- Wisuda SMP-SMA Ar-Rohmah Putra Berlangsung Khidmat, Angkatan 30 Marvelous
- Ukir Kenangan Terakhir, Kelas 9 SPARTA Outing Class to Mikutopia, Batu
- Tanding Lagi! SPARTA FC Tatap SMAHIK CUP Tingkat Kabupaten
- 3 Santri SPARTA Raih Medali di MASCO 2026 Tingkat Nasional
- Taekwondo SPARTA Berhasil Ukir Prestasi Kembali!
- Euforia Outing Angkatan di Lembah Tumpang Malang
- Inauguration Reformation GPH 2026/2027
- Pelantikan ABABIL SMP Ar-Rohmah Putra 2026
- Berlangsung Meriah, UKK SPARTA Sesi 2, Kembali Hadirkan Wali Santri
- PERSAHABATAN KALA PERBEDAAN
BUKAN SEKADAR TEMAN
Karya: Ghaisan Fadhil A.
Berita Terkait
- JEJAK KENANGAN DI BAWAH BAYANG ARJUNO0
- PERSAHABATAN DI TENGAH BISINGNYA JAKARTA 0
- PANDANGAN PERTAMA0
- SAHABAT SETIA SELAMANYA0
- LANGKAH KECIL DI JALAN BERLUMPUR 0
- AKHIR DARI SEBUAH PERJALANAN 0
- MALING!!!!!!!0
- AWAN DI ATAS PUNCAK 0
- DI ANTARA SENJA YANG BELAJAR BERTAHAN 0
- NARA0
Berita Populer
- Persiapan Asesmen Nasional Berbasis Komputer, Santri SPARTA Serius Menghadapi Simulasi ANBK
- Keberangkatan Kontingen Tapak Suci Sparta Menuju Kejurnas Airlangga National Open 2025
- SMP Ar Rohmah Gelar Lomba HUT RI ke-80 dengan Semangat Kebersamaan dan Prestasi
- Upacara HUT RI ke-80 di LPI Ar Rohmah Hidayatullah Malang
- Siap Terbang Tinggi, Tiga Santri Berjuang di Final Round KSN-R 7
- Raih Juara 3, Tim Futsal SPARTA Berjaya di Hidayatullah Festival Olahraga(HiFO) 2024 se Jatim
- SMP AR ROHMAH RAIH PRESTASI GEMILANG DI KEJURNAS TAPAK SUCI 2025
- Dua Santri Sparta Raih Juara KSNR di Tangerang Selatan
- Santri SMP Ar Rohmah Raih Medali Emas dan Perak di Ajang KSNR Tangerang Selatan
- Tapak Suci SPARTA Sabet Juara Umum 1 Kategori Pra Remaja di GOR Ken Arok Malang
BUKAN SEKADAR TEMAN
Karya: Ghaisan Fadhil A.
Di ufuk timur, semburat jingga fajar perlahan menyingsing, membawa serta kehangatan mentari pagi yang mengusir embun di dedaunan. Setiap kali menatap pagi yang damai seperti ini, ingatanku selalu melayang pada sebuah ikatan persahabatan yang telah terjalin selama belasan tahun lamanya.
Namaku Rudy. Sejak masih balita, aku memiliki seorang sahabat karib yang rumahnya hanya berjarak beberapa langkah dari rumahku. Namanya Bambang. Dia adalah sahabat sejati yang selalu ada untukku, baik di saat tawa menghiasi hari maupun ketika air mata kesedihan menetes tanpa henti.
Meskipun kami bersahabat erat, bukan berarti hubungan kami selalu mulus tanpa hambatan. Usiaku dan Bambang terpaut selisih satu tahun. Aku lebih tua darinya. Perbedaan usia yang tidak terlalu jauh ini sering kali membuat kami merasa seperti teman sebaya yang tak mau mengalah satu sama lain.
Sewaktu masih kecil, pertengkaran adalah hal yang sangat lumrah terjadi di antara kami. Kami sering berselisih paham hanya karena berebut mainan robot-robotan, atau berdebat tentang siapa yang berhak menjadi pahlawan saat bermain perang-perangan. Jika pertengkaran sudah tak terelakkan, biasanya akulah yang pada akhirnya memilih untuk mengalah kepadanya, menyadari posisiku sebagai sosok kakak.
Orang tua kami yang sudah saling mengenal dan bertetangga dengan baik pun tak pernah ambil pusing dengan pertengkaran kecil itu. Setiap kali kami menangis dan saling mengadu, mereka hanya akan tersenyum bijak dan menasihati kami dengan lembut. Mereka selalu memberikan pengertian bahwa pertengkaran di masa kanak-kanak adalah hal yang wajar karena kami belum memahami makna berbagi yang sesungguhnya.
Waktu bergulir dengan sangat cepat, bagaikan pasir yang lolos dari genggaman tangan. Tanpa terasa, kami berdua telah tumbuh menjadi remaja yang mulai mencari jati diri. Aku sudah duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Atas (SMA), sementara Bambang tengah bersiap menghadapi masa akhir di kelas tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Sedari bangku Sekolah Dasar hingga jenjang ini, kami tidak pernah berada di satu sekolah yang sama. Namun, perbedaan almamater itu sama sekali tidak melonggarkan ikatan persahabatan kami. Kami tetap sering menghabiskan waktu luang bersama, sekadar bermain bola di lapangan kompleks atau berdiskusi tentang masa depan.
Aku masih ingat dengan jelas suatu sore ketika kami duduk bersantai di teras rumahku, ditemani dua gelas es teh manis dan sepiring pisang goreng hangat. Saat itu, Bambang sedang menunggu pengumuman hasil ujian kelulusannya.
"Nanti rencananya kamu mau lanjut ke mana, Bang? Mau masuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau SMA?" tanyaku dengan wajah penasaran, membuka obrolan di sore yang santai itu.
Bambang menyesap es tehnya perlahan sebelum menjawab, "Aku rencananya mau masuk SMA saja, Rud."
"Oh, mau masuk SMA ya? Kalau begitu, kamu sudah kepikiran mau mengambil jurusan apa nanti? IPA atau IPS?" cecarku lagi memancing antusiasmenya.
Bambang menghela napas panjang dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jujur saja, aku masih bingung banget nih mau mengambil jurusan apa. Lagipula, aku juga masih deg-degan menunggu hasil ujian kelulusanku keluar. Semoga saja nilaiku cukup untuk masuk ke SMA negeri favorit," jawabnya dengan nada penuh harap yang tersirat dari suaranya.
Tahun demi tahun kembali berlalu, membawa kami pada fase kedewasaan yang penuh dengan tuntutan dan tanggung jawab. Kini, kami berdua telah berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir di universitas yang berbeda. Fase ini adalah fase yang paling menguras tenaga, pikiran, dan emosi. Kami sama-sama sedang berjuang mati-matian menyelesaikan tugas akhir atau skripsi yang tak jarang membuat kami kurang tidur dan stres berat.
Menyadari betapa penatnya pikiran kami, suatu malam Bambang mencetuskan sebuah ide yang cukup gila. Ia mengajakku untuk melakukan perjalanan liburan ke luar negeri, tepatnya ke Malaysia, sebagai bentuk pelarian sejenak alias healing sebelum kami benar-benar disibukkan dengan revisi skripsi tahap akhir. Setelah menabung selama beberapa bulan dan mencari tiket penerbangan promo yang murah, rencana itu pun akhirnya terwujud.
Setibanya di Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia, kami langsung menuju hotel tempat kami menginap untuk menaruh barang-barang. Perjalanan udara yang cukup memakan waktu ditambah cuaca tropis yang terik membuat kami merasa sangat kelelahan.
Malam harinya, sebuah kejadian konyol namun menjengkelkan terjadi. Bambang meminta izin untuk keluar sebentar ke minimarket di seberang jalan untuk membeli camilan dan minuman ringan. Aku yang sudah sangat mengantuk memilih untuk tetap berada di kamar dan berbaring di atas kasur empuk. Tanpa sadar, aku tertidur pulas dan tak sengaja menekan tombol kunci pintu dari dalam.
Setengah jam kemudian, Bambang kembali dari minimarket. Ia mengetuk pintu kamar berulang kali, namun aku yang sudah terlelap dalam alam mimpi sama sekali tidak mendengarnya.
"Rudy... buka pintunya!" teriak Bambang dari luar lorong hotel. Karena tidak ada sahutan, ia menaikkan nada suaranya. "Rudy, buka pintunya! Ini aku, Bambang!"
Karena masih tak ada jawaban, Bambang mulai panik dan berteriak dengan sangat keras hingga suaranya menggema di sepanjang lorong, nyaris membangunkan tamu di kamar lain.
"RUDY! BUKA PINTUNYAAA!"
Sayup-sayup, suara teriakan yang melengking itu akhirnya berhasil menembus gendang telingaku. Aku terbangun dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul. Sambil mengucek mata dan berjalan gontai, aku menghampiri pintu. Namun, karena pikiranku masih setengah sadar, aku justru bertanya dari balik pintu yang masih tertutup.
"Siapa di luar?" tanyaku dengan suara serak.
"Di luar siapa?!" ulangku lagi karena tidak mendengar jawaban yang jelas.
Dari balik pintu, terdengar dengusan kesal yang sangat keras. "Ini aku, Bambang! Bukain pintunya cepat!"
Aku pun memutar kunci dan membuka pintu. Begitu melihat wajah Bambang yang memerah karena kesal, tawaku langsung meledak. "Ya ampun, Bambang! Tak kirain tadi suara setan atau orang jahat. Ditanyain dari tadi malah nggak jawab-jawab!" ujarku sambil tertawa terbahak-bahak.
Bambang langsung menerobos masuk dan melempar kantong belanjanya ke atas meja. "Setan gundulmu! Aku sudah teriak-teriak di depan pintu sampai tenggorokanku kering, kamu malah enak-enakan tidur!" gerutunya.
"Ya sudah, maaf, maaf. Sana kamu siap-siap, habis ini katanya kita mau jalan-jalan keliling kota," kataku mencoba menenangkannya.
Bambang langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Aku mau tidur dulu sebentar, Rud. Ngantuk banget rasanya gara-gara nungguin kamu bukain pintu tadi. Nanti kalau kamu sudah selesai mandi dan siap-siap, baru bangunin aku ya," ucapnya sambil memejamkan mata.
"Oke, siap," jawabku singkat sebelum melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah kami berdua selesai bersiap-siap dan berganti pakaian, kami segera turun ke lobi hotel untuk menemui pemandu wisata lokal yang sudah kami sewa. Destinasi pertama dan yang paling wajib dikunjungi dalam daftar perjalanan kami adalah Petronas Twin Towers (Menara Kembar Petronas).
Setibanya di kawasan Menara Kembar, suasana sangat ramai oleh lautan manusia dari berbagai negara. Gedung pencakar langit yang menjulang megah itu memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan mata. Kami sibuk mengambil banyak foto dari berbagai sudut sebagai kenang-kenangan.
Namun, di tengah asyiknya berfoto, sebuah malapetaka tak terduga datang menghampiri. Bambang tiba-tiba merogoh-rogoh saku celananya dengan panik. Ia kemudian meraba punggungnya, dan wajahnya seketika berubah menjadi pucat pasi bak mayat.
"Rud... tas selempang kecilku mana ya?" tanyanya dengan suara bergetar dan napas memburu.
Aku menoleh, menatapnya dengan kening berkerut. "Tas selempang? Bukannya tadi kamu pakai terus dari hotel? Jangan bercanda, Bang. Paspor dan dompetmu kan ada di dalam situ semua!"
"Aku nggak bercanda, Rud! Tasnya nggak ada! Tadi seingatku aku taruh di kursi taman waktu kita makan es krim, tapi sekarang..." Bambang menggigit bibir bawahnya dengan raut ketakutan yang luar biasa.
Mendengar kecerobohan itu, emosiku yang sudah tertumpuk oleh rasa lelah seketika meledak. Di tengah keramaian alun-alun, aku membentaknya tanpa tedeng aling-aling. "Kamu ini bagaimana sih, Bang?! Dari awal berangkat aku sudah berkali-kali mengingatkanmu untuk menjaga barang bawaan yang penting! Paspor itu ibarat nyawa kita di negara orang! Kalau hilang beneran, kita mau pulang ke Indonesia pakai apa?! Berenang melewati selat Malaka?!" cecarku dengan nada tinggi dan marah.
Bambang menundukkan kepalanya, tak berani menatap mataku. "Maaf, Rud. Aku benar-benar lupa. Aku terlalu asyik memotret gedung tadi. Terus sekarang kita harus bagaimana?" ucapnya lirih.
Amarahku memuncak. Tekanan dari stres menyusun skripsi yang belum selesai, ditambah rasa lelah setelah perjalanan panjang, membuat egoku mengambil alih. "Kamu selalu saja begini, Bang! Selalu ceroboh dan tidak pernah bisa diandalkan! Kalau sudah begini, aku juga yang harus ikut repot menanggung akibat kebodohanmu!" bentakku lagi.
Bambang yang biasanya selalu mengalah, kali ini ikut terpancing emosinya. Ia mendongak, menatapku dengan mata berkaca-kaca yang menyiratkan rasa sakit hati. "Iya, aku tahu aku ceroboh! Tapi apa kamu harus terus-terusan memarahiku seperti ini di depan banyak orang?! Aku sahabatmu, Rud! Bukan bawahanmu! Kalau kamu merasa direpotkan, ya sudah, tinggalkan saja aku di sini sendirian! Biar aku urus masalahku sendiri ke kedutaan!" teriak Bambang, lalu berbalik dan berjalan cepat menjauhiku, menembus kerumunan turis yang padat.
Aku berdiri mematung di bawah bayang-bayang Menara Kembar Petronas yang megah. Napasku tersengal, dadaku naik turun menahan emosi yang masih menggelegak. Namun, seiring berjalannya waktu, amarah itu perlahan memudar, digantikan oleh rasa penyesalan yang amat dalam. Aku teringat kembali pada masa kecil kami, pada senyum tulus Bambang yang selalu ada di saat aku sedang terpuruk, dan pada janji persahabatan kami yang takkan pernah pudar oleh waktu. Aku menyadari bahwa membentaknya bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah ini.
Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera berlari menyusul Bambang. Aku menemukannya sedang duduk termenung di sudut sebuah taman yang sepi, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Bahunya bergetar menahan isak tangis.
Aku mendekat dan duduk di sebelahnya. Kuletakkan tanganku di atas pundaknya. "Bang... maafin aku ya. Aku tadi sudah kelewatan. Aku terlalu emosi dan tidak memikirkan perasaanmu. Kita ini sahabat, masalahmu adalah masalahku juga. Kita cari tas itu sama-sama ya sampai ketemu," ucapku dengan suara yang jauh lebih lembut dan tulus.
Bambang menoleh, menatapku dengan mata yang sembap. Ia mengangguk pelan dan tersenyum tipis. "Aku juga minta maaf ya, Rud. Aku yang salah karena terlalu teledor."
Kami pun segera bangkit dan bergegas menyusuri kembali setiap tempat yang telah kami kunjungi sebelumnya. Kami menyisir setiap sudut taman, bertanya kepada petugas keamanan, hingga akhirnya kami kembali ke kafe kecil tempat kami membeli es krim siang tadi. Beruntung, keajaiban masih berpihak pada kami. Tas selempang milik Bambang ternyata diamankan oleh salah seorang pelayan kafe yang jujur dan baik hati. Paspor, dompet, dan semua dokumen penting di dalamnya masih utuh tanpa kurang satu apa pun.
Kami berdua menghela napas lega yang tiada tara, saling berpelukan erat, dan menertawakan kebodohan kami sendiri hari ini. Sisa liburan di Malaysia kami habiskan dengan mengunjungi berbagai tempat wisata bersejarah dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan bahagia. Insiden hilangnya paspor itu menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kami.
Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi negeri jiran, kami pun melakukan persiapan untuk kembali ke Tanah Air. Kami berpisah di bandara, kembali ke rutinitas masing-masing dengan tekad yang baru. Kami siap untuk kembali memusatkan fokus pada penyelesaian skripsi yang sempat tertunda.
Namun, di atas segalanya, perjalanan ini telah membuktikan satu hal bahwa persahabatan yang terjalin sejak kecil tidak akan pernah hancur hanya karena sebuah pertengkaran dan ujian sesaat. Kami telah melewati banyak hal bersama, dan kami akan terus melangkah maju menghadapi kerasnya dunia sebagai dua orang sahabat yang tak terpisahkan.
~ TAMAT ~








