BUKAN SEKADAR PUNCAK
Karya: Putra DK Maheswara
Berita Terkait
- BUKAN SEKADAR TEMAN0
- JEJAK KENANGAN DI BAWAH BAYANG ARJUNO0
- PERSAHABATAN DI TENGAH BISINGNYA JAKARTA 0
- PANDANGAN PERTAMA0
- SAHABAT SETIA SELAMANYA0
- LANGKAH KECIL DI JALAN BERLUMPUR 0
- AKHIR DARI SEBUAH PERJALANAN 0
- MALING!!!!!!!0
- AWAN DI ATAS PUNCAK 0
- DI ANTARA SENJA YANG BELAJAR BERTAHAN 0
Berita Populer
- Persiapan Asesmen Nasional Berbasis Komputer, Santri SPARTA Serius Menghadapi Simulasi ANBK
- Keberangkatan Kontingen Tapak Suci Sparta Menuju Kejurnas Airlangga National Open 2025
- Upacara HUT RI ke-80 di LPI Ar Rohmah Hidayatullah Malang
- SMP Ar Rohmah Gelar Lomba HUT RI ke-80 dengan Semangat Kebersamaan dan Prestasi
- Siap Terbang Tinggi, Tiga Santri Berjuang di Final Round KSN-R 7
- Raih Juara 3, Tim Futsal SPARTA Berjaya di Hidayatullah Festival Olahraga(HiFO) 2024 se Jatim
- SMP AR ROHMAH RAIH PRESTASI GEMILANG DI KEJURNAS TAPAK SUCI 2025
- Dua Santri Sparta Raih Juara KSNR di Tangerang Selatan
- Santri SMP Ar Rohmah Raih Medali Emas dan Perak di Ajang KSNR Tangerang Selatan
- Pawai Maulid Nabi dan Festival Cinta Rasul 2025 Semarak di Ar Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang
BUKAN SEKADAR PUNCAK
Karya: Putra DK Maheswara
Beni adalah seorang remaja berusia sembilan belas tahun yang kini telah menginjakkan kakinya di dunia perkuliahan. Pemuda yang selalu penuh semangat itu sedang menempuh pendidikannya di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terletak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Beni bisa berkuliah di kampus bergengsi tersebut karena ia berhasil diterima melalui jalur beasiswa berkat kecerdasannya. Namun, sebagai konsekuensi dari pencapaiannya itu, ia harus rela merantau dan berpisah dengan teman-teman masa kecilnya yang sudah ia anggap seperti saudara kandung sendiri.
Di kampung halamannya, Beni memiliki enam orang sahabat yang tak terpisahkan. Tiga di antaranya adalah sahabat laki-laki. Rian yang kini sibuk berkuliah di Fakultas Teknik Kimia Universitas Jember (UNEJ), Raden yang mendalami ilmu di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB), serta Jaka yang sedang berjuang di Fakultas Teknik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Selain mereka, ada pula tiga sahabat perempuannya yang tak kalah hebat: Dian yang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran UB, Lia yang berkuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UB, dan Hana, satu-satunya sahabat mereka yang memilih untuk langsung terjun ke dunia bisnis demi melanjutkan dan membesarkan usaha pabrik gula milik orang tuanya.
Ketujuh remaja ini telah berteman baik sejak mereka masih berseragam merah putih. Mereka tumbuh bersama, melewati masa pubertas yang canggung, dan saling mendukung hingga titik ini. Tepat pada bulan Desember yang tinggal menghitung hari mereka telah sepakat untuk mengadakan acara reuni persahabatan setelah terpisah oleh jarak dan kesibukan selama satu tahun penuh.
Hari ini, seperti biasa, Beni menjalani rutinitasnya sebagai anak kuliahan. Namun, ada sesuatu yang berbeda di dalam hatinya. Hari ini adalah tanggal 21 November, dan malam nanti mereka bertujuh akan mengadakan semacam perundingan melalui panggilan video untuk menentukan lokasi yang paling cocok sebagai tempat berkumpul minggu depan.
Saking antusiasnya menyambut pertemuan malam itu, pikiran Beni terus melayang ke mana-mana. Ia membayangkan betapa serunya perjumpaan mereka nanti, membayangkan tawa khas Rian, celotehan Hana, dan nasihat-nasihat bijak dari Dian. Khayalannya itu begitu nyata hingga ia sama sekali tidak mendengarkan penjelasan materi dari dosen yang sedang berdiri di depan kelas.
Sepulang dari kampus, Beni langsung bersiap di depan laptopnya. Tepat pukul tujuh malam, satu per satu wajah sahabatnya muncul di layar. Kerinduan seketika pecah dalam bentuk sapaan riuh dan tawa renyah.
"Woi, Beni! Semakin kurus saja kamu di Jogja, kurang makan gudeg ya?!" ledek Jaka membuka percakapan.
"Enak saja, ini namanya kurus ideal! Kalian sendiri bagaimana kabarnya? Sibuk praktikum terus ya?" balas Beni tertawa.
Setelah puas saling melepas rindu dan bertukar cerita tentang kehidupan kampus masing-masing, mereka mulai membahas inti pertemuan: lokasi reuni. Berbagai usulan bermunculan. Lia mengusulkan liburan santai di pantai, sementara Raden ingin menyewa vila di kawasan dataran tinggi. Namun, pada akhirnya, usulan Rian yang disetujui oleh semua orang.
"Bagaimana kalau kita mendaki gunung? Kita sudah lama tidak menantang diri kita sendiri di alam bebas. Mendaki gunung akan menguji kekompakan kita lagi setelah setahun tidak bertemu," usul Rian dengan mata berbinar.
Semua setuju. Persiapan pun dilakukan dengan matang. Mereka menyusun daftar logistik, menyewa peralatan mendaki, dan membagi tugas dengan sangat adil.
Satu minggu kemudian, hari yang dinanti-nantikan itu pun tiba. Mereka berkumpul di basecamp pendakian. Pelukan hangat, tepuk tangan, dan sorak-sorai mewarnai perjumpaan mereka di pelataran basecamp yang sejuk. Rasanya seolah-olah mereka tidak pernah berpisah sama sekali. Keakraban itu masih sangat kental, tanpa canggung sedikit pun.
Pendakian dimulai pada pagi hari saat kabut masih tipis menyelimuti pepohonan pinus. Di awal perjalanan, canda tawa terus mengiringi langkah mereka. Mereka bernyanyi, saling melontarkan lelucon masa SMA, dan sesekali berhenti untuk mengambil foto bersama dengan latar belakang pemandangan alam yang luar biasa indah. Formasi pendakian mereka sangat teratur. Jaka dan Rian berada di depan sebagai penunjuk jalan, sementara Beni dan Raden berada di posisi paling belakang untuk menjaga para perempuan yang berjalan di tengah.
Namun, gunung selalu memiliki cara tersendiri untuk menguji siapa pun yang menginjakkan kaki di atasnya. Memasuki siang hari, cuaca yang awalnya cerah mendadak berubah. Awan mendung pekat bergulung-gulung di atas kepala mereka, dan tak lama kemudian, hujan deras pun turun mengguyur lereng gunung.
Angin berhembus cukup kencang, membuat udara yang sudah dingin menjadi semakin menusuk hingga ke tulang. Mereka segera memakai jas hujan dan melanjutkan perjalanan dengan ekstra hati-hati, karena jalur tanah yang mereka lewati kini berubah menjadi kubangan lumpur yang sangat licin.
Di sinilah ujian terberat itu datang. Saat mereka sedang melewati sebuah jalur berbatu yang cukup curam dan sempit di dekat pos terakhir sebelum puncak, sebuah insiden mengerikan terjadi. Hana, yang saat itu berjalan agak terburu-buru karena kedinginan, tiba-tiba terpeleset saat menginjak sebuah batu berlumut.
"Aaaargh!" jerit Hana kehilangan keseimbangan.
Melihat sahabatnya terjatuh, Jaka yang berada tepat di depannya secara refleks melompat untuk menangkap tangan Hana. Namun nahas, pijakan Jaka sendiri tidak stabil. Tubuh Jaka ikut tertarik oleh berat tubuh Hana. Keduanya pun terperosok dan terguling jatuh sejauh beberapa meter ke semak-semak berbatu di sisi jalur pendakian.
"Hana! Jaka!" teriak Beni dan Raden bersamaan dengan panik.
Mereka berlima segera bergegas turun ke sisi tebing kecil itu untuk menolong. Suasana seketika berubah menjadi sangat menegangkan. Saat mereka berhasil menemukan Hana dan Jaka, kedua sahabat itu sedang merintih kesakitan.
Mereka berdua mendapatkan luka yang cukup parah. Lutut dan siku Hana robek berdarah tergores bebatuan tajam, sementara pergelangan kaki Jaka tampak membengkak parah akibat terkilir saat mencoba menahan jatuhnya Hana. Wajah keduanya pucat menahan rasa sakit di tengah guyuran hujan.
Tanpa membuang waktu, Dian yang merupakan mahasiswi kedokteran langsung mengambil alih situasi. Ia membongkar kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) dari dalam tasnya dengan cekatan.
"Tahan sebentar ya, Han, Jak. Ini aku mau obati dan bersihkan lukanya dulu biar tidak infeksi," ucap Dian dengan nada tenang khas seorang calon dokter, meskipun tangannya sedikit gemetar karena yang terluka adalah sahabatnya sendiri.
"Tahan sebentar ya, ini lukanya sudah mau selesai diobati," ucap Beni dan Raden yang ikut berjongkok membantu memegangi payung dan jas hujan agar air tidak terus-menerus membasahi luka Hana dan Jaka. Sementara itu, Lia dan Rian sibuk mendirikan flysheet darurat untuk tempat mereka berteduh sementara.
Setelah luka-luka itu dibersihkan dan dibalut perban, serta kaki Jaka dibidai seadanya, suasana menjadi hening sejenak. Hanya terdengar deru napas mereka dan suara rintik hujan yang mulai mereda. Beni menatap wajah pucat teman-temannya dengan perasaan bersalah. Sebagai salah satu penggagas ide ini, ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan mereka.
Beni menghela napas panjang. "Sudah, yuk. Habis ini kita balik turun saja ke basecamp. Tidak apa-apa tidak sampai puncak. Keselamatan kalian jauh lebih penting," ucap Beni yang berusaha menenangkan dan mengambil keputusan rasional.
Namun, respons yang ia dapatkan sungguh di luar dugaan. Hana menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Gak lah, Ben! Kita sudah sampai di sini, masa mau balik turun begitu saja?" protes Hana dengan suara bergetar namun penuh tekad.
Lia yang duduk di sebelah Hana menatap sahabatnya itu dengan khawatir. "Kamu ini... tidak apa-apa dengan luka begini mau melanjutkan perjalanan? Jangan memaksakan diri, Han," tanya Lia memastikan.
"Iya, aku tidak apa-apa, Ya. Aku masih kuat kok! Kita sudah merencanakan ini jauh-jauh hari," ucap Hana bersikeras.
Jaka yang sedang menyandarkan punggungnya pada sebatang pohon ikut mengangguk setuju, meskipun ia masih sesekali meringis kesakitan. "Kita masih tidak apa-apa kok, Ben. Kaki ini masih bisa dipakai jalan pelan-pelan asal dibantu. Jangan jadikan kami beban yang membatalkan mimpi kita untuk muncak bareng," jawab Jaka teguh.
Melihat kegigihan dan semangat pantang menyerah dari kedua sahabatnya itu, hati Beni terasa menghangat. Ia menatap Rian, Raden, Dian, dan Lia satu per satu. Mereka semua menganggukkan kepala, memberikan isyarat persetujuan tanpa perlu banyak kata.
"Yaudah lah, kalau memang kalian mau begitu. Tapi ingat, kita jalan pelan-pelan saja. Kita semua akan bergantian memapah Jaka dan membawakan tas Hana," ucap Beni untuk memutuskan langkah selanjutnya.
Akhirnya, dengan segala keterbatasan dan rasa sakit yang mendera, mereka kembali melanjutkan sisa perjalanan yang berat itu. Kali ini, tidak ada lagi langkah yang terburu-buru. Beni dan Rian bergantian merangkul bahu Jaka, sementara Dian dan Lia memapah Hana dengan sangat hati-hati.
Setiap kali ada yang merasa lelah, mereka akan berhenti sejenak, saling menyemangati, dan berbagi sisa air minum. Rintangan fisik itu seolah mencair di hadapan tekad persaudaraan mereka yang begitu kuat.
Setelah perjuangan keras selama hampir dua jam menaklukkan tanjakan terakhir yang menyiksa, kaki mereka akhirnya menjejak di tanah datar. Kabut tebal perlahan tersibak oleh angin, menampakkan hamparan lautan awan yang sangat memesona di bawah sana, diterangi oleh semburat cahaya mentari pagi. Mereka telah sampai di puncak.
Setibanya di puncak gunung tersebut, mereka semua terharu dan nyaris menitikkan air mata. Mereka tak menyangka bahwa mereka benar-benar bisa berdiri di titik tertinggi ini bersama-sama, melewati badai dan rintangan yang menyakitkan.
Di atas puncak itu, mereka saling berpelukan erat. Segala rasa sakit, lelah, dan hawa dingin seketika menguap tak berbekas. Mereka merayakan keberhasilan itu dengan berfoto bersama, berbincang hangat, dan tertawa lepas bersama dengan para pendaki lain yang juga baru saja sampai.
Dua tahun telah berlalu sejak pendakian bersejarah yang penuh dengan air mata dan perjuangan tersebut. Kini, saat mereka kembali mengadakan reuni di sebuah kafe yang hangat di pusat kota, memori tentang gunung itu kembali menyeruak dalam perbincangan mereka.
"Akhirnya kita menyadari bahwa ikatan persaudaraan memang dapat mengalahkan segalanya, ya," ucap Beni sambil tertawa kecil, kembali mengingat kejadian tragis nan membanggakan itu.
"Gak kerasa ya, pendakian yang bikin aku sampai pincang berhari-hari itu ternyata sudah dua tahun yang lalu," gumam Jaka yang langsung disambut oleh tawa renyah dari seluruh sahabatnya.
Beni menatap wajah satu per satu sahabat-sahabatnya itu dengan perasaan syukur yang teramat dalam. Pengalaman hari itu memberinya sebuah pelajaran hidup yang tak ternilai harganya.
Sahabat yang sesungguhnya adalah orang-orang yang senantiasa menemani kita dari dulu, tanpa perlu melihat status pendidikan, kekayaan, atau posisi kita saat ini. Karena sahabat sejati bagaikan memiliki ikatan batin tersendiri yang terlalu magis dan kompleks untuk dapat dijelaskan hanya melalui lisan maupun kata-kata.
Bagi mereka sendiri, kata 'sahabat' terdengar sangat dekat, nyata, dan abadi. Sebuah ikatan persaudaraan yang tak akan pernah bisa diputus oleh jarak, waktu, maupun rintangan sedahsyat apa pun.
~ TAMAT ~




