- Wisuda SMP-SMA Ar-Rohmah Putra Berlangsung Khidmat, Angkatan 30 Marvelous
- Ukir Kenangan Terakhir, Kelas 9 SPARTA Outing Class to Mikutopia, Batu
- Tanding Lagi! SPARTA FC Tatap SMAHIK CUP Tingkat Kabupaten
- 3 Santri SPARTA Raih Medali di MASCO 2026 Tingkat Nasional
- Taekwondo SPARTA Berhasil Ukir Prestasi Kembali!
- Euforia Outing Angkatan di Lembah Tumpang Malang
- Inauguration Reformation GPH 2026/2027
- Pelantikan ABABIL SMP Ar-Rohmah Putra 2026
- Berlangsung Meriah, UKK SPARTA Sesi 2, Kembali Hadirkan Wali Santri
- PERSAHABATAN KALA PERBEDAAN
AKHIR DARI SEBUAH PERJALANAN
Karya: Asyam Tsaqif Wibowo
Berita Terkait
- MALING!!!!!!!0
- AWAN DI ATAS PUNCAK 0
- DI ANTARA SENJA YANG BELAJAR BERTAHAN 0
- NARA0
- AMBISI DI UJUNG PENA0
- ES TEH TERAKHIR PAK SOMAD0
- ASRAMA NOMOR 99 0
- SAHABAT BARU DI DESA SUNYI 0
- JEJAK KABUT DI UJUNG PETA0
- Pembekalan Tugas Dakwah Liburanku Dakwah Liburanku Ibadah0
Berita Populer
- Persiapan Asesmen Nasional Berbasis Komputer, Santri SPARTA Serius Menghadapi Simulasi ANBK
- Keberangkatan Kontingen Tapak Suci Sparta Menuju Kejurnas Airlangga National Open 2025
- SMP Ar Rohmah Gelar Lomba HUT RI ke-80 dengan Semangat Kebersamaan dan Prestasi
- Upacara HUT RI ke-80 di LPI Ar Rohmah Hidayatullah Malang
- Siap Terbang Tinggi, Tiga Santri Berjuang di Final Round KSN-R 7
- Raih Juara 3, Tim Futsal SPARTA Berjaya di Hidayatullah Festival Olahraga(HiFO) 2024 se Jatim
- SMP AR ROHMAH RAIH PRESTASI GEMILANG DI KEJURNAS TAPAK SUCI 2025
- Dua Santri Sparta Raih Juara KSNR di Tangerang Selatan
- Santri SMP Ar Rohmah Raih Medali Emas dan Perak di Ajang KSNR Tangerang Selatan
- Pawai Maulid Nabi dan Festival Cinta Rasul 2025 Semarak di Ar Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang
Namaku Arga. Aku lahir di sebuah desa kecil di pinggiran Yogyakarta, sebuah wilayah yang kala itu sangat terpelosok, jauh dari gemerlap perkotaan, dan tertinggal dibandingkan daerah lainnya. Hidup kami sekeluarga serba pas-pasan. Ayahku bekerja sebagai tukang servis elektronik keliling.
Setiap hari ia mengayuh sepeda tuanya, mencari televisi atau radio rusak yang bisa ia perbaiki, meski upahnya sangat tak menentu. Sementara itu, Ibuku membuka warung makan kecil di teras depan rumah kami. Penghasilan Ibu juga sangat fluktuatif; kadang menguntungkan, namun tak jarang Ibu harus menelan kerugian karena sisa makanan yang tak habis terjual hingga basi.
Meski diimpit kemiskinan dan kesulitan finansial, suasana di dalam rumah kami selalu terasa hangat. Rumah kami tidak pernah mewah, atapnya pun sering bocor saat musim hujan tiba, tetapi ruangan sempit itu selalu dipenuhi oleh canda tawa, rasa syukur, dan kasih sayang yang tak terhingga dari kedua orang tuaku.
Sejak kecil, di tengah segala keterbatasan itu, aku telah memupuk sebuah mimpi besar yang terdengar mustahil bagi anak desa sepertiku. Aku ingin mempunyai sebuah perusahaan sendiri. Aku bertekad tidak ingin seumur hidup bergantung pada orang lain atau menjadi beban bagi siapa pun. Lebih dari itu, aku memiliki cita-cita mulia untuk bisa membuka lowongan pekerjaan bagi orang-orang kecil seperti keluargaku.
Mimpi besar itu mulai tumbuh bersemi saat aku duduk di bangku kelas lima Sekolah Dasar. Kala itu, aku sedang menonton televisi cembung usang hasil perbaikan Ayah. Di layar kaca, aku melihat seorang pengusaha muda sukses sedang diwawancarai. Ia menceritakan kisah epiknya membangun bisnis raksasanya benar-benar dari titik nol. Ada satu kalimat emas dari pengusaha itu yang terukir abadi di kepalaku: "Kalau kamu tidak berani menciptakan pekerjaanmu sendiri, maka seumur hidupmu kamu akan terus mencarinya dan disuruh-suruh oleh orang lain."
Aku menatap layar televisi itu dengan mata yang berbinar-binar penuh harapan, dan mulai berkhayal tinggi, bagaimana jadinya jika suatu hari nanti pria berjas rapi yang duduk di kursi wawancara itu adalah aku? Sejak hari bersejarah itu, aku menyimpan impian tersebut erat-erat di dalam sanubariku.
Langkah pertamaku dimulai saat aku memasuki masa putih abu-abu di Sekolah Menengah Atas (SMA). Aku mulai belajar dunia bisnis secara otodidak dengan semangat pantang menyerah. Aku memulai dengan berjualan pulsa elektrik kepada teman-teman dan para guru. Tidak berhenti sampai di situ, aku juga menawarkan jasa fotokopi catatan pelajaran, hingga membuka jasa pengetikan tugas bagi teman-teman yang tidak memiliki komputer di rumah.
Setiap lembar uang ribuan hasil keringatku sendiri itu kutabung sedikit demi sedikit di dalam celengan ayam jago berbahan tanah liat. Nominalnya memang tidak seberapa banyak, tapi dari usaha kecil-kecilan itu, aku belajar banyak hal berharga yang tak diajarkan di bangku sekolah. Tentang bagaimana membangun kepercayaan pelanggan, seni membagi waktu antara belajar dan bekerja, serta kerasnya perjuangan dalam mencari kepingan rupiah.
Selepas lulus SMA, berbekal tabungan yang terkumpul dan beasiswa, aku melanjutkan pendidikan ke sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta dengan mengambil jurusan Agribisnis. Di masa-masa inilah ide besarku mulai terbentuk secara nyata. Mengamati nasib para petani di desaku yang selalu dipermainkan oleh tengkulak dan kesulitan mendapatkan pupuk, aku mendirikan sebuah rintisan usaha (startup) yang kuberi nama "TaniMaju". Visinya sangat jelas yakni memperkuat sistem pertanian lokal dan memotong rantai distribusi yang merugikan petani kecil.
Di masa-masa awal merintis TaniMaju ini, aku bertemu dengan Nisa, seorang gadis cerdas dan berhati malaikat yang juga teman satu jurusanku. Nisa bukan hanya sekadar teman diskusi yang hebat, tapi ia adalah pendukung terbesarku. Kesederhanaannya, kebijaksanaannya dalam memberikan masukan, dan caranya tertawa lepas di tengah kesulitan membuatku sangat yakin bahwa aku ingin membangun keluarga dan menghabiskan sisa hidupku bersamanya.
Namun, roda kehidupan berputar menuju titik terendahnya tepat ketika TaniMaju baru saja mulai berkembang. Badai ujian yang sesungguhnya datang menghantam tanpa ampun di tahun ketiga perusahaanku berdiri. Musim kemarau ekstrem melanda seluruh wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, memicu bencana kekeringan parah yang belum pernah terjadi selama kurun waktu puluhan tahun terakhir.
Akibatnya sangat fatal. Ratusan hektare sawah dan ladang milik petani binaan TaniMaju mengalami gagal panen total. Tanah mengering hingga retak-retak, padi-padi menguning layu sebelum waktunya, dan harapan para petani hancur berkeping-keping menjadi debu.
Dampak dari gagal panen massal ini langsung menghantam arus kas TaniMaju. Para petani tidak sanggup membayar cicilan modal benih dan pupuk yang sebelumnya kami pinjamkan. Di saat yang bersamaan, investor utama yang selama ini menjadi tulang punggung pendanaan perusahaan kami, tiba-tiba menarik seluruh modalnya karena takut menelan kerugian yang lebih besar. Perusahaanku terancam gulung tikar. Tagihan menumpuk tinggi, sementara kas perusahaan nyaris kosong melompong.
Seakan ujian finansial itu belum cukup menyiksa, sebuah kabar duka datang menyayat hatiku. Ayahku, pahlawan terbesarku, jatuh sakit parah akibat kelelahan dan akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di tengah kekacauan tersebut. Kepergian Ayah menjadi pukulan mental yang paling telak bagiku. Aku benar-benar merasa hancur, terpuruk dalam jurang keputusasaan yang sangat gelap. Semuanya terasa sia-sia. Mimpiku untuk sukses dan membahagiakan Ayah telah hancur.
Di malam-malam yang panjang dan dingin, aku sering kali menangis sendirian di ruang kerjaku yang remang-remang, berniat untuk menutup TaniMaju selamanya dan menyerah pada kenyataan yang pahit.
Di saat aku berada di titik terendah dalam hidupku, Nisa datang merangkulku. Ia menggenggam kedua tanganku yang gemetar, menatap mataku dengan penuh keyakinan yang tak pernah pudar.
"Arga, Ayahmu tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi seorang pengecut yang lari dari medan perang," ucap Nisa lembut namun tegas.
"Ingatlah kembali alasan utamamu memulai semua ini. Petani-petani itu butuh sosok sepertimu. Kalau kamu menyerah sekarang, lalu siapa yang akan membantu mereka bangkit dari kekeringan ini?"
Kata-kata Nisa bagaikan sambaran petir yang menyadarkanku. Aku teringat kembali pada senyum bangga almarhum Ayah, dan pada tekad masa kecilku saat menonton televisi dulu. Aku menghapus air mataku dan bangkit berdiri. Keesokan harinya, aku mengambil sebuah keputusan gila dan sangat berisiko tinggi. Aku menjual sepeda motor satu-satunya, menggadaikan sertifikat tanah warisan keluarga, dan meminjam uang dari bank dengan jaminan seluruh aset pribadiku.
Uang itu tidak kugunakan untuk melunasi utang perusahaan, melainkan kugunakan seluruhnya untuk mengimpor benih unggul tahan kekeringan varietas terbaru dan membangun instalasi irigasi sederhana untuk ladang para petani. Aku bekerja siang dan malam, turun langsung ke sawah berlumpur bersama warga desa untuk memasang pipa-pipa air. Aku mempertaruhkan sisa nyawaku. Jika gagal lagi, maka aku akan benar-benar menjadi gelandangan yang kehilangan segalanya.
Tuhan ternyata tidak pernah tidur melihat umat-Nya yang mau berusaha keras. Empat bulan kemudian, keajaiban itu terjadi. Di tengah cuaca yang masih cukup terik, benih tahan kering itu tumbuh subur dan sukses dipanen dengan hasil yang melimpah ruah! Keuntungan yang kami dapatkan berkali-kali lipat dari biasanya. TaniMaju tidak hanya berhasil melunasi seluruh utangnya, tetapi juga mendapatkan kepercayaan penuh dari para petani dan berhasil menarik minat investor-investor baru berskala nasional.
Setahun setelah melewati badai krisis yang mengancam nyawa tersebut, aku akhirnya resmi menikahi Nisa. Pernikahan kami digelar dengan sangat sederhana namun khidmat di pelataran rumah ibuku, dikelilingi oleh warga desa dan rekan-rekan kerja yang bersorak bahagia. Ibu menangis haru memelukku. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar utuh sebagai seorang manusia.
Tujuh tahun sejak pertama kali berdiri, TaniMaju kini telah bertransformasi menjadi sebuah perusahaan agrikultur besar berskala nasional. Kami memiliki puluhan cabang yang tersebar di berbagai daerah di penjuru Indonesia dengan membawa misi sosial yang sama kuatnya: memperkuat sistem pertanian dan memberdayakan masyarakat di suatu daerah. Kami membuktikan bahwa sebuah bisnis bukan hanya soal menghasilkan keuntungan finansial semata, tetapi juga tentang bagaimana menciptakan perubahan nyata yang positif bagi kehidupan orang banyak.
Aku kini telah dikaruniai dua orang anak yang lucu dan menggemaskan, bernama Rafi dan Aluna. Setiap pagi, mereka selalu menyambutku dengan pelukan yang hangat, menjadi sumber energiku yang tak pernah habis.
Setiap malam, sebelum mereka terlelap tidur, aku selalu membacakan buku cerita untuk mereka berdua. Setelah mereka tertidur pulas, aku sering kali melangkah keluar rumah sendirian, menatap hamparan bintang di langit malam, dan berbisik pelan ke udara, "Terima kasih, Ayah. Aku telah melanjutkan langkahmu."
Kini, aku akhirnya bisa menikmati hasil kerja kerasku selama ini. Meskipun selama ini perjuangan yang aku tempuh terasa sangat menyiksa, berat, dan dipenuhi rintangan yang menguras air mata, namun aku tahu bahwa segala pengorbanan itu sangatlah sepadan. Aku tahu bahwa untuk menggapai mimpi yang besar, dibutuhkan keberanian yang jauh lebih besar pula untuk bangkit dari kegagalan.
Di ruang kerjaku yang nyaman saat ini, tergantung sebuah lukisan kecil hasil karya tangan mungil Rafi. Lukisan itu menggambarkan sebuah gedung perusahaan raksasa dengan warna-warni krayon yang ceria, dan di bawahnya terdapat sebuah tulisan besar yang ditulis dengan huruf kapital yang belum terlalu rapi.
"AKHIR DARI PERJALANAN HIDUP."
Selesai sudah. Semua mimpiku yang dulunya dianggap mustahil kini telah tercapai sepenuhnya. Aku belajar begitu banyak makna kehidupan dari perjalanan hidup yang telah aku tempuh. Sekarang, tibalah saatnya bagiku untuk sejenak beristirahat dan menikmati hasil kerja keras tanpa lelah ini.
Aku memilih untuk hidup dengan tenang dan damai di sebuah daerah kecil yang asri di pinggiran Jogja, menghabiskan masa tuaku bersama istri tercinta dan keluarga kecilku yang bahagia. Inilah hasil sepadan yang aku dapatkan setelah bertahun-tahun bekerja keras memeras keringat tanpa mengenal kata lelah.
~ TAMAT ~








