AMBISI DI UJUNG PENA
Karya: Abiyyu Zian Malachi

By Ust. Rosidi Hadi Siswanto, S.Pd.,Gr 17 Apr 2026, 15:51:35 WIB Karya Siswa

 

"Prok… prok… prok… prok!"

Suara gemuruh tepuk tangan menggelegar memenuhi ruangan aula raksasa ini. Tepat di detik inilah, aku merayakan momen wisuda kelulusan sekolah dasar yang telah sekian lama kunanti-nantikan. Aku berdiri tegap di atas panggung gedung megah yang disewa khusus oleh pihak sekolah untuk acara perpisahan kami. Beragam ekspresi emosional tergambar jelas di wajah teman-temanku.

Ada senyum sumringah penuh kebahagiaan karena berhasil lulus, namun tak sedikit pula yang menitikkan air mata perpisahan karena harus berpisah dengan sahabat-sahabat tercinta. Kami semua tampil berbeda dan menawan hari ini; alih-alih seragam sekolah biasa, kami mengenakan pakaian adat dari berbagai penjuru daerah di Nusantara yang membuat suasana wisuda terasa sangat sakral dan meriah.

Setelah prosesi pelepasan yang panjang itu selesai, ayah dan ibuku mengajakku pergi ke sebuah rumah makan untuk merayakan kelulusan ini. Aku memang sudah sangat kelaparan karena rentetan acara sedari pagi benar-benar menguras tenaga. Kami berhenti di sebuah rumah makan bernuansa alam yang memiliki pemandangan kolam ikan koi besar dan gemericik air mancur di tengah areanya.

Aku memesan seporsi nasi goreng spesial kesukaanku, sementara ayah dan ibuku memesan nasi lalapan dengan ayam bakar madu. Tak lupa, segelas es teh manis dingin kupesan untuk membasahi tenggorokanku yang kering kerontang setelah banyak bernyanyi dan mengobrol di acara perpisahan tadi.

Masa sekolah dasar telah resmi berakhir, dan kini aku dihadapkan pada liburan panjang yang berdurasi hampir satu bulan. Namun, liburan kali ini bukanlah sekadar waktu untuk bersantai ria tanpa tujuan. Aku harus memikirkan secara matang ke mana aku akan melanjutkan pendidikan.

Setelah berdiskusi panjang lebar dengan kedua orang tuaku, hatiku mantap memilih sebuah sekolah asrama berbasis pesantren modern yang sangat bergengsi di kota kami. Sekolah itu tidak hanya menuntut keunggulan akademik yang tinggi, tetapi juga mewajibkan kemampuan hafalan Al-Qur'an (tahfidz) yang kuat bagi para calon santrinya.

Di sinilah tantangan terberat itu bermula.

Niat awalku untuk belajar giat di masa liburan ternyata perlahan-lahan luntur oleh godaan. Berada di rumah seharian tanpa adanya tugas sekolah dari guru membuatku terlena. Ponsel pintar dan berbagai permainan game online tiba-tiba menjadi candu yang sangat sulit untuk dilepaskan.

Aku sering kali begadang hingga larut malam demi memenangkan pertandingan di game, mengabaikan buku-buku pelajaran yang mulai berdebu di atas meja. Setoran hafalanku kepada ayah yang biasanya mengalir lancar, kini mulai tersendat-sendat karena aku jarang melakukan murojaah atau mengulang hafalan di waktu luang.

Puncaknya terjadi pada minggu kedua liburan. Ayah mendaftarkanku untuk mengikuti sebuah simulasi ujian masuk sekolah secara online untuk mengukur kemampuanku. Karena meremehkan tingkat kesulitan soal-soalnya, aku mengerjakannya dengan sangat asal-asalan.

Ketika hasil simulasi itu keluar pada keesokan harinya, bagaikan petir di siang bolong, duniaku seakan runtuh. Nilai matematikaku hancur lebur, dan yang lebih memalukan lagi, nilai tes tahfidzku berada jauh di bawah standar kelulusan. Banyak ayat yang tertukar dan tajwid yang berantakan karena pikiranku dipenuhi oleh game.

Sore itu juga, ayah memanggilku ke ruang keluarga. Beliau sama sekali tidak membentak, namun raut kekecewaan yang tergambar jelas di wajahnya terasa jauh lebih menyakitkan daripada sebuah pukulan fisik.

"Zian, masuk ke sekolah impianmu itu tidak bisa dilakukan hanya dengan bersantai dan bermain game," ucap ayah dengan nada pelan namun amat tegas. "Ribuan anak di luar sana sedang berjuang mati-matian, mengorbankan waktu bermain mereka demi memperebutkan satu kursi di sekolah itu. Kalau kamu hanya bermalas-malasan, lebih baik kita batalkan saja pendaftaranmu dan kamu masuk ke sekolah negeri biasa yang tidak memerlukan tes hafalan."

Kata-kata ayah menembus relung hatiku yang paling dalam. Malam harinya, aku mengurung diri di kamar, merutuki kebodohanku sendiri di depan cermin. Air mata penyesalan menetes deras membasahi pipiku. Aku sadar telah menyia-nyiakan waktu berhargaku. Di sepertiga malam terakhir, aku mengambil air wudu, menggelar sajadah, dan menangis tersedu-sedu dalam sujudku. Aku memohon ampun kepada Sang Pencipta dan berjanji pada diriku sendiri untuk berubah seratus delapan puluh derajat.

Keesokan harinya, aku mengambil langkah ekstrem dengan mengunci ponselku di dalam laci meja. Aku membuat jadwal kegiatan harian yang sangat ketat. Pagi hari setelah subuh, aku memfokuskan diri untuk murojaah hafalan Al-Qur'an, memastikan setiap panjang pendek harakat dan tajwidnya kembali sempurna.

Siang hingga sore hari, aku berkutat dengan buku-buku tebal, mengerjakan ratusan latihan soal akademik tanpa henti. Terkadang rasa lelah dan kantuk yang luar biasa menyerang hingga kepalaku terasa pening, namun setiap kali aku ingin menyerah, bayangan raut kecewa ayah kembali menguatkan tekadku.

Hari penentuan yang sangat mendebarkan itu pun akhirnya tiba. Aku mengikuti jalur tes online menggunakan laptop di ruang belajarku. Tahap pertama adalah tes akademik. Jantungku berdegup amat kencang saat layar mulai menampilkan soal-soal ujian.

Tingkat kesulitannya memang sangat tinggi, jauh melampaui pelajaran sekolah dasar, namun berkat latihan kerasku selama berminggu-minggu terakhir, aku bisa bernapas lega. Rumus-rumus yang telah kutulis berulang kali membantuku memecahkan soal-soal matematika dan logika dengan cukup lancar.

Setelah jeda istirahat selama satu jam, ujian tahap kedua yang paling kutakuti dimulai. Ini adalah tes tahfidz lisan yang dilakukan secara online menggunakan aplikasi Zoom. Aku akan diuji langsung secara tatap muka virtual oleh seorang ustadz penguji dari sekolah tersebut. Aku duduk tegak di depan laptop, komat-kamit melantunkan selawat untuk menenangkan debaran jantungku yang terasa ingin melompat keluar dari rongganya.

Namun, sebuah masalah besar tiba-tiba datang tanpa diundang. Tepat ketika namaku dipanggil oleh sang ustadz untuk memulai hafalan, layar laptopku tiba-tiba membeku. Gambar ustadz tersebut berhenti bergerak, dan suaranya berubah menjadi putus-putus sebelum akhirnya hening total. Tulisan "Your internet connection is unstable" muncul berkedip-kedip di tengah layar.

Panik seketika melanda seluruh aliran darahku. Keringat dingin mengucur deras membasahi pelipisku.

"Ayah! Tolong, Yah! Wi-Fi rumah tiba-tiba mati!" teriakku histeris ke arah pintu luar. Waktu ujianku terus berjalan tanpa ampun, dan jika aku tidak segera terhubung kembali, sistem bisa secara otomatis menganggapku gugur!

Mendengar teriakanku, ayah berlari tergesa-gesa memasuki kamarku. Dengan sangat sigap, beliau mengeluarkan ponselnya, menyalakan fitur tethering hotspot, dan langsung menyambungkannya ke laptopku. Detik-detik proses loading itu terasa bagaikan berjam-jam yang amat menyiksa.

"Tenang, Zian. Istigfar terus. Jangan panik, nanti hafalanmu bisa buyar semua," bisik ayah menenangkan sembari mengusap punggungku dengan lembut.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, menarik napas panjang, dan merapalkan istigfar. Akhirnya, keajaiban muncul. Layar Zoom kembali bergerak stabil. Wajah ustadz penguji kembali terlihat dengan sangat jelas.

"Ada gangguan sinyal ya, Nak Zian? Tidak apa-apa, jangan gugup. Mari kita mulai saja. Coba lanjutkan potongan ayat yang akan Ustadz bacakan ini," ucap beliau dengan nada bariton yang amat menenangkan.

Sang ustadz mulai membacakan sebuah potongan ayat dari pertengahan Surah Al-Mulk. Ajaibnya, kepanikanku menguap begitu saja tak berbekas. Otakku merespons dengan amat cepat, memanggil kembali ratusan jam yang kuhabiskan untuk murojaah di pagi buta. Aku melanjutkan potongan ayat tersebut dengan suara yang lantang, tartil, dan penuh keyakinan. Tidak ada satupun tajwid yang meleset. Tes tahfidz itu akhirnya kuakhiri dengan sebuah senyuman kepuasan dari sang ustadz penguji.

Keesokan harinya, pihak sekolah mengirimkan sebuah tautan pengumuman melalui pesan singkat ke ponsel ayah. Kami sekeluarga berkumpul rapat di depan layar laptop dengan napas yang tertahan. Ayah mengklik tautan tersebut, memasukkan nomor pendaftaranku dengan hati-hati, dan menekan tombol Enter.

Perlahan, setelah loading yang menegangkan, sebuah kotak muncul di layar. Mataku langsung tertuju pada sebuah kotak berwarna hijau terang yang memuat namaku dalam huruf tebal. Di bawahnya, terdapat sebuah kalimat konfirmasi yang sangat jelas.

"SELAMAT! ANDA DINYATAKAN LULUS DAN DITERIMA."

"Alhamdulillah ya Allah!" teriakku kegirangan, air mata haru seketika menetes membasahi pipiku. Aku langsung menghambur memeluk ayah dan ibuku dengan pelukan yang teramat erat. Rasa lelah, tangisan penyesalan di malam hari, dan ketegangan saat ujian kemarin seakan terbayar lunas tanpa sisa.

Pengalaman yang mendebarkan ini memberiku sebuah pelajaran yang amat berharga. Aku sadar bahwa tantangan terberat seorang santri bukanlah terletak pada sulitnya soal ujian ataupun banyaknya ayat yang harus dihafal, melainkan pada bagaimana ia mampu melawan kemalasannya sendiri dan bangkit dari keterpurukan. Di sekolah asrama yang baru nanti, aku berjanji akan belajar jauh lebih giat, merawat hafalanku dengan baik, dan terus membuat kedua orang tuaku bangga. Perjalanan panjangku meraih cita-cita baru saja dimulai.

~ TAMAT ~

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment