- Wisuda SMP-SMA Ar-Rohmah Putra Berlangsung Khidmat, Angkatan 30 Marvelous
- Ukir Kenangan Terakhir, Kelas 9 SPARTA Outing Class to Mikutopia, Batu
- Tanding Lagi! SPARTA FC Tatap SMAHIK CUP Tingkat Kabupaten
- 3 Santri SPARTA Raih Medali di MASCO 2026 Tingkat Nasional
- Taekwondo SPARTA Berhasil Ukir Prestasi Kembali!
- Euforia Outing Angkatan di Lembah Tumpang Malang
- Inauguration Reformation GPH 2026/2027
- Pelantikan ABABIL SMP Ar-Rohmah Putra 2026
- Berlangsung Meriah, UKK SPARTA Sesi 2, Kembali Hadirkan Wali Santri
- PERSAHABATAN KALA PERBEDAAN
PANDANGAN PERTAMA
Karya: Evan Rafif Prabowo
Berita Terkait
- LANGKAH KECIL DI JALAN BERLUMPUR 0
- AKHIR DARI SEBUAH PERJALANAN 0
- MALING!!!!!!!0
- AWAN DI ATAS PUNCAK 0
- DI ANTARA SENJA YANG BELAJAR BERTAHAN 0
- NARA0
- AMBISI DI UJUNG PENA0
- ES TEH TERAKHIR PAK SOMAD0
- ASRAMA NOMOR 99 0
- SAHABAT BARU DI DESA SUNYI 0
Berita Populer
- Persiapan Asesmen Nasional Berbasis Komputer, Santri SPARTA Serius Menghadapi Simulasi ANBK
- Keberangkatan Kontingen Tapak Suci Sparta Menuju Kejurnas Airlangga National Open 2025
- Upacara HUT RI ke-80 di LPI Ar Rohmah Hidayatullah Malang
- SMP Ar Rohmah Gelar Lomba HUT RI ke-80 dengan Semangat Kebersamaan dan Prestasi
- Siap Terbang Tinggi, Tiga Santri Berjuang di Final Round KSN-R 7
- Raih Juara 3, Tim Futsal SPARTA Berjaya di Hidayatullah Festival Olahraga(HiFO) 2024 se Jatim
- SMP AR ROHMAH RAIH PRESTASI GEMILANG DI KEJURNAS TAPAK SUCI 2025
- Dua Santri Sparta Raih Juara KSNR di Tangerang Selatan
- Santri SMP Ar Rohmah Raih Medali Emas dan Perak di Ajang KSNR Tangerang Selatan
- Pawai Maulid Nabi dan Festival Cinta Rasul 2025 Semarak di Ar Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang
PANDANGAN PERTAMA
Karya: Evan Rafif Prabowo
Pagi yang sejuk menyelimuti kompleks perumahan tempat Jason tinggal. Sisa embun semalam masih menetes perlahan dari dedaunan di halaman rumahnya. Di tengah keheningan fajar, suara azan Subuh berkumandang merdu dari masjid kompleks, menembus dinding kamar dan membangunkan Jason dari tidur lelapnya.
Pemuda bertubuh tegap itu mengerjap perlahan, mengumpulkan kesadarannya, lalu segera beranjak dari kasur empuknya. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu, membasuh wajahnya agar rasa kantuk yang menempel benar-benar hilang.
Setelah selesai berwudu, Jason menuruni tangga menuju lantai satu. Di ruang keluarga yang masih temaram, ia melihat mamanya sedang duduk khusyuk di atas sajadah, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Suaranya terdengar begitu menenangkan hati.
Mendengar langkah kaki dari arah tangga, wanita paruh baya itu menoleh dan tersenyum lembut. "Eh, anak Mama yang paling ganteng sudah bangun rupanya," sapa sang mama dengan nada penuh kasih sayang.
"Iya, Ma," jawab Jason sambil membalas senyuman mamanya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, mencari sosok yang biasanya sudah duduk bersantai di ruang tamu. "Loh, Papa kok tidak kelihatan, Ma? Biasanya jam segini sudah rapi."
"Oh, Papamu sudah berangkat duluan ke masjid, Sayang," jawab mamanya sambil menutup mushaf secara perlahan.
Jason mendesah pelan, sedikit mengerucutkan bibirnya. "Kok Papa tidak membangunkan dan mengajak aku berangkat bareng sih, Ma?"
Mamanya terkekeh pelan melihat tingkah putra semata wayangnya itu. "Kamu itu kalau dibangunkan susahnya minta ampun, Jason. Ya sudah, Papa tinggal saja daripada telat berjemaah. Sana cepat susul Papa ke masjid, keburu ikamah nanti."
"Yaudah, Ma. Jason berangkat ke masjid dulu ya, assalamualaikum!" pamit Jason seraya meraih dan mencium punggung tangan ibundanya.
Sesampainya di pelataran masjid kompleks, Jason berpapasan dengan sahabat baiknya, Thoriq, yang baru saja memarkirkan sepedanya.
"Eh, Thoriq! Tumben sekali kamu salat Subuh di masjid? Biasanya jam segini masih molor berjemaah dengan guling," goda Jason sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
Thoriq mendengus kesal namun bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. "Enak saja kamu kalau bicara, Son! Gini-gini aku ini anak alim tahu, calon imam idaman. Ayo buruan masuk, itu sudah qomat!" ajak Thoriq sambil menarik lengan Jason. Keduanya pun segera masuk ke dalam masjid dan merapatkan saf.
Seusai menunaikan salat Subuh berjemaah, Jason pulang berjalan kaki bersama papanya yang bernama Pak Evan. Setibanya di rumah, Jason langsung bergegas menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Saat ia sedang memakai seragam putih abu-abunya dan menyisir rambut di depan cermin, terdengar suara mamanya berteriak memanggil dari lantai bawah.
"Jason! Ayo cepat turun, Sayang! Keburu nasi goreng buatan Mama jadi dingin ini!"
"Iya, Ma! Dikit lagi sudah siap, ini tinggal pakai sepatu!" sahut Jason dengan suara lantang. Ia segera meraih tas ranselnya dan berlari menuruni tangga menuju ruang makan.
Di meja makan, kedua orang tuanya sudah duduk menunggu. Aroma harum nasi goreng sosis lengkap dengan telur mata sapi langsung menggugah selera Jason.
"Kamu ini lama sekali kalau persiapan sekolah," goda Pak Evan sambil mengaduk teh hangatnya.
Jason menarik kursi dan duduk di samping papanya. "Iya, iya, Pa. Jason tahu kalau Papa persiapannya selalu cepat karena dibantu Mama. Mangkanya cepat selesai, tidak seperti Jason yang harus menyiapkan semuanya sendirian," balas Jason membela diri.
"Salah sendiri kamu tidak mau belajar mandiri dari dulu. Sudahlah, ayo cepat dimakan sarapannya nanti kamu telat," potong Pak Evan sambil tersenyum hangat, mengakhiri perdebatan kecil pagi itu.
Setibanya di sekolah, suasana masih cukup sepi. Jason meletakkan tasnya di bangku, lalu segera dihampiri oleh teman-teman sekelasnya, terutama teman-teman perempuannya yang memang banyak mengagumi sosok Jason. Salah satunya adalah Nata, teman sekelasnya.
"Pagi, Sang Juara!" sapa Nata dengan ceria. "Bagaimana kabarnya peraih medali emas pencak silat tingkat provinsi kita ini?"
Jason tertawa kecil. "Pagi, Nat. Kabar baik, dong. Oh ya, kamu sudah tahu informasi soal kegiatan OSIS bulan ini belum?"
"Ih, tahu saja ribet kalau bahas kegiatan OSIS pagi-pagi begini. Sudah ah, Nat, mending kita ke kantin saja yuk! Lagian, Jason kan sudah janji!" potong salah satu teman perempuan lainnya dengan antusias.
"Eh, iya! Jason, mana janjimu?" tagih Nata menepuk lengan pemuda itu. "Katanya kalau kamu berhasil juara satu pencak silat, kamu bakal mentraktir kita semua jajan sepuasnya di kantin!"
Jason menepuk jidatnya pelan, pura-pura lupa. "Astaga, iya! Aku sampai lupa. Maaf, maaf ya. Nih, ambil saja uangnya, kalian ke kantin duluan sana. Pesan apa saja yang kalian mau," kata Jason sambil menyerahkan dua lembar uang lima puluh ribuan kepada Nata. Teman-teman perempuannya bersorak kegirangan dan langsung berlari menuju kantin sekolah.
Setelah jam pelajaran terakhir usai, Jason dipanggil ke ruang OSIS oleh kakak kelasnya. Mengingat Jason adalah anggota inti divisi pengabdian masyarakat, ia memiliki tanggung jawab yang cukup besar.
"Eh, Son, ke sini sebentar," panggil Kak Reyhan, sang ketua OSIS.
"Siap, ada apa, Kak?" tanya Jason menghampiri meja seniornya itu.
"Nanti malam kamu harus mulai packing dan persiapan maksimal, ya. Besok pagi program Bakti Sosial alias KKN mini sekolah kita sudah dimulai. Kita akan berangkat ke Desa During Bedug di daerah Sidoarjo," jelas Kak Reyhan tegas.
"Siap, Kak! Nanti malam saya langsung siapkan semuanya," jawab Jason.
Namun sayangnya, malam itu Jason terlalu asyik memilih pakaian dan barang bawaan hingga ia tertidur larut malam. Akibatnya, keesokan paginya ia terlambat bangun. Dengan sangat panik, Jason mandi secepat kilat, menyambar tas besarnya, dan berlari keluar rumah tepat ketika bus rombongan OSIS berhenti di depan gerbang perumahannya untuk menjemput.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam, bus akhirnya tiba di Desa During Bedug. Rombongan OSIS segera turun dan memindahkan barang bawaan mereka ke balai desa yang telah disediakan panitia setempat.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di desa itu, Jason mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Inilah yang disebut dengan "Pandangan Pertama". Namun sayang, pandangan pertamanya terhadap desa itu tidaklah seindah yang ia bayangkan. Saluran air di sepanjang jalan utama desa tampak mampet dipenuhi sampah plastik. Aroma tidak sedap menyeruak di udara.
Melihat kondisi yang memprihatinkan itu, otak Jason langsung bekerja cepat. Pada malam harinya, setelah acara penyambutan oleh Kepala Desa selesai, Jason meminta izin untuk berbicara di depan para warga.
"Bapak-bapak dan Ibu-ibu warga Desa During Bedug yang saya hormati," buka Jason dengan percaya diri di depan mikrofon pendopo. "Pandangan pertama saya pada desa ini adalah potensinya yang luar biasa asri. Namun, hal itu tertutup oleh masalah sampah. Oleh karena itu, saya mewakili teman-teman OSIS ingin mengajukan program bertajuk PEDULI LINGKUNGAN, BAHWA LINGKUNGAN BERSIH SEMUA AKAN SEHAT. Kami ingin mengajak seluruh warga bergotong royong membersihkan selokan desa besok pagi."
Namun, reaksi warga sungguh di luar dugaan. Hening. Beberapa bapak-bapak hanya berbisik satu sama lain. "Halah, anak sekolah dari kota tahu apa soal kerja bakti? Paling cuma mau foto-foto saja buat laporan ke guru," celetuk seorang pemuda desa berbadan kekar bernama Yanto, yang membuat beberapa warga tertawa sumbang.
Kepala Desa berdeham pelan untuk meredakan suasana. "Bukannya kami menolak, Nak Jason. Tapi warga di sini mayoritas pekerja kasar. Hari libur begini mereka lebih memilih istirahat di rumah daripada harus turun ke selokan bau."
Hati Jason mencelos. Penolakan terang-terangan itu benar-benar menghantam egonya. Namun, ia bukanlah seorang pesilat tangguh jika ia menyerah begitu saja. Nata dan Thoriq yang duduk di sebelahnya mengangguk memberikan kekuatan penuh.
Keesokan paginya, langit Desa During Bedug tampak sangat mendung pekat. Angin berembus kencang membawa awan hitam. Namun, Jason, Thoriq, dan belasan anggota OSIS lainnya membulatkan tekad mereka. Berbekal cangkul, garpu tanah, dan karung sampah, rombongan anak sekolah itu turun langsung ke selokan utama desa yang sangat kotor dan mampet.
Warga desa hanya menonton dari teras rumah mereka, tak sedikit pun tergerak untuk ikut membantu. Namun di saat mereka baru membersihkan setengah jalan, rintik hujan mulai turun. Semakin lama, intensitas hujan semakin deras hingga berubah menjadi badai lebat. Air dari selokan yang belum sempat dibersihkan mulai meluap ke atas dengan sangat cepat, membanjiri jalanan aspal desa dan mengancam akan masuk ke pelataran rumah-rumah warga.
Kepanikan mulai melanda desa. Warga berhamburan keluar rumah dengan wajah cemas, mencoba menyelamatkan barang-barang berharga mereka dari terjangan air kotor.
"Thoriq! Jangan berhenti! Kita harus menjebol tumpukan sampah di gorong-gorong sana supaya airnya bisa mengalir ke sungai!" teriak Jason menembus deru hujan lebat.
Tanpa memedulikan pakaiannya yang sudah basah kuyup dan wajahnya yang berlumuran lumpur hitam yang berbau busuk, Jason melompat ke dalam saluran air di bawah jembatan desa. Ia menggunakan tangan kosongnya untuk menarik batang pohon lapuk dan karung-karung sampah mampet yang menghalangi aliran air. Teman-teman OSIS yang lain segera menyusul, berjuang mati-matian menahan terjangan arus.
Melihat aksi heroik dan ketulusan anak-anak kota yang rela berkorban nyawa dan berlumuran lumpur maut demi desa mereka di tengah badai, hati nurani warga Karang Bedug akhirnya tersentil keras. Yanto, pemuda desa yang semalam meremehkan Jason, terdiam mematung. Rasa malu seketika menampar egonya.
"Tunggu apa lagi kalian?! Ayo turun bantu anak-anak itu!" teriak Yanto dengan suara menggelegar.
Seketika, puluhan bapak-bapak dan pemuda desa berlarian menembus hujan membawa cangkul. Mereka melompat ke dalam selokan, berdiri bahu-membahu di samping Jason. Tidak ada lagi sekat di antara mereka. Mereka bekerja sama, saling mengoper karung sampah, dan berteriak memberikan semangat satu sama lain di tengah badai.
Byuurrr!!!
Sumbatan raksasa itu akhirnya berhasil dijebol. Air kotor yang tadinya menggenang seketika meluncur deras menuju sungai utama. Permukaan air banjir surut dengan sangat cepat, menyelamatkan rumah-rumah warga dari bencana yang lebih parah.
Hujan pun perlahan mereda. Di tengah jalan desa yang kini terbebas dari genangan air kotor, Jason dan Yanto saling berpandangan dengan napas terengah-engah, lalu tertawa lepas. Warga desa yang lain ikut bersorak dan bertepuk tangan, meneriakkan nama rombongan OSIS dengan penuh rasa hormat.
Program Bakti Sosial itu pun berjalan dengan sangat sukses pada hari-hari berikutnya. Warga desa tidak lagi bersikap dingin, melainkan sangat antusias dan ramah. Pandangan pertama memang sering kali menipu. Namun, dari balik pandangan pertama yang buruk terhadap kotornya desa itu, Jason belajar bahwa dengan niat tulus, aksi nyata, dan kebersamaan, segala hal bisa diubah menjadi sebuah keajaiban yang luar biasa.
~ TAMAT ~








