NARA
Karya: Abrar Nandya Rashidiq

By Ust. Rosidi Hadi Siswanto, S.Pd.,Gr 17 Apr 2026, 15:53:23 WIB Karya Siswa

Jam dinding di sudut kamar berdetak seiring dengan derai hujan, menunjukkan pukul 23.45. Lima belas menit lagi menuju pergantian hari. Kamar berukuran lima kali enam meter itu terasa semakin dingin karena hembusan AC yang menyala, ditambah badai di luar sana yang belum juga kunjung reda. Hujan terus mengguyur gelapnya malam, meski sesekali kilat menyambar, mencoba menyaingi temaramnya sinar bulan purnama yang keindahannya selalu mengingatkan Nara pada kelembutan wajah ibundanya.

Walau ukurannya cukup luas, kamar tersebut terlihat sedikit penuh, padahal hanya dihuni oleh satu orang. Di sana terdapat sebuah kasur berukuran sedang yang tampak begitu empuk, lemari besar berisi aneka ragam pakaian, serta meja belajar yang dipenuhi tumpukan buku dan kertas draf proposal. Di atas kasur itu, berbaringlah seorang mahasiswi bernama Nara.

Mata Nara menyipit, menatap layar laptopnya dengan raut wajah yang sangat serius. Entah apa yang sedang dikerjakan gadis itu, namun jari-jemarinya menari tanpa henti di atas keyboard. Tiba-tiba, ia mengerang pelan. Notifikasi peringatan muncul di sudut layar; baterai laptopnya hanya tersisa sepuluh persen saja.

Dengan sigap, Nara beranjak dari kasur yang nyaman itu, mengambil charger laptopnya yang tergeletak di atas meja belajar. Ia kembali merebahkan dirinya, memasang pengisi daya, dan mencolokkannya ke stopkontak terdekat. Setelah memastikan indikator baterai menyala, ia langsung memfokuskan dirinya kembali pada rentetan paragraf di layar laptopnya.

Di tengah konsentrasinya yang memuncak, tiba-tiba terdengar ketukan pelan dari arah luar pintu kamar. Nara yang terlalu fokus awalnya tidak menyadari bahwa ada seseorang yang ingin masuk. Lalu, terdengar ketukan pintu untuk kedua kalinya, kali ini sedikit lebih keras. Gadis itu terkejut dan segera menyuruh orang tersebut masuk.

"Masuk," pinta si gadis.

Gagang pintu berputar perlahan. Daun pintu kamar terbuka, memperlihatkan sosok Hendra, bocah laki-laki yang merupakan adik kandungnya.

"Masih belum tidur, Mbak?" tanya bocah tersebut dengan suara serak khas orang mengantuk. Nara yang ditanya hanya mengembuskan napas panjang sambil tetap mengarahkan pandangannya ke layar laptop.

"Belum, Dek. Tinggal sedikit lagi. Kamu tidur duluan saja," jawabnya singkat. Hendra mengangguk pelan lalu menutup kembali pintu kamar kakaknya, meninggalkan Nara yang kembali larut dalam kesunyian malam.

Keesokan harinya, sinar matahari pagi berhasil mengusir sisa-sisa awan mendung semalam. Memasuki waktu siang, suasana rumah terasa sangat hangat. Nara sedang duduk di ruang keluarga, bersantai setelah begadang semalaman. Tak lama kemudian, Ibu datang menghampirinya sambil membawa keranjang kecil berisi sayuran yang baru saja dibeli dari tukang sayur keliling.

"Mbak, ngomong-ngomong, bagaimana kelanjutan urusan KKN-mu? Sudah pasti mau ditempatkan di mana?" tanya Ibu membuka percakapan.

Nara menghentikan aktivitasnya bermain ponsel sejenak. "Kemarin kelompok Nara mengajukan penempatan di daerah Malang Selatan, Bu. Tepatnya di sebuah desa terpencil dekat pesisir pantai. Ya… Nara ikut-ikut saja sama keputusan ketua kelompok," ujar Nara dengan nada santai.

Ibu menghentikan tangannya yang sedang memetik sayur bayam, lalu menatap putri sulungnya dengan sorot mata penuh perhatian. "Oh… ya sudah kalau begitu. Kamu di sana harus benar-benar menjaga perilaku ya, Nak. Jangan sembarangan bertindak dan harus selalu menghormati adat istiadat warga setempat. Nanti kalau masa KKN-mu sudah selesai, Ibu sama Ayah yang akan langsung menjemput kamu ke sana. Sekalian kita liburan keluarga melihat pantai."

Nara tersenyum lebar dan mengacungkan ibu jarinya tanda setuju. "Siap, Bos!"

"Ya sudah, Mbak, ayo sekarang bantuin Ibu siapkan makan siang di depan. Habis ini Ayahmu pasti pulang dari kantor," titah Ibu seraya beranjak dari kursi dan melangkah menuju dapur. Nara dengan patuh mengekor, mengikuti ibunya dari belakang.

Saat mereka sedang sibuk menata piring dan lauk-pauk di atas meja makan, terdengar suara deru mesin mobil memasuki pelataran rumah. Ayah sudah pulang, batin Nara. Ia segera mengelap tangannya dan berlari kecil membukakan pintu utama untuk menyambut kedatangan sang ayah pahlawan keluarganya.

Ayah melangkah masuk sambil melonggarkan dasinya, raut lelah sehabis bekerja terlihat jelas di wajahnya. Namun, senyumnya tetap mengembang saat melihat putrinya.

"Loh, Nara, mana adikmu?" tanya Ayah seraya menyilidikkan pandangannya ke sekeliling ruang keluarga yang tampak sepi.

"Hendra masih keluar, Yah. Paling juga lagi main sama teman-temannya di lapangan perumahan," jawab Nara sambil mengambil alih tas kerja Ayah.

"Ayo Yah, kita langsung makan siang saja. Ibu sudah siapkan masakannya dari tadi." Nara menarik lengan Ayahnya dengan manja, menuntun pria paruh baya itu menuju ruang makan.

"Iya, iya," balas Ayah, hanya bisa tersenyum simpul melihat tingkah laku putri sulungnya.

Sesampainya di meja makan, suasana yang awalnya hangat tiba-tiba berubah sedikit tegang ketika Ayah tak sengaja melihat lembaran print-out draf proposal KKN milik Nara yang tertinggal di atas meja kabinet dekat ruang makan. Ayah mengambil kertas itu dan membaca judulnya. Keningnya langsung berkerut dalam.

"Nara, apa maksudnya ini? Malang Selatan? Desa pesisir?" tegur Ayah dengan nada suara yang seketika berubah menjadi berat dan keras. Nara dan Ibu yang sedang menuangkan air putih saling berpandangan dengan cemas.

"I-iya, Yah. Kelompok Nara memang mengajukan penempatan di sana. Tadi Nara juga sudah bilang sama Ibu," jawab Nara sedikit terbata, merasakan firasat buruk. Ayah meletakkan kertas itu dengan sedikit kasar ke atas meja.

"Tidak. Ayah tidak setuju. Ayah tidak akan mengizinkanmu pergi KKN ke tempat sejauh dan seberbahaya itu."

"Tapi kenapa, Yah? Proposalnya sudah Nara kerjakan semalaman sampai nyaris tidak tidur. Dosen pembimbing juga sudah memberikan persetujuannya hari ini," protes Nara, suaranya mulai meninggi karena merasa usahanya sama sekali tidak dihargai.

"Kamu tahu bagaimana berbahayanya daerah pesisir sana? Akses jalannya masih rusak parah, sinyal telepon susah, dan bulan depan sudah masuk puncak musim ombak laut selatan yang ganas! Belum lagi fasilitas kesehatannya di sana sangat minim. Kamu itu perempuan, Nara. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk padamu di tempat terpencil seperti itu?" cecar Ayah penuh penekanan. Kepanikan dan insting protektif seorang ayah mendominasi setiap suku katanya.

"Ayah, Nara ini sudah mahasiswa tingkat akhir! Nara bukan anak kecil lagi yang harus Ayah kurung di dalam rumah terus-menerus!" balas Nara tak kalah sengit.

"Nara pergi ke sana bukan untuk liburan atau sekadar main-main air di pantai. Warga desa di sana selalu mengalami krisis air bersih setiap musim kemarau, dan kelompok Nara punya program kerja yang jelas untuk membangun sistem filtrasi air untuk mereka. Mereka sangat butuh bantuan kita, Yah!"

"Banyak desa lain yang lebih dekat, lebih aman, dan juga butuh bantuan! Kamu bisa minta pindah kelompok sekarang juga sebelum surat resminya keluar!" tegas Ayah, tak mau mengalah sedikit pun.

"Nara nggak bisa se-egois itu, Yah! Teman-teman sudah mempercayakan posisi sekretaris pada Nara. Kalau Nara mundur dan membatalkannya sekarang, seluruh program kerja kelompok bakal hancur berantakan. Mengapa Ayah tidak pernah sedikit pun mempercayai kemampuan Nara untuk bisa mandiri dan menjaga diri sendiri?" Suara Nara mulai bergetar, pelupuk matanya berkaca-kaca menahan luapan emosi dan rasa kecewa yang amat mendalam.

