LANGKAH KECIL DI JALAN BERLUMPUR
Karya: Axcel Akmal Al Ghafran

By Ust. Rosidi Hadi Siswanto, S.Pd.,Gr 17 Apr 2026, 16:01:40 WIB Karya Siswa

LANGKAH KECIL DI JALAN BERLUMPUR

Karya: Axcel Akmal Al Ghafran

 

Pagi itu, udara dingin di kota Nganjuk masih terasa menusuk hingga ke tulang. Di dalam sebuah kamar kos yang sederhana, suara alarm dari telepon genggam telah berdering bersahut-sahutan sejak pukul setengah lima subuh. Namun, sosok pemuda bernama Erwin masih terlelap dalam buaian mimpi, meringkuk di balik selimut tebalnya. Baru pada pukul lima pagi tepat, Erwin tersentak bangun. Matanya terbelalak ngeri saat melihat jarum jam dinding.

"Astaga, aku kesiangan!" serunya panik, langsung melompat dari kasur yang hangat.

Rasa bersalah seketika menyergap dadanya. Ia telah mengatur alarm sedemikian rupa, namun rasa kantuk rupanya jauh lebih kuat mengalahkan niatnya. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Erwin segera berlari ke kamar mandi untuk mengambil air wudu. Ia menggelar sajadahnya, menunaikan salat Subuh dengan khusyuk, dan memanjatkan doa memohon ampunan kepada Sang Pencipta.

Setelah melipat sarung dan sajadahnya dengan rapi, ia duduk termenung di tepi ranjang. Ia merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya terlelap begitu pulas padahal pagi ini ia memiliki janji yang cukup penting.

Hari ini, Erwin sudah bersepakat dengan sahabat karibnya, Ridho, untuk berolahraga bersama. Awalnya mereka bingung ingin melakukan olahraga apa, namun Erwin akhirnya mengusulkan untuk jogging di Alun-Alun Nganjuk. Alasannya sangat sederhana. Erwin memiliki sepasang sepatu lari bermerek Adidas yang selama ini hanya menganggur di dalam rak. Sayang sekali rasanya jika sepatu mahal hasil tabungannya itu tidak pernah digunakan untuk memeras keringat.

Saat Erwin sedang asyik membersihkan debu dari sepatunya, ponselnya bergetar hebat di atas meja. Nama Ridho berkedip-kedip di layar.

"Woi, Win! Di mana kamu? Sepuluh menit lagi sudah jam setengah tujuh, nih! Aku sudah sampai duluan!" seru Ridho dari seberang telepon dengan nada tidak sabar.

"Iya, iya, sabar sedikit kenapa? Ini aku lagi bersiap-siap membersihkan sepatu. Tunggu di dekat gerbang masuk, ya!" balas Erwin sambil buru-buru mematikan sambungan telepon.

Erwin segera memacu sepeda motornya menembus jalanan kota Nganjuk yang mulai ramai oleh aktivitas warga. Sesampainya di alun-alun, ia memarkirkan motornya dan langsung menemui Ridho yang sudah melakukan pemanasan. Mereka pun mulai berlari mengelilingi alun-alun yang sejuk dan rindang. Di sela-sela napas yang tersengal, percakapan mereka beralih pada tugas pengabdian masyarakat (Kuliah Kerja Nyata) yang harus segera mereka laksanakan bulan depan bersama teman-teman kampus.

"Kamu sudah punya pandangan desa mana yang mau kita jadikan tempat program kerja kita, Win?" tanya Ridho sambil menyeka keringat di dahinya. Erwin memperlambat lari kecilnya menjadi langkah kaki biasa.

"Kemarin aku sempat dengar dari salah satu dosen kita tentang sebuah desa di pinggiran kabupaten. Namanya Desa Sukamaju. Katanya, desa itu benar-benar tertinggal gara-gara akses jalannya yang hancur lebur. Bagaimana kalau kita survei ke sana siang ini?"

"Boleh juga. Lagipula, kita butuh program kerja fisik yang dampaknya bisa langsung dirasakan oleh warga dalam jangka panjang," jawab Ridho setuju.

Siang harinya, setelah berganti pakaian yang lebih rapi, Erwin dan teman-teman sekelompoknya meluncur menuju Desa Sukamaju. Namun, perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu empat puluh lima menit itu berubah menjadi mimpi buruk. Memasuki batas wilayah desa, jalanan aspal mendadak berubah menjadi jalan tanah liat yang berlubang sangat dalam dan tertutup kubangan lumpur sisa hujan semalam. Sepeda motor mereka beberapa kali nyaris tergelincir.

Sesampainya di balai desa, mereka disambut oleh Kepala Desa, seorang pria paruh baya yang wajahnya menyiratkan kelelahan yang amat sangat. Setelah berbincang panjang lebar dan melakukan survei keliling desa, Erwin menyadari betapa mirisnya kondisi tempat tersebut.

"Beginilah keadaan desa kami, Nak Erwin," ucap Kepala Desa sambil menunjuk jalanan utama desa yang lebih mirip area persawahan daripada sebuah akses jalan warga.

"Pemerintah sebenarnya sudah berjanji akan memberikan bantuan material untuk pengaspalan jalan. Tapi, bantuan itu terus tertunda karena truk-truk besar pengangkut material tidak ada yang berani masuk. Lumpur di jalan portal desa itu terlalu dalam. Kalau dipaksakan, truknya pasti akan terjebak dan amblas."

Mendengar penuturan Kepala Desa, otak Erwin berputar cepat. Ia mengumpulkan teman-temannya untuk berdiskusi darurat merancang program kerja yang tepat sasaran.

"Kita tidak bisa membiarkan kondisi ini berlarut-larut. Kalau truk material tidak bisa masuk, perbaikan jalan desa ini tidak akan pernah terealisasi sampai kapan pun," ujar Erwin dengan raut wajah serius.

"Program kerja utama kita harus berfokus pada perbaikan landasan darurat di jalan masuk itu terlebih dahulu! Kita kumpulkan warga, kita gotong royong meratakan lumpurnya secara manual, dan kita buat landasan dari bebatuan sungai agar truk material bisa lewat!"

Teman-teman Erwin dan Kepala Desa sangat takjub dan menyetujui ide cemerlang tersebut dengan penuh semangat.

Keesokan paginya, suasana desa menjadi sangat sibuk. Kepala Desa telah mengumpulkan seluruh warga, mulai dari bapak-bapak, pemuda desa, hingga ibu-ibu yang bertugas di dapur umum untuk menyiapkan konsumsi agar tenaga para pekerja bisa terisi kembali. Mereka semua berkumpul di titik portal desa yang paling parah. Semua orang membawa cangkul, sekop, dan karung-karung berisi batu kali.

Namun, di sinilah konflik dan ujian sesungguhnya dimulai. Tepat ketika warga baru saja mulai bekerja meratakan tanah, awan mendung pekat yang sedari tadi menggantung gelap akhirnya menumpahkan hujan yang sangat lebat. Tanah yang tadinya mulai sedikit padat, kembali berubah menjadi bubur lumpur yang sangat licin dan lengket. Di saat yang bersamaan, terdengar suara klakson yang memekakkan telinga dari kejauhan. Tiga buah truk raksasa pengangkut material aspal dan semen titipan pemerintah rupanya datang lebih cepat dari jadwal semula.

Truk pertama mencoba memaksa masuk melewati portal desa. Namun nahas, ban belakangnya yang berukuran raksasa itu selip dan terperosok ke dalam lubang lumpur yang sangat dalam. Mesin truk menggerung keras, roda-rodanya berputar putus asa menyemburkan cipratan lumpur ke segala arah, namun truk itu sama sekali tidak bisa bergerak maju. Truk kedua dan ketiga yang berada di belakangnya terpaksa berhenti total. Kepanikan dan keputusasaan pun langsung melanda warga.

Sang sopir truk pertama turun dengan wajah emosi. "Wah, tidak bisa ini, Pak! Jalanannya terlalu hancur! Truk saya bisa rusak parah kalau dipaksakan. Kami putar balik saja, materialnya tidak jadi diturunkan hari ini!" seru sang sopir di bawah guyuran hujan lebat.

Mendengar ancaman itu, harapan warga desa seketika runtuh. Beberapa bapak-bapak membuang cangkulnya dengan raut wajah kecewa. Mereka merasa usaha gotong royong dari pagi ini sia-sia belaka. Desa mereka seolah memang sudah ditakdirkan untuk tertinggal dan terisolasi.

Melihat semangat warga yang mulai padam, dada Erwin bergemuruh hebat. Ia tidak rela jika perjuangan ini berhenti sampai di sini. Tanpa memedulikan sepatu Adidas kebanggaannya yang kini sudah berubah warna tertutup tanah, maupun pakaiannya yang basah kuyup, Erwin berlari ke arah truk yang terjebak tersebut. Ia berdiri di tengah guyuran hujan, menghadap ke arah seluruh warga dengan tatapan mata yang menyala penuh tekad.

"Bapak-bapak! Ibu-ibu! Apakah kita akan menyerah begitu saja pada lumpur ini?!" teriak Erwin sekuat tenaga, suaranya mencoba mengalahkan deru hujan dan petir yang bersahutan.

"Bertahun-tahun desa ini terisolasi! Kalau truk ini putar balik sekarang, entah kapan lagi bantuan ini akan datang! Ini bukan jalan milik pemerintah, ini jalan milik kita semua! Masa depan desa ini ada di tangan kita sendiri! Ayo, kita bantu dorong truk ini sama-sama!"

Kata-kata Erwin yang berapi-api itu seakan menyihir seluruh warga. Semangat yang sempat padam kini kembali menyala berkobar-kobar. Ridho dan teman-teman mahasiswa lainnya menjadi yang pertama berlari menyusul Erwin, memosisikan diri di belakang bak truk besi tersebut. Melihat para mahasiswa dari kota yang sudi berlumuran lumpur kotor demi desa mereka, puluhan bapak-bapak dan pemuda desa pun ikut berteriak semangat dan berlari merubung truk tersebut.

"Satu... dua... tiga... DORONG!!!" teriak Erwin memberikan komando dengan lantang.

Puluhan pasang tangan mendorong bak truk raksasa itu dengan seluruh sisa tenaga yang ada. Otot-otot menegang, urat leher menonjol, dan napas mereka memburu hebat melawan hawa dingin. Sopir truk kembali menginjak pedal gas dalam-dalam. Roda truk berputar liar, menyemburkan lumpur pekat yang mengenai wajah dan pakaian Erwin, namun pemuda itu tidak mundur selangkah pun.

"Ayo! Sedikit lagi! Terus dorooong!!!" teriak Kepala Desa yang juga ikut mendorong di sebelah Erwin.

Brummmm!

Dengan dorongan tenaga manusia yang luar biasa bersatu padu, ban truk itu akhirnya berhasil mendapatkan pijakan pada bebatuan sungai yang sebelumnya telah disebar warga. Truk raksasa itu perlahan-lahan merangkak naik, keluar dari kubangan lumpur maut, dan berhasil melintasi portal desa menuju area tanah yang jauh lebih keras!

Sorak-sorai kemenangan seketika meledak memecah derasnya hujan. Warga saling berpelukan, menangis terharu, dan melompat kegirangan. Sopir truk turun dan menyalami Erwin dengan tatapan penuh rasa takjub dan hormat.

Seharian penuh, berkat kerja keras dan gotong royong yang tak kenal lelah itu, seluruh material berhasil diturunkan dengan selamat. Proyek perbaikan jalan dan pengaspalan desa akhirnya bisa dilaksanakan pada hari-hari berikutnya tanpa hambatan yang berarti.

Satu bulan kemudian, di hari terakhir masa pengabdian mereka, Erwin berdiri menatap perbatasan desa. Jalanan yang dulunya berupa kubangan lumpur mematikan, kini telah berubah menjadi jalanan aspal yang mulus dan kokoh. Akses perputaran ekonomi warga terbuka lebar, anak-anak bisa berangkat ke sekolah tanpa takut terjatuh, dan senyum cerah kembali menghiasi wajah setiap penduduk Desa Sukamaju.

Erwin menunduk, menatap sepatu lari kesayangannya yang kini sudah usang, tergores, dan tak lagi cemerlang akibat kerasnya lumpur dan bebatuan hari itu. Namun, ia justru tersenyum sangat lebar. Sepatu ini tidak hanya membawanya berlari mengelilingi alun-alun kota, tetapi juga membawanya melangkah jauh untuk mengukir sebuah perubahan besar yang abadi.

Di balik segala kepanikan di pagi hari saat ia terbangun kesiangan, Erwin belajar satu pelajaran hidup yang paling berharga: bahwa sebuah langkah kecil yang diambil dengan keberanian, kepedulian, dan kebersamaan, mampu meratakan jalanan yang paling berlumpur dan mustahil sekalipun.

~ TAMAT ~




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment