol itu, disusul olehku dan Ahmad. Suasana di dalam DIGILIB sangat gelap gulita. Hanya ada sedikit cahaya rembulan yang masuk menembus melalui celah ventilasi.
Krasak... krasak...
Terdengar suara langkah kaki dan gesekan barang dari arah ruang server utama. Kami saling berpandangan dalam gelap, memberikan isyarat untuk menyergap. Saat kami mengintip dari balik rak buku raksasa, tampak dua bayangan hitam sedang sibuk memasukkan beberapa unit CPU dan monitor ke dalam karung goni besar. Mereka adalah komplotan maling sungguhan!
"Woi! Sedang apa kalian?!" teriak Asyam dengan suara baritonnya yang menggelegar. Ia langsung menyalakan senter yang ia bawa dan menyorotkannya tepat ke arah wajah kedua pencuri itu.
Kedua maling itu terkejut setengah mati. Namun, bukannya lari ketakutan, mereka justru mencabut senjata tajam dari balik jaket kulit mereka. Salah satu dari mereka memegang celurit tajam, sementara yang lain menggenggam sebilah belati yang ujungnya berkilat tertimpa cahaya senter.
"Bocah-bocah tengik! Berani-beraninya kalian ikut campur!" maki salah satu pencuri dengan suara serak. Tanpa basa-basi, pencuri yang memegang celurit itu langsung menerjang beringas ke arah Asyam.
Pertarungan sengit berdarah pun tak terelakkan di dalam perpustakaan. Ahmad langsung melompat menerjang pencuri kedua yang memegang belati. Sementara itu, aku mencoba mencari benda keras apa pun di sekitarku untuk digunakan sebagai senjata pertahanan.
Namun nahas, saat aku mencoba mendekat untuk membantu Ahmad, pencuri kedua menendang rak buku kecil di dekatnya. Rak itu tumbang dan menghantam tubuhku dengan keras. Aku terjatuh terguling ke lantai keramik. Debu tebal dari buku-buku lama berhamburan ke udara, masuk langsung ke dalam mataku.
"Aargh!" aku mengerang, mataku terasa sangat perih dan pandanganku seketika mengabur tertutup debu.
Di tengah usahaku untuk membuka mata yang perih, telingaku yang awas menangkap suara desingan angin dari benda tajam yang sedang dihunus ke arahku. Dengan insting bertahan hidup dan refleks yang sangat cepat, aku memiringkan kepalaku ke arah kanan.
TING!!!
Suara mata pisau yang menabrak keras lantai keramik berdesing nyaring, hanya berjarak beberapa sentimeter dari telinga kiriku. Napasku memburu hebat. Tanpa perlu melihat dengan jelas, aku memutar tubuhku dan langsung melayangkan sebuah tendangan keras tepat ke arah perut si pencuri kedua.
Bruk!
Pencuri itu terpelanting ke belakang hingga menabrak tubuh temannya (si pencuri pertama) yang sedang berduel sengit dengan Asyam.
Melihat celah emas tersebut, Asyam tidak menyia-nyiakannya. Dengan sigap dan gerakan bela diri yang sangat terlatih, Asyam langsung mengunci lengan si pencuri pertama, memelintirnya ke belakang dengan paksa hingga terdengar bunyi tulang berderak. Pencuri itu menjerit kesakitan karena tangannya berhasil dipatahkan.
Di sisi lain, Ahmad juga menunjukkan aksi yang tak terduga. Ia dengan cepat menindih tubuh pencuri kedua yang baru saja kutendang. Dari balik saku celananya, Ahmad mengeluarkan sebuah knuckle besi murni yang sangat keras. Selama ini, aku sama sekali tidak tahu kalau dia punya dan berani membawa benda semacam itu ke pondok. Dengan tangan yang terpasang knuckle itu, Ahmad melayangkan beberapa pukulan telak ke wajah sang pencuri hingga lawannya itu babak belur dan pingsan tak sadarkan diri.
Mengetahui bahwa ini adalah peluang yang sangat bagus dan pas, aku yang matanya sudah mulai bisa melihat dengan jelas langsung berlari mencari tali tambang terdekat yang biasa digunakan untuk mengikat kardus buku. Dengan gerakan cepat dan sigap, aku mengikat tangan, kaki, dan leher kedua pencuri itu dengan sangat kuat agar mereka tidak bisa melawan atau melarikan diri lagi.
"Kita berhasil menaklukkan mereka!" seruku dengan napas tersengal-sengal penuh kelegaan.
Namun, senyum kemenanganku langsung luntur seketika ketika melihat kondisi Asyam.
"Tolong... ini Arkan! Para pencuri yang berhasil menjebol DIGILIB sudah kami netralisir. Tapi kondisi Asyam benar-benar tidak baik. Perutnya kena bacok!" teriakku histeris ke arah luar jendela, memberi sinyal pada teman-teman yang berjaga di luar.
Asyam langsung jatuh terduduk di pojok ruangan. Wajahnya pucat pasi, sementara kedua tangannya erat memegangi perut kirinya yang robek dan bersimbah darah. Celurit si maling ternyata sempat menggores perutnya saat duel menegangkan tadi.
Kepanikan luar biasa melanda kami semua. Sekitar lima menit kemudian, teman-teman dari kelompok ronda lain berhamburan masuk ke dalam perpustakaan, diikuti oleh seorang satpam pondok yang memegang pentungan. Melihat kondisi Asyam yang kritis dan Ahmad yang tangannya lecet-lecet karena memukul dengan knuckle, satpam itu langsung menelepon ambulans dan menghubungi pihak kepolisian setempat.
"Kalian luar biasa, Nak. Tapi keselamatan kalian jauh lebih penting," ucap satpam itu dengan nada prihatin bercampur bangga, sembari membantu memapah Asyam keluar dari ruangan menuju ambulans yang telah tiba.
Keesokan harinya, insiden heroik di malam itu menjadi topik pembicaraan paling hangat di seantero pondok. Ustaz dan pengurus pondok memberikan apresiasi yang sangat besar atas keberanian kami menggagalkan aksi pencurian inventaris mahal milik sekolah.
Sore harinya, pihak pondok memilih beberapa anak sebagai perwakilan untuk menjenguk Asyam dan Ahmad di rumah sakit. Sesuai sunah Nabi untuk menjenguk orang yang sedang sakit, hanya tiga orang yang diizinkan pergi kali ini, dan aku adalah salah satu yang terpilih untuk berangkat.
Setibanya di ruang rawat inap, aku merasa sangat lega melihat Asyam sudah bisa tersenyum meski perutnya masih diperban tebal, dan Ahmad yang tampak santai memakan buah apel di ranjang sebelahnya.
"Bagaimana keadaan kalian, Pahlawan?" sapaku sambil tersenyum lebar.
"Alhamdulillah, cuma luka kecil. Sebentar lagi juga sembuh," jawab Asyam dengan sisa-sisa kesombongan khasnya yang seketika membuat kami semua tertawa.
Namun, kejutan terbaiknya tidak berhenti sampai di situ. Beberapa hari kemudian, saat upacara rutin pondok, kepala sekolah mengumumkan sebuah penghargaan khusus untuk kami. Sebagai bentuk rasa terima kasih karena telah mempertaruhkan nyawa untuk menjaga keamanan asrama Arrohmah dan menyelamatkan aset DIGILIB, kami semua yang ikut berjaga malam itu diberikan hadiah istimewa.
Hadiahnya adalah "Jatah Usaku UNLIMITED" (kartu saku/saldo kantin gratis tanpa batas) selama satu bulan penuh! Namun, pengecualian dan keistimewaan yang jauh lebih besar diberikan kepada pahlawan utamanya. Aku, Asyam, dan Ahmad. Kami bertiga mendapatkan jatah Usaku UNLIMITED hingga hari kelulusan kami dari pondok pesantren ini tiba!
Mendengar pengumuman itu, aku, Radith, Azri, dan seluruh santri lainnya bersorak kegirangan. Insiden malam berdarah itu memang sangat menegangkan dan nyaris merenggut nyawa sahabat-sahabatku. Namun, persahabatan, keberanian, dan kesetiakawanan yang kami rajut di pondok pesantren ini, kini terukir manis dalam sebuah memori epik yang tak akan pernah kami lupakan.
~ TAMAT ~




