JEJAK KENANGAN DI BAWAH BAYANG ARJUNO
Karya: Furqon Yuki Pratama
Berita Terkait
- PERSAHABATAN DI TENGAH BISINGNYA JAKARTA 0
- PANDANGAN PERTAMA0
- SAHABAT SETIA SELAMANYA0
- LANGKAH KECIL DI JALAN BERLUMPUR 0
- AKHIR DARI SEBUAH PERJALANAN 0
- MALING!!!!!!!0
- AWAN DI ATAS PUNCAK 0
- DI ANTARA SENJA YANG BELAJAR BERTAHAN 0
- NARA0
- AMBISI DI UJUNG PENA0
Berita Populer
- Persiapan Asesmen Nasional Berbasis Komputer, Santri SPARTA Serius Menghadapi Simulasi ANBK
- Keberangkatan Kontingen Tapak Suci Sparta Menuju Kejurnas Airlangga National Open 2025
- Upacara HUT RI ke-80 di LPI Ar Rohmah Hidayatullah Malang
- SMP Ar Rohmah Gelar Lomba HUT RI ke-80 dengan Semangat Kebersamaan dan Prestasi
- Siap Terbang Tinggi, Tiga Santri Berjuang di Final Round KSN-R 7
- Raih Juara 3, Tim Futsal SPARTA Berjaya di Hidayatullah Festival Olahraga(HiFO) 2024 se Jatim
- SMP AR ROHMAH RAIH PRESTASI GEMILANG DI KEJURNAS TAPAK SUCI 2025
- Dua Santri Sparta Raih Juara KSNR di Tangerang Selatan
- Santri SMP Ar Rohmah Raih Medali Emas dan Perak di Ajang KSNR Tangerang Selatan
- Pawai Maulid Nabi dan Festival Cinta Rasul 2025 Semarak di Ar Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang
JEJAK KENANGAN DI BAWAH BAYANG ARJUNO
Karya: Furqon Yuki Pratama
Suatu hari di Yogyakarta, Fahad Al Kareef atau yang lebih akrab disapa Kareef oleh teman-temannya, baru saja selesai melewati masa ujian nasional dengan tingkat niat yang bisa dibilang sangat memprihatinkan. Kareef adalah salah satu siswa di SMA Negeri 1 Yogyakarta. Walaupun sekolahnya itu dikenal sebagai salah satu SMA negeri terbaik dan paling prestisius di Kota Pelajar, bagi seorang Kareef, masa SMA hanyalah rutinitas biasa.
"Yaudahlah ya, paling juga cuma tiga tahun. Kalaupun lebih, ya nggak bakal lebih-lebih banget," begitu prinsip santainya.
Hingga pada suatu malam, sahabat kentalnya yang bernama Hadi tiba-tiba menyepam grup chat tongkrongan mereka. "Muncak yok ke Arjuno!" ajak Hadi dengan semangat menggebu-gebu.
Membaca pesan itu, Kareef hanya bisa menepuk jidatnya pelan. Se-sering-seringnya ia mendaki gunung, ia sudah pernah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak sembarangan mendaki Gunung Arjuno. Alasannya sangat jelas. Pertama, gunung itu terkenal dengan aura mistis dan mitosnya yang kental. Kedua, suhunya teramat sangat dingin. Dan ketiga, lokasinya ada di Malang Raya. Gila saja!
Selama ini Kareef hanya berani mendaki gunung-gunung yang treknya tergolong santai dan ramah pendaki, seperti Gunung Andong, Bromo, Penanggungan, atau Lawu. Itu pun tingginya rata-rata hanya berkisar di angka 2.000-an meter di atas permukaan laut. Sementara Arjuno? Ketinggiannya lebih dari 3.300 meter!
Tapi ya, namanya juga darah muda. Urat takutnya sering kali kalah oleh rasa penasaran dan gengsi. "Nyoba dikit nggak apa-apalah. Sekalian perpisahan masa putih abu-abu," batin Kareef akhirnya mengalah.
Alkisah, Kareef sudah sibuk mengemas barang-barang ke dalam carrier-nya. Ia sudah menyewa tenda hasil patungan, membeli peralatan masak portable, dan menyiapkan logistik. Enaknya, untuk urusan logistik makanan ini, Kareef tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun.
Bagaimana bisa? Ceritanya begini. Kemarin Hadi mengeluh di grup bahwa dana tabungannya sangat pas-pasan. Anak-anak di grup langsung menyindirnya habis-habisan. "Lah gimana sih, ngajak muncak tapi dompet kowoh (kosong)!" ejek mereka.
Berhubung uang saku Kareef juga sebenarnya tinggal lima ratus ribu rupiah, ia pun mencari akal. Kebetulan sekali, ibunda Kareef adalah seorang pemilik agen frozen food yang cukup besar di Jogja. Mumpung ada stok yang bisa "dibajak", Kareef pun mengajukan diri.
"Jo ngawur kalian semua. Gini aja, biar aku yang urus masalah makanan dan lauk-pauknya pakai stok ibuku. Uang kalian simpan saja buat sewa jeep sama tiket masuk," tawar Kareef yang langsung disambut sorak-sorai bak pahlawan.
Namun, tawaran baik hati Kareef itu ternyata membawa malapetaka tersendiri. Rombongan pendakian yang awalnya hanya direncanakan untuk empat sampai tujuh orang saja, tiba-tiba membengkak! Begitu mendengar ada sponsor makanan gratis dari Kareef, jumlah peserta yang ikut mendadak melonjak menjadi lima belas orang.
Yang lebih mengejutkan lagi bagi Kareef, dari belasan orang yang ikut mendaftar itu, terselip satu nama yang sangat tidak ia sangka yakni Aurel. Ya, Aurel sang wakil ketua OSIS yang terkenal galak, disiplin, dan tak pernah absen mengomeli Kareef jika ia ketahuan membolos atau melanggar aturan sekolah. Entah angin apa yang membawa gadis berwajah manis namun jutek itu ikut dalam rombongan pendakian ekstrem ini.
Singkat cerita, hari pendakian pun tiba. Perjalanan dari pos pendakian Tretes menuju pos-pos selanjutnya sangatlah menguras tenaga. Trek Gunung Arjuno yang dipenuhi oleh tanjakan bebatuan curam benar-benar menyiksa fisik belasan anak kota yang jarang berolahraga itu.
Memasuki hari kedua, saat mereka sedang berjalan menuju pos Lembah Kidang, ujian sesungguhnya datang menerjang. Cuaca yang awalnya cerah mendadak berubah menjadi mimpi buruk. Kabut tebal berwarna kelabu pekat turun bergulung-gulung, menutupi jarak pandang hingga menyisakan kurang dari dua meter. Tak lama berselang, hujan badai turun dengan sangat deras. Angin berhembus kencang, menembus jaket tebal mereka hingga ke sumsum tulang.
Kepanikan seketika melanda. Karena rombongan terlalu panjang dan tidak beraturan, mereka pun terpisah menjadi dua kelompok di tengah badai. Kareef, Hadi, Aurel, dan dua teman lainnya terputus dari rombongan depan.
"Kita nggak bisa lanjut jalan! Badainya terlalu kencang, kita bisa hipotermia!" teriak Hadi mencoba mengalahkan suara deru angin.
Aurel yang biasanya selalu terlihat kuat dan penuh wibawa di sekolah, kini tampak gemetar hebat. Bibirnya memucat pasi dan matanya berkaca-kaca menahan ketakutan. Melihat kondisi gadis itu, insting maskulin Kareef seketika mengambil alih. Ia menarik lengan Aurel dan membawa teman-temannya berlindung di bawah sebuah batu raksasa yang menjorok ke dalam, membentuk seperti gua kecil.
"Semuanya merapat! Hadi, bongkar flysheet tenda sekarang, kita buat bivak darurat!" komando Kareef dengan suara tegas yang belum pernah ia keluarkan sebelumnya di sekolah.
Setelah bivak darurat terpasang seadanya, Kareef langsung membongkar ranselnya. Ia mengeluarkan kompor kecil, menyeduh air panas, dan membuatkan teh manis hangat untuk mereka semua. Ia menyodorkan gelas aluminium pertama kepada Aurel yang masih menggigil kedinginan.
"Nih, minum dulu, Rel. Pelan-pelan. Lo nggak apa-apa kan?" tanya Kareef dengan nada yang jauh lebih lembut. Aurel menerima gelas itu dengan tangan bergetar.
Ia menatap mata Kareef dalam-dalam. "G-gue takut banget, Ref. Gimana kalau kita nggak bisa pulang?" isaknya pelan.
Kareef menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat, mencoba menyalurkan sedikit kehangatan. "Tenang aja. Selama lo sama gue dan Hadi, lo bakal aman. Gue janji kita semua bakal turun dengan selamat. Udah, lo minum aja tehnya, abis ini gue masakin sosis frozen kesukaan lo semua."
Mendengar janji tulus dari Kareef, raut wajah Aurel perlahan mulai menenang. Di tengah badai yang mengamuk dan udara dingin yang menusuk tulang, sebuah kehangatan aneh mulai menyusup ke dalam dada keduanya. Momen di bawah batu raksasa Arjuno itu menjadi titik balik di mana tembok kecanggungan di antara si anak nakal dan sang wakil ketua OSIS perlahan runtuh.
Tiga bulan berlalu sejak pendakian bersejarah itu. Masa SMA telah benar-benar usai. Mereka semua disibukkan dengan urusan pendaftaran kuliah masing-masing, membuat intensitas komunikasi mulai merenggang. Kareef sendiri kembali menjaga jarak dari Aurel, merasa gengsi dan tidak percaya diri untuk mendekati gadis sesempurna itu.
Suatu malam, Kareef sedang asyik rebahan sambil melakukan panggilan video (video call) via grup WhatsApp dengan Hadi. Mereka asyik mengobrol ngalor-ngidul tentang persiapan OSPEK kampus. Namun, di tengah-tengah obrolan, tiba-tiba ada satu kontak yang ikut bergabung ke dalam panggilan video tersebut. Itu adalah Aurel!
Belum sempat Kareef memproses apa yang sedang terjadi, Hadi tiba-tiba mematikan kameranya dan membisukan mikrofonnya (mute). Di layar ponsel Kareef, hanya tersisa wajah cantiknya dan wajah Aurel yang sedang tersenyum canggung.
Satu detik kemudian, sebuah pesan teks masuk dari Hadi: - "Good luck, Ref! I love you, Bro! Hahaha!" -
"Hadi sialan! Dia sengaja ngejebak gue!" maki Kareef dalam hati, jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Hai, Had... eh, Ref. Udah lama ya kita nggak ngobrol," sapa Aurel memecah keheningan dengan senyum yang membuat pertahanan Kareef runtuh seketika.
Kareef menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hahaha... iya, Rel. A-apa kabar bunda lo?" tanyanya terbata-bata. Maklumlah, ia sama sekali tidak percaya diri jika harus berduaan (meski hanya lewat layar) dengan mantan wakil ketua OSIS yang pernah ia lindungi mati-matian di gunung itu.
Aurel terkekeh pelan. "Hihihi, nggak usah grogi kali, Ref. Santai aja. Alhamdulillah, Bunda gue sehat kok. Kalau lo gimana? Mobil lo... sehat?" pancing Aurel dengan nada jahil.
Kareef langsung menepuk jidatnya. Pertanyaan itu sukses membuka kembali memori usang saat mereka masih kelas sebelas dulu. Waktu itu, Aurel pernah memaksa ingin mencoba menyetir mobil milik Kareef sepulang dari acara kepanitiaan sekolah. Namun nahas, gadis itu panik dan nyerempet motor ibu-ibu di pertigaan jalan.
Namanya juga laki-laki sejati, Kareef langsung mengambil alih kursi kemudi dan pasang badan bertanggung jawab atas semua ganti rugi kepada ibu-ibu tersebut agar Aurel tidak dimarahi.
"Masih inget aja lo sama kejadian itu?! Udah lama banget padahal. Btw, mobilnya udah gue jual sih kemaren, hahaha," jawab Kareef mulai bisa mencairkan suasana.
"Hihihi, iya, Ref. Gue panik banget waktu nyerempet ibu-ibu itu. Sumpah, gue takut banget. Bukan takut sama ibu-ibunya doang sih, tapi gue takut lihat muka lo yang nahan murka. Gue kira lo bakal meledak dan marahin gue abis-abisan. Maaf banget ya, Ref, waktu itu ngerepotin lo terus," ucap Aurel dengan tatapan mata yang sangat tulus.
"Sama kayak waktu di Arjuno kemaren... lo selalu ada buat ngelindungin gue."
Wajah Kareef seketika memanas mendengar kalimat terakhir Aurel. Ia bingung harus menjawab apa. Kecanggungan yang manis kembali menyelimuti mereka berdua selama beberapa saat.
"E-eh... y-yaudah deh, Ref. Udah malem juga, gue mau tidur dulu ya. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Bye, Kareef," pamit Aurel cepat, wajahnya tampak sama merahnya dengan Kareef sebelum akhirnya ia memutuskan panggilan tersebut.
Begitu wajah Aurel hilang dari layar, kamera Hadi tiba-tiba menyala kembali. Wajah sahabatnya itu muncul dengan cengiran yang sangat lebar dan menyebalkan.
"Idiiiiih, si Fahad Al Kareef sok cool banget lo! Nggak salting apa lo, orang bini lo sendiri mau nyeplos bye-bye sambil malu-malu kucing gitu?!" ledek Hadi sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ah, elo sih Di, sialan banget ninggalin gue sendirian!" omel Kareef dengan wajah yang masih merah padam menahan rasa malu sekaligus salah tingkah.
"Lah, kok marah ke gue? Harusnya lo makasih, Bro! Kalo nggak gue pancing—"
TUT... TUT... TUT...
Kareef langsung mematikan sambungan telepon itu dengan perasaan kesal. Kesal karena diledek oleh Hadi, namun jauh di lubuk hatinya, ia juga merasa sangat bahagia. Malam itu, di bawah temaram lampu kamarnya, Kareef menyadari satu hal: bahwa jejak kenangan yang mereka tinggalkan di bawah bayang Gunung Arjuno ternyata berhasil membawa sebuah rasa baru yang jauh lebih mendebarkan daripada dinginnya badai.
~ TAMAT ~