Melihat situasi perdebatan yang semakin memanas, Ibu segera menengahi. Beliau berjalan mendekati Ayah dan memegang lengan suaminya dengan lembut.

"Yah, sudah, tenang dulu. Jangan menggunakan emosi seperti ini. Apa yang dibilang Nara itu benar, dia sudah beranjak dewasa. Dia sedang belajar mengabdi pada masyarakat. Tolong hargai niat baik dan usahanya."

"Tapi ini demi keselamatannya sendiri, Bu. Ayah hanya tidak mau menyesal nanti..." Ayah mengusap wajahnya dengan kasar, tampak sangat bimbang. Di satu sisi ia sangat menyayangi dan ingin melindungi putrinya, namun di sisi lain ia tahu bahwa ia tidak bisa terus-menerus memotong sayap kebebasan Nara untuk terbang.

Suasana hening yang mencekam menyelimuti ruang makan tersebut selama beberapa saat. Hanya terdengar detak jam dinding yang mengisi kekosongan. Ayah menghela napas panjang, meruntuhkan tembok kekhawatirannya secara perlahan. Beliau menarik kursi meja makan dan duduk dengan bahu yang merosot.

"Ayah minta maaf kalau Ayah terkesan sangat keras dan mengekangmu, Nak," ucap Ayah dengan nada yang kini jauh lebih melembut dan sarat akan kasih sayang. "Ayah hanya sangat takut terjadi sesuatu yang di luar kendali pada putri kesayangan Ayah di tempat yang jauh. Kamu harus tahu, sebesar apa pun kamu sekarang, kamu akan selalu menjadi gadis kecil di mata Ayah."

Nara mengangkat wajahnya, menatap lekat-lekat mata Ayahnya yang menyiratkan cinta yang teramat tulus. Rasa amarahnya seketika luruh tak berbekas. Gadis itu perlahan mendekat, duduk di kursi sebelah Ayahnya, lalu menggenggam erat tangan kasar pria yang telah membesarkannya itu.

"Nara mengerti kekhawatiran Ayah. Nara berjanji, Yah, Nara akan selalu berhati-hati dan menjaga diri dengan sangat baik. Nara janji akan menghubungi Ayah dan Ibu setiap hari kalau ada sinyal di sana. Tolong, izinkan Nara dan percayalah pada Nara kali ini," mohon Nara dengan suara parau yang tulus.

Ayah terdiam sejenak, membalas genggaman tangan putrinya, sebelum akhirnya sebuah senyum tipis yang hangat terukir di bibirnya. Ia mengangguk pelan. "Baiklah. Ayah memberikan restu dan mengizinkanmu KKN di Malang Selatan."

"Benarkah, Yah? Terima kasih banyak, Ayah!" Nara nyaris melompat kegirangan, memeluk lengan Ayahnya dengan penuh rasa syukur. Hatinya yang tadi sempat terasa sesak, kini sangat ringan bak kapas yang tertiup angin.

Akhirnya, setelah perdebatan emosional yang menguras perasaan itu mereda, mereka bertiga berkumpul di ruang makan bersama-sama dan bersiap untuk menikmati makan siang. Namun, di tengah-tengah asyiknya mereka menikmati hidangan makan siang, tiba-tiba pintu utama rumah terbuka dengan cukup kencang, disusul oleh terdengarnya suara derap langkah kaki yang berlari tergesa-gesa masuk ke dalam.

"Itu pasti Hendra," gerutu Nara. Ia masih santai mengunyah makanannya sambil melihat notifikasi di layar HP-nya. Ayah dan Ibu tertawa kecil mendengar gerutuan Nara yang sangat hafal dengan kelakuan adiknya.

"Loh… Ibu sama Ayah sudah balik?" seru Hendra yang tiba-tiba muncul dan berdiri tepat di belakang punggung Nara dengan napas yang masih sedikit tersengal sehabis bermain.

"Ayo sini, Dek, kita makan siang dulu," ujar Ayah dengan hangat. Ibu dengan sigap mengambilkan piring dan membantu mengisikan makanan untuk putra bungsunya. Lalu, bocah itu pun menarik kursi dan duduk dengan manis di sebelah Nara.

Keluarga harmonis tersebut kembali menikmati makan siang mereka dengan tenang dan penuh kebahagiaan, sambil menyantap hidangan lezat di meja makan yang dipenuhi oleh canda tawa. Bagi Nara, perdebatan hari ini bukanlah sebuah pertengkaran, melainkan sebuah pembuktian cinta. Ia tahu, ke mana pun langkahnya pergi mengabdi, keluarga ini akan selalu menjadi rumah paling aman untuknya kembali.

~ TAMAT ~

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment