DUA SISI SENJA
Karya: Sneider Karel Fedor

By Ust. Moh. Afif Prima Diansyah, S.Pd 20 Apr 2026, 16:02:44 WIB Karya Siswa

DUA SISI SENJA

Karya: Sneider Karel Fedor

 

Pada suatu malam yang indah, di salah satu sudut perumahan elite sebuah kota metropolitan yang gemerlap, berdirilah sebuah rumah megah bergaya klasik. Di rumah bak istana itulah tinggal seorang gadis remaja bernama Erina Pendelthon.

Erina adalah sosok perempuan yang nyaris sempurna; ia berparas cantik, berkulit putih bersih, dan memiliki otak yang cerdas. Sebagai anak tunggal dari sepasang suami istri pengusaha kaya raya, wajar saja jika Erina mendapatkan fasilitas pendidikan yang tinggi dan kehidupan yang serba berkecukupan. Meski hidup bergelimang harta, ia bukanlah gadis yang angkuh. Ia selalu tampil ceria dalam keadaan apa pun.

Malam itu, aroma lezat masakan koki pribadi keluarga tercium hingga ke lantai dua. "Erina, ayo turun, Sayang! Makan malamnya sudah siap!" seru seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunda Erina.

"Iya, Bu! Sebentar lagi!" sahut Erina dari dalam kamarnya.

Erina segera merapikan buku-buku kuliahnya dan melangkah turun ke ruang makan. Di sana, ayah tercintanya sudah duduk menunggu di kursi utama meja makan marmer mereka. "Ayo ke sini, Erina. Ayah sudah menunggumu dari tadi," ajak sang ayah sambil tersenyum hangat.

"Iya, Ayah. Maaf membuat kalian menunggu," jawab Erina seraya menarik kursi di seberang kedua orang tuanya.

Di tengah kehangatan santap malam itu, Erina membuka percakapan. "Ayah, Ibu, besok pagi aku sudah harus berangkat untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa terpencil. Boleh tidak besok aku dibangunkan agak pagi supaya tidak tertinggal rombongan?" Sang ayah terkekeh pelan.

"Tentu saja boleh, asalkan kamu mudah untuk dibangunkan."

"Ih, Ayah ini. Kan aku gampang dibangunin kok," protes Erina dengan bibir sedikit mengerucut.

"Ya, gampang sih, tapi biasanya harus dimarahi Ibu dulu baru kamu mau membuka mata," tambah sang ibu yang langsung disambut tawa renyah dari sang ayah. Erina hanya bisa tersenyum malu. Walaupun sindiran itu terasa sedikit menyebalkan baginya, kehangatan keluarganya selalu berhasil membuat hatinya damai.

Keesokan paginya, tepat pukul lima subuh, Erina sudah terbangun dengan sendirinya tanpa perlu dibangunkan oleh sang ibu. Antusiasmenya menyambut pengalaman baru rupanya mengalahkan rasa kantuknya. Ia segera menyiapkan segala keperluannya: beberapa setel pakaian ganti, alat mandi, buku-buku catatan, dan obat-obatan pribadi ke dalam tas ransel besarnya.

"Erina, ayo turun, sarapan dulu sebentar sebelum berangkat!" panggil ibunya dari lantai bawah.

"Baik, Bu! Aku turun sekarang!" jawab Erina sambil menyampirkan tasnya di bahu.

Setelah sarapan kilat dan berpamitan dengan pelukan hangat dari kedua orang tuanya, Erina diantar oleh sopir pribadinya menuju titik kumpul di kampus. Dari sana, ia dan teman-teman sekelompoknya menempuh perjalanan selama empat jam menggunakan bus kecil menuju Desa Sukarindu, sebuah desa asri yang terletak di kaki gunung.

Setibanya di desa tersebut, Erina langsung merasakan perbedaan yang sangat drastis. Tidak ada lagi jalanan beraspal mulus, melainkan jalan tanah berbatu. Udara di sana sangat sejuk dan bebas dari polusi, namun fasilitasnya sangat minim. Sinyal telepon seluler nyaris tidak ada. Bagi Erina yang terbiasa hidup dengan fasilitas mewah, kondisi ini tentu menjadi kejutan budaya (culture shock) tersendiri. Namun, ia telah bertekad untuk belajar hidup mandiri.

Hari-hari pertama KKN berjalan cukup berat bagi Erina. Ia harus mandi menggunakan air sumur yang sedingin es, dan harus menimba air sendiri ketika mesin pompa desa sedang rusak. Di saat itulah, ia bertemu dengan Jojo. Jojo adalah seorang pemuda asli Desa Sukarindu yang usianya sebaya dengan Erina.

Berbeda dengan Erina yang berkulit putih bersih, kulit Jojo tampak kecokelatan karena sering terbakar terik matahari saat membantu orang tuanya bertani di ladang. Meskipun penampilannya sangat sederhana, Jojo memiliki senyum yang sangat tulus dan kepribadian yang ramah.

Suatu sore, saat Erina sedang kesulitan membawa dua ember air dari sumur umum karena tangannya yang tak terbiasa mengangkat beban berat, Jojo datang menghampirinya.

"Sini, biar aku saja yang bawakan embernya. Tangan orang kota sepertimu bisa lecet kalau memaksakan diri," tawar Jojo sambil mengambil alih kedua ember tersebut dengan mudahnya. Erina tersipu malu sekaligus lega.

"Terima kasih banyak ya. Namaku Erina."

"Aku Jojo. Kalau butuh bantuan apa-apa selama di desa ini, panggil saja aku," jawabnya dengan logat daerah yang khas.

Sejak hari itu, mereka berdua menjadi sangat akrab. Jojo sering mengantar Erina dan teman-temannya berkeliling desa, menunjukkan ladang jagung yang luas, dan mengajari Erina cara berinteraksi dengan warga lokal. Sebagai balasannya, Erina sering membawakan buku-buku cerita dan mengajari Jojo serta anak-anak desa lainnya tentang banyak hal yang belum pernah mereka pelajari di sekolah.

Namun, persahabatan mereka harus melewati sebuah ujian berat. Pada minggu ketiga masa KKN, kelompok Erina merancang sebuah program utama. Merenovasi bangunan perpustakaan desa yang sudah reyot dan atapnya sering bocor. Selama berhari-hari, Erina dan teman-temannya bekerja keras mengumpulkan donasi, membeli material, dan mengecat ulang bangunan tersebut bersama warga desa, termasuk Jojo.

Sayangnya, tepat satu hari sebelum acara peresmian perpustakaan itu digelar, cuaca yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi mimpi buruk. Hujan badai turun dengan sangat lebat disertai angin kencang. Atap perpustakaan yang belum sepenuhnya terpasang dengan kuat, mendadak terbang tertiup angin. Air hujan masuk dan menggenangi lantai, membasahi sebagian buku-buku donasi yang sudah tertata rapi di rak bawah.

Melihat kekacauan itu dari teras posko, Erina merasa sangat putus asa. Tubuhnya menggigil kedinginan, pakaiannya basah kuyup setelah berusaha menyelamatkan beberapa kardus buku. Rasa lelah yang terakumulasi selama berminggu-minggu membuat emosinya meledak.

"Sudahlah! Aku menyerah!" teriak Erina sambil melempar sebuah buku yang sudah hancur terkena air.

"Semua kerja keras kita sia-sia! Tempat ini memang tidak bisa diperbaiki. Aku ingin pulang saja ke kota!"

Jojo yang saat itu sedang sibuk menutupi sisa buku dengan terpal plastik, menatap Erina dengan tajam. Rasa kecewa tergambar jelas di wajah pemuda desa itu.

"Jadi begini mental anak kota yang katanya pintar dan berpendidikan tinggi itu?!" balas Jojo dengan nada suara yang meninggi, mengalahkan suara gemuruh hujan.

"Baru kena badai sedikit saja kamu sudah mau lari pulang ke rumah mewahmu?! Kami warga desa sudah bertahun-tahun hidup dengan badai dan kesusahan, tapi kami tidak pernah menyerah pada keadaan! Kalau kamu memang cuma mau main-main dan pamer program kerja di sini, lebih baik kamu pulang saja sekarang!"

Kata-kata tajam Jojo bagaikan tamparan keras di wajah Erina. Ia terdiam mematung, air matanya menetes bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya. Erina menyadari betapa egois dan kekanak-kanakannya sikapnya barusan. Ia menatap Jojo yang masih bersusah payah melindungi buku-buku desa sendirian. Rasa bersalah yang amat dalam seketika menghantam dadanya.

Erina menarik napas panjang, membuang jauh-jauh sisa keangkuhan dan egonya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berlari menembus hujan, kembali ke dalam perpustakaan yang kebanjiran itu. Ia berlutut di atas lantai yang kotor dan berlumpur, ikut memegangi ujung terpal bersama Jojo, membantu menyelamatkan sisa buku yang ada.

"Maafkan aku, Jojo," isak Erina pelan.

"Kamu benar. Aku berjanji tidak akan lari dari masalah ini."

Jojo menatap Erina sejenak, lalu amarahnya perlahan mereda. Ia mengangguk pelan, memberikan sebuah senyuman tipis yang menguatkan. Malam itu, setelah badai reda, Erina, Jojo, dan seluruh mahasiswa KKN bekerja semalaman suntuk. Mereka membersihkan lumpur, memperbaiki rak, dan mengeringkan buku-buku. Pengalaman pahit itu justru membuat ikatan persahabatan Erina dan Jojo menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Satu minggu kemudian, masa KKN pun resmi berakhir. Acara peresmian perpustakaan berjalan dengan sangat lancar dan meriah. Saat tiba waktunya untuk berpisah, Erina memberikan sebuah tawaran istimewa kepada sahabat barunya itu.

"Jojo, kamu sudah banyak membantuku selama di sini. Sekarang giliranmu. Besok adalah hari libur, maukah kamu ikut denganku ke kota? Aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke sebuah tempat yang sangat menyenangkan," tawar Erina dengan senyum lebar. Awalnya Jojo merasa ragu dan malu, namun setelah mendapat izin dari orang tuanya, ia akhirnya menerima ajakan Erina dengan antusias.

Keesokan harinya, Jojo tiba di kota metropolitan untuk pertama kalinya. Matanya berbinar takjub melihat gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi menembus awan, dan jalanan aspal yang dipenuhi ribuan kendaraan. Erina membawanya ke sebuah taman hiburan terbesar di kota itu.

"Jojo, percayalah, ini akan menjadi hari yang takkan pernah kau lupakan seumur hidupmu!" kata Erina dengan mata berbinar-binar penuh semangat.

"Aku tidak akan melupakannya, Erina," jawab Jojo, masih terkagum-kagum melihat kemegahan di sekelilingnya.

Erina segera menarik tangan Jojo menuju loket tiket. Setelah membeli tiket, mereka langsung masuk ke dalam area taman hiburan yang sangat luas tersebut.

"Jojo, ayo ikut aku naik roller coaster yang itu!" ajak Erina sambil menunjuk sebuah wahana kereta luncur besi raksasa yang jalurnya meliuk-liuk ekstrem di udara. Jojo menelan ludah, menatap ngeri pada lintasan besi setinggi puluhan meter itu.

"Baiklah... tapi aku agak takut, Erina. Ini pertama kalinya aku melihat benda sebesar itu," jawab Jojo dengan jujur.

"Tidak apa-apa, jangan takut. Ayo ikut aku!" bujuk Erina menyemangati.

Karena antrean sedang sepi, mereka pun langsung naik dan duduk di kursi barisan paling depan. Petugas memasang sabuk pengaman dengan rapat.

"Kau siap, Jojo?" tanya Erina.

"S-siap," jawab Jojo dengan suara gemetar dan tangan yang mencengkeram erat besi pengaman.

Mesin menderu, dan kereta roller coaster itu pun mulai merangkak perlahan menaiki tanjakan yang sangat curam. Segala sesuatunya masih terasa normal hingga mereka tiba di puncak lintasan tertinggi.

"Jojo, bersiaplah!" seru Erina kegirangan.

"Bersiap ap—" Belum sempat Jojo menyelesaikan kalimatnya, kereta itu meluncur jatuh ke bawah dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Angin menerpa wajah mereka dengan brutal.

"AAAAAAA!!!" jerit Jojo sekuat tenaga, jantungnya seakan tertinggal di atas awan. Sementara itu, di sebelahnya, Erina justru tertawa lepas dan menikmati setiap detik wahana pemacu adrenalin tersebut.

Setelah kereta berhenti dan mereka turun, Jojo berjalan dengan langkah sedikit gontai. Wajahnya pucat pasi, ia hanya bisa diam termenung karena masih syok dengan kejadian yang baru saja ia alami.

"Jojo, kau baik-baik saja kan?" tanya Erina dengan nada khawatir bercampur geli. Jojo masih terdiam selama beberapa detik, mencoba mengumpulkan nyawanya yang sempat melayang. Hingga akhirnya, ia mengangguk pelan dan buka suara.

"A-aku... baik-baik... saja..." jawabnya terbata-bata yang langsung membuat Erina tertawa terbahak-bahak.

Setelah rasa mualnya hilang, Jojo mulai bisa menikmati wahana-wahana lainnya yang lebih santai. Mereka menghabiskan waktu seharian penuh mengelilingi taman hiburan kota itu hingga matahari mulai condong ke ufuk barat.

Mereka duduk berdua di sebuah bangku taman, menikmati semilir angin sore.

"Erina... terima kasih banyak ya. Terima kasih sudah mau mengajakku melihat kotamu yang luar biasa ini," ucap Jojo dengan senyum tulus yang menghangatkan hati.

"Sama-sama, Jojo. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu sudah mengajariku banyak hal tentang arti perjuangan dan kesederhanaan selama di desa," balas Erina sambil tersenyum manis.

Mereka pun mengakhiri hari yang panjang itu dengan duduk bersisian, melihat pemandangan sunset (matahari terbenam) yang memancarkan warna jingga keemasan yang teramat indah di langit kota. Perbedaan kasta, latar belakang, dan gaya hidup di antara mereka telah lebur sepenuhnya. Di bawah langit senja itu, mereka menyadari satu hal yang pasti: bahwa sebuah persahabatan yang tulus memang tidak akan pernah mengenal batas apa pun.

~ TAMAT ~

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment