- Wisuda SMP-SMA Ar-Rohmah Putra Berlangsung Khidmat, Angkatan 30 Marvelous
- Ukir Kenangan Terakhir, Kelas 9 SPARTA Outing Class to Mikutopia, Batu
- Tanding Lagi! SPARTA FC Tatap SMAHIK CUP Tingkat Kabupaten
- 3 Santri SPARTA Raih Medali di MASCO 2026 Tingkat Nasional
- Taekwondo SPARTA Berhasil Ukir Prestasi Kembali!
- Euforia Outing Angkatan di Lembah Tumpang Malang
- Inauguration Reformation GPH 2026/2027
- Pelantikan ABABIL SMP Ar-Rohmah Putra 2026
- Berlangsung Meriah, UKK SPARTA Sesi 2, Kembali Hadirkan Wali Santri
- PERSAHABATAN KALA PERBEDAAN
HARI BARU, KEBERANIAN BARU
Karya: Rifat Mumtaz Aditya
Berita Terkait
- BUKAN SEKADAR PUNCAK0
- BUKAN SEKADAR TEMAN0
- JEJAK KENANGAN DI BAWAH BAYANG ARJUNO0
- PERSAHABATAN DI TENGAH BISINGNYA JAKARTA 0
- PANDANGAN PERTAMA0
- SAHABAT SETIA SELAMANYA0
- LANGKAH KECIL DI JALAN BERLUMPUR 0
- AKHIR DARI SEBUAH PERJALANAN 0
- MALING!!!!!!!0
- AWAN DI ATAS PUNCAK 0
Berita Populer
- Persiapan Asesmen Nasional Berbasis Komputer, Santri SPARTA Serius Menghadapi Simulasi ANBK
- Keberangkatan Kontingen Tapak Suci Sparta Menuju Kejurnas Airlangga National Open 2025
- Upacara HUT RI ke-80 di LPI Ar Rohmah Hidayatullah Malang
- SMP Ar Rohmah Gelar Lomba HUT RI ke-80 dengan Semangat Kebersamaan dan Prestasi
- Siap Terbang Tinggi, Tiga Santri Berjuang di Final Round KSN-R 7
- Raih Juara 3, Tim Futsal SPARTA Berjaya di Hidayatullah Festival Olahraga(HiFO) 2024 se Jatim
- SMP AR ROHMAH RAIH PRESTASI GEMILANG DI KEJURNAS TAPAK SUCI 2025
- Dua Santri Sparta Raih Juara KSNR di Tangerang Selatan
- Santri SMP Ar Rohmah Raih Medali Emas dan Perak di Ajang KSNR Tangerang Selatan
- Pawai Maulid Nabi dan Festival Cinta Rasul 2025 Semarak di Ar Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang
HARI BARU, KEBERANIAN BARU
Karya: Rifat Mumtaz Aditya
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu dari celah tirai kamarku, tepat ketika suara gedoran di pintu terdengar sangat nyaring. Aku tersentak bangun dari tidur lelapku. Mataku menyipit menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit. Astaga, aku kesiangan!
"Roni! Ayo cepat bangun, Nak! Ini sudah jam berapa?!" seru ibuku dari luar kamar.
Aku segera melompat dari kasur, menyambar handuk, dan berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudu. Meski sangat terlambat, aku tetap melaksanakan salat Subuh dengan kilat untuk menunaikan kewajibanku. Belum selesai aku melipat sajadah, suara ibuku kembali terdengar dari arah dapur.
"Roni, ini sarapannya sudah siap! Cepat ke sini sebelum makanannya dingin!"
Tanpa membuang waktu, aku berlari menuju ruang makan. Di sana, ayah dan ibuku sudah duduk rapi menungguku. Aku langsung menarik kursi dan mulai menyantap nasi goreng buatanku ibuku dengan lahap. Di tengah kunyahanku yang terburu-buru, kesadaranku tiba-tiba kembali utuh. Hari ini bukan hari Senin biasa. Hari ini adalah hari pertamaku masuk Sekolah Menengah Atas (SMA)!
Seketika, rasa kantukku hilang tak berbekas. Aku menelan makananku dengan cepat, meminum segelas air putih, lalu berlari kembali ke kamar. Aku segera menyiapkan buku-buku catatan baru dan seragam sekolah yang masih tercium bau khas pakaian baru dibeli. Setelah merapikan semuanya ke dalam tas ransel, aku mematut diriku di depan cermin. Seragam putih abu-abu yang kukenakan ini terasa sedikit kaku, namun entah mengapa justru menambah sensasi debar di dadaku.
Jantungku berdegup kencang saat melangkah keluar rumah dan berpamitan kepada kedua orang tuaku. Udara pagi terasa sangat segar, tapi ada perasaan campur aduk antara semangat yang membara dan rasa gugup (nervous) yang menyelimuti diriku. Aku mengecek tasku sekali lagi, memastikan semua amunisi tempurku hari ini sudah lengkap: buku, alat tulis, dan tentu saja, handphone beserta earphone untuk mendengarkan playlist lagu favoritku agar suasana di perjalanan tidak terlalu hening dan membosankan.
Aku mengayuh sepeda motor matikku membelah jalanan kota yang mulai padat oleh aktivitas warga. Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang membayangkan seperti apa masa putih abu-abuku nanti. Akankah aku mendapatkan teman yang baik? Atau justru aku akan kembali menjadi anak pendiam yang tak terlihat seperti saat SMP dulu?
Akhirnya, dari kejauhan, gerbang megah dengan tulisan "SMA BHAKTI" terpampang jelas di depan mataku. Suasananya benar-benar berbeda jauh dengan sekolah lamaku yang gerbangnya hanya berupa dua daun pintu besi berkarat. Di sini, gerbangnya sangat tinggi dan kokoh, lengkap dengan pos satpam yang dijaga ketat. Di area depan gerbang, beberapa murid baru sudah terlihat bergerombol. Ada yang asyik tertawa-tawa karena bertemu teman lama mereka, namun ada juga yang sibuk dengan handphone masing-masing karena kecanggungan.
Saat melangkahkan kaki memasuki area sekolah, mataku sibuk mengedarkan pandangan. Setelah sedikit tersesat dan sempat bertanya letak ruang guru pada seorang siswi perempuan yang ramah, aku akhirnya berhasil menemukan kelasku, Kelas X-MIPA 2.
Aku melangkah masuk ke dalam kelas yang sudah cukup ramai itu. Mataku tertuju pada sebuah bangku kosong di barisan ketiga. Tepat di sebelahnya, duduk seorang anak laki-laki dengan rambut sedikit ikal yang sedang sibuk memainkan bolpoinnya. Aku menghampirinya dan tersenyum canggung.
"Hai, boleh aku duduk di sini? Bangku ini kosong, kan?" tanyaku ragu-ragu.
Anak laki-laki itu mendongak, lalu membalas senyumanku dengan sangat lebar.
"Boleh banget! Duduk aja santai. Kenalin, namaku Aftar," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Aku Roni," jawabku lega sambil menjabat tangannya.
Sejak perkenalan singkat itu, Aftar ternyata adalah teman ngobrol yang sangat asyik. Kami menghabiskan waktu dengan berkeliling sekolah pada jam istirahat pertama, mencari letak kantin, laboratorium, hingga lapangan basket. Saat kami kembali ke kelas, Aftar langsung dipanggil dan menghampiri gerombolan teman-teman barunya yang lain di pojok ruangan. Aku yang pada dasarnya memang tidak terlalu suka keramaian, memilih untuk kembali ke mejaku. Aku mengeluarkan sebuah novel fiksi dari dalam tas dan mulai membaca untuk membunuh waktu.
Saat aku sedang asyik tenggelam dalam alur cerita buku tersebut, tiba-tiba seseorang menyentuh bahuku dengan pelan. Aku menoleh dan mendapati siswi perempuan yang tadi pagi memberitahuku arah menuju ruang guru, kini berdiri di samping mejaku.
"Hai," sapanya dengan senyum yang sangat manis dan ramah. "Kamu anak baru juga, ya?"
"Eh, iya," jawabku sedikit gugup.
"Namaku Roni."
"Aku Shasya," katanya memperkenal diri. Matanya melirik ke arah novel yang sedang kupegang. "Tadi aku lihat kamu bareng Aftar keliling sekolah. Kalian berdua sudah kenal lama ya?"
"Oh, tidak kok. Kami baru kenal tadi pagi. Kebetulan kami duduk sebangku," jelasku.
Pandangan Shasya kembali tertuju pada buku bacaanku. Matanya seketika berbinar cerah. "Wah, kamu suka baca novel karangan penulis itu juga? Plot ceritanya keren banget, kan?!"
Mendengar antusiasme Shasya, rasa gugupku perlahan menguap. "Iya! Plot twist di bab pertengahannya benar-benar tidak terduga. Aku sampai begadang untuk membacanya."
Kami pun mengobrol panjang lebar tentang banyak hal. Shasya bercerita bahwa ia sangat menyukai dunia literasi dan berencana ingin mencalonkan diri sebagai ketua klub literasi sekolah jika masa pendaftaran ekstrakurikuler sudah dibuka.
Aku juga bercerita tentang buku-buku bergenre misteri dan fiksi ilmiah yang sangat kusukai. Ternyata, kami memiliki selera bacaan yang sangat mirip. Karena merasa sangat nyambung, kami pun berjanji untuk pergi bersama ke perpustakaan sekolah pada jam istirahat kedua nanti.
Semenjak perkenalan di hari pertama itu, hari-hariku di SMA Bhakti berjalan dengan sangat menyenangkan. Aku, Aftar, dan Shasya menjadi sahabat yang cukup dekat. Kami sering bertemu di perpustakaan untuk bertukar rekomendasi buku bacaan, serta berdebat seru tentang akhir cerita dari novel yang mengejutkan.
Kadang-kadang, kami juga menghabiskan waktu bersama di kantin, menyantap makan siang sambil mendengarkan lelucon receh dari Aftar. Shasya adalah sosok perempuan yang sangat sabar, cerdas, dan baik hati, sementara Aftar adalah pencair suasana yang tak pernah kehabisan energi. Kehadiran mereka membuat masa SMA-ku terasa jauh lebih berwarna.
Hingga pada suatu siang, setelah bel tanda berakhirnya jam pelajaran terakhir berbunyi nyaring ke seantero sekolah, aku dan Aftar bergegas merapikan buku dan alat tulis ke dalam tas.
"Ron, kamu mau langsung pulang atau mau ikut aku nongkrong dulu di warung depan?" tawar Aftar sambil menyampirkan tas di bahunya.
"Maaf, Tar. Aku harus langsung pulang hari ini. Tadi pagi ibuku berpesan agar aku membelikan nasi padang titipannya untuk makan siang di rumah," tolakku dengan halus.
"Oh, oke deh. Hati-hati di jalan ya, Bro!" pamit Aftar sambil melambaikan tangan.
Aku berjalan keluar kelas menuju tempat parkir sepeda motor yang terletak di samping gedung sekolah utama. Udara siang itu cukup terik, membuatku ingin segera tiba di rumah dan menyalakan kipas angin.
Lima belas menit kemudian, aku memarkirkan motorku di depan sebuah warung nasi padang langganan keluargaku yang letaknya tak jauh dari kompleks perumahan. Warung itu cukup ramai oleh para pekerja kantoran dan anak sekolah yang sedang mencari makan siang. Aku pun segera melangkah masuk dan ikut mengantri di barisan.
Namun, saat aku sedang berdiri mengantri dan melihat-lihat deretan lauk di etalase kaca, ekor mataku menangkap keberadaan seseorang yang wajahnya sama sekali tidak asing. Jantungku yang tadinya berdetak normal, tiba-tiba berdegup kencang. Tanganku mulai berkeringat dingin.
Orang itu adalah Bagas.
Ia adalah teman sekelasku semasa SMP dulu. Bukan teman dalam artian yang baik, melainkan seorang perundung (bully) yang sering kali menjadikanku sebagai target lelucon dan ejekannya. Bagas sering mengambil buku catatanku, menertawakan hobiku yang suka membaca, dan membuat masa SMP-ku terasa seperti mimpi buruk yang ingin segera kulupakan.
Aku mencoba menundukkan wajahku, berharap ia tidak menyadari kehadiranku di warung itu. Namun, nasib berkata lain. Bagas yang sedang duduk di salah satu meja sambil menunggu pesanannya dibungkus, menoleh dan pandangan kami saling berserobok.
Senyum sinis yang sangat kukenal itu langsung mengembang di wajahnya. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menghampiriku.
"Wah, wah, wah. Lihat siapa yang ada di sini. Roni si Kutu Buku yang pendiam," sapa Bagas dengan nada mengejek yang sangat kentara, sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh beberapa pelanggan lain.
"Bagaimana kabarmu, Cupu? Seragam barumu lumayan juga. Apa di SMA barumu kamu masih jadi pecundang yang suka menyendiri di pojokan kelas?"
Tubuhku membeku. Trauma masa lalu itu seakan kembali memutar kaset lama di kepalaku. Dulu, aku tidak pernah berani membalas ucapannya. Aku hanya akan diam dan menahan rasa malu. Namun, saat aku menunduk melihat seragam putih abu-abu yang kukenakan, sesuatu di dalam dadaku tiba-tiba bergejolak.
Aku teringat pada Aftar yang selalu mengajariku untuk tampil percaya diri. Aku teringat pada Shasya yang selalu menghargai pemikiranku. Aku bukan lagi Roni yang dulu. Aku sudah memiliki teman-teman yang menghargaiku apa adanya.
Aku menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa keberanianku, lalu mendongakkan kepala menatap lurus ke dalam mata Bagas.
"Kabarku sangat baik, Bagas," jawabku dengan suara yang tenang, tegas, dan sama sekali tidak bergetar.
"Dan asal kamu tahu, aku tidak pernah menjadi pecundang. Aku hanya terlalu lelah meladeni orang-orang yang mencari perhatian dengan cara merendahkan orang lain sepertimu."
Bagas terbelalak kaget. Ia jelas tidak menyangka akan mendapatkan perlawanan verbal dariku. Rahangnya mengeras, wajahnya memerah karena merasa diremehkan di tempat umum.
"Berani banget kamu ngomong begitu ke aku sekarang?!" geram Bagas sambil melangkah maju, tangannya mulai mengepal siap mencari masalah.
Tepat saat suasana semakin menegang dan Bagas hendak menarik kerah seragamku, sebuah suara perempuan yang lantang terdengar dari arah pintu masuk warung.
"Hei! Sedang apa kamu?!"
Aku menoleh. Betapa terkejutnya aku saat melihat Shasya dan Aftar berdiri di ambang pintu warung. Rupanya, mereka berdua mampir ke tempat ini untuk mencari makan siang setelah Aftar selesai nongkrong. Aftar langsung melangkah cepat, menempatkan tubuhnya yang jauh lebih tinggi dan tegap di antara aku dan Bagas.
"Ada masalah apa ini, Bro? Kenapa kamu ganggu teman kami?" tanya Aftar dengan tatapan tajam dan nada suara yang sangat dingin. Shasya ikut berdiri di sampingku, menatap Bagas dengan ekspresi penuh peringatan.
"Kalau kamu berani macam-macam, kami tidak akan segan-segan melaporkanmu!" ancam Shasya berani.
Melihat bahwa aku tidak lagi sendirian dan kini dibela oleh dua orang teman yang tampak tidak bisa diremehkan, nyali Bagas seketika menciut. Ia mendecak kesal, menurunkan kepalan tangannya, lalu segera mengambil bungkusan nasi padangnya yang sudah siap dari meja kasir.
"Cih, dasar pengecut. Cuma berani karena ada teman," gerutu Bagas sambil berjalan tergesa-gesa keluar dari warung, tanpa berani menatap ke arah kami lagi.
Aku menghela napas lega yang tiada tara. Bahuku yang tadinya menegang keras perlahan mengendur.
"Kamu nggak apa-apa, Ron? Dia siapa sih? Mantan musuhmu?" tanya Aftar sambil menepuk bahuku pelan, memastikan kondisiku baik-baik saja.
Aku tersenyum tulus, merasakan rasa hangat yang luar biasa mengalir di dadaku. "Iya, dia cuma orang dari masa laluku. Tapi sekarang aku benar-benar sudah tidak apa-apa. Terima kasih banyak ya, Tar, Sya. Kalian datang di waktu yang sangat tepat."
Shasya membalas senyumanku dengan sangat manis. "Santai aja, Ron. Itulah gunanya sahabat, kan? Kita harus saling melindungi."
Siang itu, setelah membeli nasi padang titipan ibu, aku mentraktir Aftar dan Shasya makan siang sebagai bentuk rasa terima kasih. Kami duduk bertiga di meja sudut warung, tertawa lepas menceritakan kejadian menegangkan tadi.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, angin siang yang menerpa wajahku terasa jauh lebih sejuk dari sebelumnya. Hari ini, aku tidak hanya memenangkan pertarungan melawan trauma masa laluku, tetapi aku juga menyadari satu hal yang sangat berharga.
Masa putih abu-abu ini benar-benar telah membuka lembaran baru dalam hidupku. Hari baru ini telah memberiku keberanian baru, dan yang terpenting, telah memberiku sahabat-sahabat sejati yang akan selalu melangkah bersamaku.
~ TAMAT ~








