DENDAM YANG TAK PERNAH PADAM
Karya: Vino Ridondo S.

By Ust. Moh. Afif Prima Diansyah, S.Pd 20 Apr 2026, 16:03:18 WIB Karya Siswa

DENDAM YANG TAK PERNAH PADAM

Karya: Vino Ridondo S.

 

Di sebuah desa yang diapit oleh rimbunnya hutan, hiduplah seorang janda miskin bernama Lastri bersama anak semata wayangnya, Bayu. Kehidupan mereka teramat sangat memprihatinkan.

Suatu ketika, petaka yang paling ditakuti oleh setiap orang tua datang menghampiri. Bayu jatuh sakit parah. Tubuh kecilnya yang kurus kering hanya bisa terbaring lemah di atas kasur usang. Lastri sudah mengorbankan segalanya, menjual barang apa pun yang ia miliki, namun ia tetap tak punya cukup uang untuk membawa putranya ke rumah sakit.

Dalam keputusasaannya, Lastri menembus hujan deras di malam hari, mendatangi sebuah rumah termegah di desa itu, rumah milik keluarga Brata. Ia bersimpuh di depan pagar, mengemis belas kasihan dan pinjaman uang untuk menyelamatkan nyawa anaknya. Namun, keluarga kaya raya itu hanya menutup pintu rapat-rapat, mengusirnya mentah-mentah karena menganggap Lastri sebagai pengganggu.

Hingga malam kelam itu tiba, napas Bayu terhenti untuk selamanya. Dunia Lastri hancur berkeping-keping. Perasaan gagal sebagai seorang ibu perlahan-lahan berubah menjadi kebencian, keputusasaan, dan dendam kesumat yang membara. Dengan mata nanar dan hati yang telah mati, Lastri berjalan gontai ke dapur dan mengambil sebilah golok berkarat.

Ia melangkah menuju kandang kambing di belakang rumahnya. Sebagai pelampiasan amarah dan duka yang tak terbendung, ia membantai seluruh hewan ternak itu tanpa ampun. Darah segar membasahi tanah dan tangannya di malam yang sunyi tersebut.

Namun, amarahnya sama sekali belum mereda. Dengan pakaian yang berlumuran darah kental, Lastri berjalan tertatih menuju rumah mewah keluarga Brata. Dari balik semak-semak dan jendela kaca yang besar, ia menatap nanar ke dalam rumah.

Di sana, di bawah hangatnya cahaya lampu kristal, keluarga itu sedang tertawa bahagia merayakan pesta ulang tahun anak mereka yang bernama Jian. Pemandangan itu bagaikan sayatan sembilu di hati Lastri. Mengapa anak mereka bisa tertawa bahagia sementara anaknya terbujur kaku di gubuk reyot?

Di bawah sebuah pohon beringin besar di halaman belakang rumah mewah itu, pohon yang kebetulan memiliki ayunan dari ban bekas, Lastri mengikatkan seutas tali tambang yang tebal. Sambil terus menatap tajam ke arah jendela tempat keluarga itu merayakan kebahagiaan, Lastri mengakhiri hidupnya. Ia gantung diri, membawa serta dendam yang tak akan pernah bisa diredam, bahkan oleh maut sekalipun.

Belasan tahun telah berlalu sejak tragedi kelam malam itu. Jian, anak kecil yang dulu merayakan ulang tahun, kini telah tumbuh menjadi pria dewasa dan memiliki keluarganya sendiri. Ia dikaruniai seorang putri bernama Siti. Sayangnya, kehidupan Siti tidaklah senormal anak-anak pada umumnya.

Sejak kecil, Siti sering berbicara sendiri, berteriak ketakutan tanpa sebab, dan mengalami gangguan mental. Bayangan masa lalu keluarganya seakan menjadi kutukan yang tak kasatmata.

Kini, Siti telah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Berbulan-bulan lamanya ia mencoba menjalani hari-harinya seperti remaja biasa, meski ia sering kali harus menelan obat penenang. Namun, teror sesungguhnya baru saja bersiap untuk menagih utang darah.

Suatu siang, saat jam istirahat sekolah, Siti sedang duduk sendirian di dalam kelas. Tiba-tiba, suhu ruangan merosot tajam menjadi sangat dingin. Hembusan angin berbau anyir darah seketika menyeruak. Dari luar jendela kaca kelasnya, sesosok wanita dengan leher tertekuk patah dan wajah pucat pasi muncul memperhatikannya. Mata wanita itu memancarkan kebencian yang teramat dalam.

Siti gemetar ketakutan. Ia menutup telinganya rapat-rapat, namun bisikan-bisikan gaib terus merasuki dan mengacaukan pikirannya. Sosok menyeramkan itu perlahan merayap masuk, mengubah wujudnya menyerupai salah satu teman dekat Siti. Halusinasi dan teror mental yang luar biasa itu benar-benar menghancurkan sisa-sisa kewarasan Siti.

Dikuasai oleh rasa takut, panik, dan kebencian terhadap ilusi bayangan itu, Siti bertindak di luar kendali. Ia membuka kotak pensilnya dan mengambil sebuah jangka besi berujung runcing. Saat kelima temannya masuk ke dalam kelas untuk menyapanya, Siti yang telah kehilangan kesadaran langsung menerjang mereka secara membabi buta. Jeritan histeris memenuhi ruangan. Darah menetes membasahi lantai keramik kelas. Kelima temannya terluka parah akibat tusukan jangka besi tersebut.

Suasana sekolah seketika kacau balau. Siti yang berteriak-teriak histeris langsung diamankan oleh para guru dan dibawa ke ruang kepala sekolah. Ia duduk di sudut ruangan sambil memeluk lututnya, menangis histeris dan terus bergumam tentang sosok wanita berleher patah yang mengincarnya.

Mendengar kejadian mengerikan yang menimpa putrinya dan teman-temannya, Jian tak bisa lagi menutup mata. Penanganan medis tidak akan pernah cukup untuk menyembuhkan kutukan ini. Ia akhirnya meminta bantuan dari Mbah Karto, seorang dukun sakti yang sangat terkenal mampu menaklukkan gangguan ilmu hitam dan roh penasaran di daerah tersebut.

Malam Jumat Kliwon dipilih sebagai waktu yang tepat untuk melakukan ritual pembersihan. Mereka pergi ke sebuah tanah lapang yang letaknya tak jauh dari lokasi pohon beringin tempat Lastri dulu mengakhiri hidupnya. Mbah Karto tidak datang sendirian; ia membawa rombongan penari tradisional dan pemain gamelan untuk memanggil roh tersebut agar mau bernegosiasi.

Suasana malam itu teramat sangat mencekam. Angin berhembus kencang, membawa aroma bunga melati yang bercampur dengan bau kemenyan yang menyengat. Anehnya, langit mendadak berubah menjadi kemerahan, dan bulan purnama yang menggantung di atas mereka tampak berukuran jauh lebih besar dari biasanya.

Mbah Karto memulai ritualnya. Ia menyiapkan tiga ekor ayam cemani berbulu hitam legam sebagai persembahan utama, meletakkannya di dalam sebuah kurungan bambu, lalu menutupinya dengan kain mori putih. Mantra-mantra kuno berbahasa Jawa Kuno dirapalkan dengan suara berat, diiringi oleh alunan magis gamelan yang bertalu-talu memecah kesunyian malam.

Namun, seiring berjalannya waktu, firasat buruk mulai menyelimuti tempat itu. Ketika Mbah Karto membuka kain putih penutup kurungan untuk mengekstrak darah persembahan, ketiga ayam cemani itu ternyata masih hidup dan justru berkokok nyaring. Persembahan darah hewan itu ditolak mentah-mentah oleh sang arwah pendendam!

Tiba-tiba, alunan nada gamelan berubah menjadi sumbang dan sangat mengerikan. Bencana tak masuk akal mulai terjadi di depan mata. Para penari wanita yang tadinya bergerak gemulai, tiba-tiba berhenti mematung karena kerasukan. Satu per satu dari mereka mati dengan kondisi yang sangat mengenaskan.

Ada penari yang kepalanya memutar 360 derajat hingga terdengar bunyi tulang leher yang patah, ada pula yang tiba-tiba mengambil keris properti tari dan menusukkannya ke perutnya sendiri secara brutal dengan wajah menyeringai. Para pemain gamelan pun mengalami nasib serupa; mereka tewas seketika akibat kekuatan gaib yang tak terlihat.

Darah segar menggenang membasahi tanah lapang itu. Jian dan kerabat lainnya yang menunggu di dalam mobil hanya bisa menjerit ketakutan. Mereka tak berani keluar selangkah pun karena Mbah Karto sudah melarang mereka keras-keras dari awal. Di tengah area ritual yang kini dipenuhi oleh mayat bergelimpangan, hanya tersisa Mbah Karto dan Siti yang berdiri gemetar hebat.

Di hadapan mereka, sosok Lastri akhirnya muncul dengan wujud aslinya yang sangat mengerikan. Rambutnya panjang terurai berantakan, lehernya membiru pekat bekas jeratan tali tambang, dan matanya memancarkan amarah dendam yang telah dipendam belasan tahun.

Mbah Karto yang tak mau menyerah begitu saja, segera mencabut keris pusaka kramatnya yang memancarkan pendar cahaya terang. Dengan sisa tenaga dan seluruh ilmu spiritual yang ia miliki, sang dukun menerjang roh tersebut.

Pertarungan gaib terjadi dengan sangat sengit. Angin puyuh kecil terbentuk di sekitar mereka, menerbangkan debu dan dedaunan kering. Dengan satu tebasan penuh mantra suci, keris itu menembus bayangan sang arwah. Terdengar jeritan melengking yang sangat memekakkan telinga sebelum wujud Lastri menguap hancur menjadi asap hitam pekat.

Namun, kemenangan itu harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Mbah Karto terhuyung mundur. Ia jatuh berlutut sambil memegangi dadanya yang sesak. Keris pusaka di tangannya yang semula berwarna terang, kini berubah warna menjadi ungu tua kehitaman karena telah menyerap aura jahat yang teramat pekat. Dukun tua itu menghembuskan napas terakhirnya dan tewas menyusul rombongannya.

Melihat kengerian di depan matanya, Siti yang trauma berat langsung memutar tubuhnya dan berlari sekencang-kencangnya menuju mobil ayahnya. Jian segera menginjak pedal gas dalam-dalam, membawa putrinya pergi jauh meninggalkan mimpi buruk yang telah merenggut nyawa banyak orang tersebut.

Lima tahun telah berlalu sejak malam ritual berdarah itu. Kehidupan Siti perlahan-lahan mulai membaik. Ia tidak pernah lagi melihat penampakan, mendengar bisikan aneh, atau mendapat gangguan dari roh pendendam tersebut. Ia dan keluarganya percaya bahwa kutukan itu telah benar-benar berakhir seiring dengan tewasnya sang dukun.

Namun, iblis memiliki kesabaran yang jauh melampaui usia manusia. Rasa penasaran yang sangat tidak wajar tiba-tiba muncul di benak Siti. Dorongan gaib seolah membisikkan sebuah perintah ke telinganya secara halus.

Suatu sore yang mendung, tanpa sepengetahuan Jian maupun ibunya, Siti memberanikan diri untuk kembali mengunjungi tempat ritual yang telah lama terbengkalai itu. Tanah lapang tersebut kini telah ditumbuhi ilalang yang setinggi dada. Siti menyusuri setiap sudutnya dengan jantung berdebar kencang.

Di bawah tumpukan daun kering dan tanah, matanya menangkap sebuah benda yang tak asing. Itu adalah keris milik Mbah Karto yang dulu digunakan untuk menyelamatkan nyawanya.

Keris itu masih berwarna ungu tua kehitaman, memancarkan aura dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Seolah tersihir, tanpa sadar tangan Siti terulur mengambil senjata pusaka tersebut. Ia membersihkannya dan membawanya pulang, menyembunyikannya rapat-rapat di dalam laci meja belajarnya.

Siti sama sekali tidak menyadari satu rahasia paling mematikan; arwah Lastri tidak pernah benar-benar musnah malam itu. Roh pendendam tersebut hanya terkurung dan tertidur di dalam bilah keris, menunggu waktu yang tepat dan raga yang rapuh untuk kembali dibangkitkan.

Dan kini, dengan keris pusaka itu berada tepat di tangannya, sang arwah telah kembali ke rumah keluarga Brata. Di tengah malam yang sunyi, dari dalam laci meja belajar Siti, terdengar sebuah suara tawa pelan wanita yang amat mengerikan. Dendam masa lalu itu belum berakhir; ia hanya sedang bersiap untuk menjemput korban selanjutnya.

~ TAMAT ~




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment